Menu
Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Doa bersama Memperingati Hari Kesaktian Pancasila di Masjid Al-Jihad Akmil Magelang

Doa bersama Memperingati Hari Kesak…

KoPi-Lembah Tidar. Minggu...

Prev Next

Pentas Teater Kolosal Terbesar 2015, Rebutan Cupu Manik Hasthagina

Pentas Teater Kolosal Terbesar 2015, Rebutan Cupu Manik Hasthagina

Jogjakarta-KoPi| Dinas Kebudayaan DIY melalui seksi Rekayasa 2015 akan meyelenggarakan pementasan "Teater Kolosal Cupu Manik Hasthagina" di lapangan Paseban Bantul. Acara akan berlangsung 24 Oktober 2015. 250 pelaku seni yang berasal dari komunitas teater, mahasiswa, dan pelajar akan terlibat dalam pertunjukan itu.

Cerita diadopsi dari kisah pewayangan dan dikontekskan dengan situasi zaman. Rebutan Cupu Manik Hasthagina bercerita tentang perjuangan manusia dalam mengahdapi pelbagai persoalan hidup yang kerap menjerusmuskan manusia dan membuat orang lupa akan hakekat sebagai manusia. Manusia yang terjerumus membuatnya lebih rendah dari seekor binatang.

Naskah teater ini ditulis oleh tim seperti Imam Budi Santosa, Anes Prasetya, S. Arimba dan Tri Wahyudi.

“Naskah diselesaikan sekitar satu bulan. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Indonesia dan beberapa bahasa Jawa. Untuk istilah tertentu, juga menggunakan bahasa wayang. Melalui tokoh utama Sugriwa, pesan yang ingin disampaikan adalah, sebagai manusia jangan memiliki sifat angkara murka dalam diri,” tutur Anes Prasetya.

Sementara Ahmad Hasfi Asmaralaya, sutradara dalam pementasan ini mengatakan telah berupaya sekuat tenaga agar pementasan ini menjadi pementasan yang istimewa dengan melibatkan teknisk multimedia.

Acara ini dijamin akan menjadi tontonan yang menarik bagi masyarakat Yogyakarta dan tentu saja karena gratis.

back to top