Menu
UGM Kembangkan Aplikasi Informasi Pengungsi Korban Bencana

UGM Kembangkan Aplikasi Informasi P…

Sleman-KoPi | Pusat Studi...

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pendeteksi dini bencana longsor bernama SIPENDIL.

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pend…

Sleman-KoPi | Tim penelit...

Bagaimana menjaga pola makan yang baik dan benar selama bulan Puasa.

Bagaimana menjaga pola makan yang b…

Inggris-KoPi| Inilah saat...

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap gunakan Narkoba.

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap…

Sleman-KoPi| Direktorat R...

Korut tunda pertemuan KTT bersama Korea Selatan.

Korut tunda pertemuan KTT bersama K…

Pyongyang-KoPi | Korea ut...

Protes Keras Tanoni :Australia Bebaskan Nelayan Yang Ditangkap.

Protes Keras Tanoni :Australia Beba…

Kupang-KoPi | Pemerintah ...

Jelang Puasa, Stok Barang Kebutuhan Pokok di Jatim Dipastikan Aman

Jelang Puasa, Stok Barang Kebutuhan…

Surabaya-KoPi|Menjelang b...

Pemerintah Bantul Siap Dukung Kontes Robot Indonesia di UMY

Pemerintah Bantul Siap Dukung Konte…

Sleman-KoPi| Menjelang pe...

Tahun Politik, Akun Buzzer di Media Sosial Bermunculan

Tahun Politik, Akun Buzzer di Media…

Sleman-KoPi| Menjelang pi...

Prev Next

Pentingnya sarapan yang kaya protein

foxnews.com foxnews.com

Missouri-KoPi- Ada bukti baru bahwa pelaku diet tidak boleh melewatkan sarapan. Terlebih jika sarapan tersebut mengandung banyak protein. Melewatkan sarapan telah lama dikaitkan dengan kelebihan berat badan, meskipun para ilmuwan belum mengetahui hubungan antara keduanya.

Tetapi para peneliti di Universitas Missouri melaporkan bahwa sarapan dengan makanan yang memiliki kadar protein yang tinggi sangat efektif untuk mengurangi keinginan makan dan meningkatkan dopamin, sebuah zat kimia dalam otak yang membuat perasaan senang.

Untuk mengetahui peran sarapan yang kaya protein dalam memproduksi dopamin, para ilmuwan merekrut 16 relawan perempuan yang memiliki kelebihan berat badan atau obesitas, semuanya berusia sekitar 19 tahun dan biasa melewatkan sarapan. Setiap minggu, peserta secara acak ditugaskan untuk menjalankan salah satu dari tiga pola sarapan: tidak berprotein, normal, dan tinggi protein.

Sarapan tersebut memiliki kadar kalori yang sama yaitu sekitar 350 kalori. Sarapan yang normal mengandung 13 gram protein dan versi "tinggi" mengandung 35 gram protein. Setelah beberapa minggu, para peserta disurvei kembali untuk megetahui keinginan makan mereka dan diuji untuk kadar dopamin yang dihasilkan. Heather Leidy, salah satu ilmuwan mengatakan “Dibandingkan dengan sarapan normal, makanan yang tinggi protein dapat menurunkan keinginan untuk makan sebnyak 34 kali dan 15 kali lebih banyak dalam menghasilkan produksi dopmin”.foxnews.com Ι Linatul Malihah Ι Irfan Ridlowi

 

back to top