Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

Pentas Teater Kolosal Terbesar 2015, Rebutan Cupu Manik Hasthagina

Pentas Teater Kolosal Terbesar 2015, Rebutan Cupu Manik Hasthagina

Jogjakarta-KoPi| Dinas Kebudayaan DIY melalui seksi Rekayasa 2015 akan meyelenggarakan pementasan "Teater Kolosal Cupu Manik Hasthagina" di lapangan Paseban Bantul. Acara akan berlangsung 24 Oktober 2015. 250 pelaku seni yang berasal dari komunitas teater, mahasiswa, dan pelajar akan terlibat dalam pertunjukan itu.

Cerita diadopsi dari kisah pewayangan dan dikontekskan dengan situasi zaman. Rebutan Cupu Manik Hasthagina bercerita tentang perjuangan manusia dalam mengahdapi pelbagai persoalan hidup yang kerap menjerusmuskan manusia dan membuat orang lupa akan hakekat sebagai manusia. Manusia yang terjerumus membuatnya lebih rendah dari seekor binatang.

Naskah teater ini ditulis oleh tim seperti Imam Budi Santosa, Anes Prasetya, S. Arimba dan Tri Wahyudi.

“Naskah diselesaikan sekitar satu bulan. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Indonesia dan beberapa bahasa Jawa. Untuk istilah tertentu, juga menggunakan bahasa wayang. Melalui tokoh utama Sugriwa, pesan yang ingin disampaikan adalah, sebagai manusia jangan memiliki sifat angkara murka dalam diri,” tutur Anes Prasetya.

Sementara Ahmad Hasfi Asmaralaya, sutradara dalam pementasan ini mengatakan telah berupaya sekuat tenaga agar pementasan ini menjadi pementasan yang istimewa dengan melibatkan teknisk multimedia.

Acara ini dijamin akan menjadi tontonan yang menarik bagi masyarakat Yogyakarta dan tentu saja karena gratis.

back to top