Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

Pengungsi Kobani mungkin tidak bisa pulang, mereka terlantar

Pengungsi Kobani mungkin tidak bisa pulang, mereka terlantar
Turki-KoPi- 180.000 orang telah melarikan diri ke Turki tanpa uang atau identitas dokumen untuk mendapatkan pekerjaan karena mereka berusaha menghindari kekerasan ISIS. 

Hampir satu bulan pertempuran di kota Kobani tempat kelompok kurdi Suriah bertempat tinggal. Ratusan ribu warga sipil yang melarikan diri sekarang menghadapi realitas, mereka mungkin tidak pernah bisa kembali ke rumah mereka. 

Di kota Suruc Turki yang hanya beberapa kilometer dari perbatasan Suriah merupakan tempat para pengungsi bermukim, akan tetapi tidak ada rumah sakit darurat  yang siap untuk menghadapi kebutuhan para pengungsi. 

Para pengungsi tidak punya uang untuk meninggalkan Suruc dan bahkan sekarang mereka berjuang menemukan apa yang mereka butuhkan untuk bertahan hidup di tanah asing. Pengungsi wanita tua muda dan anak-anak hanya bisa duduk di trotoar menunggu dengan cemas bantuan segera datang.

Irfan Ridlowi

Sumber: news.sky.com

 

 

 

 

back to top