Menu
Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Empati dan Duka Cita AS kepada Korban dan Dampak Terorisme di Jatim

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Emp…

Jatim-KoPi| Gubernur Jati...

Pemerintah Bangun Industri Digital untuk Kurangi Kesenjangan Ekonomi

Pemerintah Bangun Industri Digital …

Sleman-KoPi| Pemerintah s...

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan Strategi Jatim Songsong Bonus Demografi  2019

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan …

Jatim-KoPi| Berbagai lang...

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Adanya Gejala Erupsi Seperti di Tahun 2010 dan 2006.

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Ad…

Jogja-KoPi| Balai Pen...

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana dan Diploma

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana d…

Sleman-KoPi| Universitas ...

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpangan Distribusi Gula Rafinasi

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpang…

Sleman-KoPi| Pasar gula d...

Gerakan Filantropi Islam Sebagai Deradikalisasi

Gerakan Filantropi Islam Sebagai De…

Sleman-KoPi| Dewasa ini, ...

Pakde Karwo: Kunci Perjuangan adalah Persatuan dan Kesatuan

Pakde Karwo: Kunci Perjuangan adala…

Jatim-KoPi| Salah satu ku...

Jaminan Kemerdekaan Kekuasaan Kehakiman Masih Berpusat Pada Institusi Bukan Hakim Secara Personal

Jaminan Kemerdekaan Kekuasaan Kehak…

Sleman-KoPi|Kemerdekaan k...

Prev Next

Peneliti temukan mekanisme otak pecandu kokain

Peneliti temukan mekanisme otak pecandu kokain

KoPi│Peneliti telah menemukan jaringan dalam otak yang menghubungkan impuls dengan kebiasaan. Jaringan ini kemungkinan dapat menjelaskan alasan mengapa seseorang sulit mengendalikan diri saat kecanduan kokain.

Penelitian sebelumnya telah menunjukan secara jelas mengenai kokain yang mengubah korteks profental dan amigdala basolateral di otak, yang memiliki kaitan dengan hubungan antara stymulus dan emosi.

Amigdala basolateral menyimpan kenangan menyenangkan terkait kokain, namun korteks prefrontal memanipulasi informasi ini, membantu seseorang menimbang-menimbang untuk menggunakan kokain atau tidak. Apabila seseorang kecanduan kokain maka akan mengaktifkan mekanisme di striatum dorsal, yang memiliki peranan penting dalam kebiasaan hidup seseorang.

Peneliti dapat mengidentifikasi jaringan dalam otak yang tidak langsung menghubungkan amigdala basolateral dengan striatum dorsolateral. Hal ini diperoleh dari mempelajari otak tikus yang mengalami kecanduan kokain.
"Ini artinya seseorang yang kecanduan tidak akan menyadari keinginannya untuk mengkonsumsi kokain,"kata para peneliti.

Sehingga hal ini membuktikan bahwa anggapan kecanduan yang disebabkan oleh kegagalan pengendalian diri, tidak selamanya terjadi. Menurut Dr. David Belin dari Universitas Cambridge, "Kecanduan kokaian dilihat sebagai gangguan kejiwaan, dengan perawatan seperti terapi perilaku kognitif yang berfokus pada pemulihan kemampuan korteks profental untuk mengontrol penggunaan narkoba yang menyebabkan maladaptif."

"Namun kami telah membuktikan bahwa korteks profental tidak selalu menyadari apa yang terjadi, sehingga perawatan ini tidak selamanya efektif,"kata Belin.

Dalam penellitian kedua yang diterbitkan dalam jurnal Biological Psychiatry, Dr. Belin dan teman-temannya menunjukkan bahwa obat yang digunakan untuk mengobati overdosis parasaetamol mungkin dapat membantu seseorang yang kecanduan kokain dalam mengatasi kecanduan mereka, asalkan mereka ingin berhenti.

Menurut penelitian ini obat N-acetylcysteine yang mencegah kekambuhan dalam penelitian tikus tidak berhasil dalam mengatasi kecanduan dalam uji klinis manusia. Walaupun, dapat membuat seorang pecandu yang berusaha menjauhkan diri dari kokain untuk sementara waktu dapat berhenti menggunakan kokain dan, menahan untuk tidak mengkonsumsi kokain. Xinhuanet│Frenda Yentin

back to top