Menu
Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR Hemas Tekankan Penggunaan Teknologi dengan Bijak

Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR…

Jogj-KoPi| Universitas At...

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabatan Bagi 2.065 CPNS 2018

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabat…

Surabaya-KoPi| Pemerintah...

UGM dan Twente University Teliti Kandungan Panas Bumi di Bajawa NTT

UGM dan Twente University Teliti Ka…

Flores-KoPi| Peneliti UGM...

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V Pajero Indonesia ONE di Surabaya

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V P…

Surabaya-KoPi| Dalam rang...

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswedan Tekankan Nilai Integritas

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswe…

Jogja-KoPi| Fakultas Huku...

Pakde Karwo: Antara Operator dan Regulator Transportasi Tidak Bisa Dipisahkan

Pakde Karwo: Antara Operator dan Re…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres dan Cawapres

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres …

Lembah Tidar-KoPi| Senin ...

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu melaksanakan Out Bound

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu mela…

Lembah Tidar-KoPi| Minggu...

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program Kampus Sehat dan Bebas Asap Rokok

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program …

Jogja-KoPi| Departemen Te...

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalitas Kayu

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalita…

Bantul-KoPi| Tim Pengabdi...

Prev Next

Penguatan regulasi konsumsi susu oleh pemerintah sangatlah aneh.

Jogja-KoPi| Pemerintah memiliki rencana untuk mengeluarkan gagasan penguatan regulasi program konsumsi susu demi mencapai perbaikin gizi yang apik bagi Indonesia di waktu mendatang. Namun demikian, arah gagasan dan kebijakan ini dirasa sangat aneh serta hanya menguntungkan satu pihak saja.
 
Dokter Dini Adityarini, dr, SpA, pegiat pendidikan kesehatan anak dan ASI mengatakan bahwa gagasan perbaikan gizi khususnya pada anak dengan memberi susu formula, dirasanya sangat tidak sesuai. Pasalnya, selain pemberian susu formula tidak memberikan manfaat bagi tumbuh kembang balita, pemberian susu ini hanya memberikan keuntungan kepada produsen. 
 
"Regulasi yang dibentuk oleh pemerintah terkait konsumsi susu ini justru tidak berguna. Hal ini justru memberikan keuntungan bagi produsen susu formula. Bahkan mungkin terkesan bahwa regulasi ini dibuat oleh sang produsen. Penguatan regulasi program itu aneh,"ujarnya via sambungan telepon, ditulis Jumat (27/4).
 
Tak hanya itu, gagasan peningkatan konsumsi susu juga dirasa kontra dengan slogan gerakan masyarakat sehat (GERMAS). Isi GERMAS ini salah satunya pemerintah ingin mengoptimalkan pola hidup dan penyediaaan pangan sehat untuk mempercepat perbaikan gizi keluarga Indonesia seperti melalui pemberian ASI ekskluif dilanjutkan hingga 2 tahun atau lebih, asupan makana pendamping (MPASI) yang kuat dan menuju seimbang untuk santapan keluarga. 
 
Tak hanya itu, Resolusi world health assambly (WHA)no 69 tahun 2016 juga telah menyerukan penghentian promosi berlebihan produk pangan untuk bayi usia 0-36 bulan demi menjamin keberlangsungan pemberian ASI hingga 2 tahun atau lebih.

Dokter dini pun menyarankan, langkah yang seharusnya diambil pemerintah saat ini adalah penguatan tenaga medis di rumah sakit serta penyadaran bahwa pentingnya pemberian ASI ketimbang pemberian susu buatan pabrik (formula) kepada balita. 

Dokter dini mengilustrasikan seperti dalam suatu kasus disebuah rumah sakit yang memisahkan bayi baru lahir dengan ibunya lewat berbagai alasan. Ini perlu disadarkan bahwa ini tidak boleh dilakukan karena anak yang baru lahir harus secara alamiah mencari puting ibu untuk mendapatkan ASI-nya. Dikhawatirkan karena ibu tidak bisa mendampingi, ibu tidak memberikan ASI-nya. 

"Nah disitulah muncul kekhawatiran saat dipisah, anak justru diberikan susu formula bukan ASI. Baik itu tenaga kesehatan medis dan Ibu perlu diberikan kesadaran pentingnya ASI dan tidak boleh ada pemberian susu formula pada bayi baru lahir. Bahkan susu formula ini diberikan pada usia balita lanjut, bukan pada usia dini seperti 0-3 tahun," jelasnya.

Kembali, Dokter Dini juga menegaskan jika pihaknya bersama pegiat pendidikan anak dan ASI lainnya tak mempermasalahkan kampanye gizi lainnya seperti telur, beras, dan lainnya. Namun jika berkaitan dengan kampanye susu, hal ini justru menimbulkan kecurigaan kemungkinan kampanye gizi tersebut adalah kedok dari produsen susu formula untuk mempromosikan produknya. 

"Jika Jokowi datang memberikan atau membagikan telur itu tak masalah, namun jika memberikan dan membagikan susu jelas artinya seperti mempromosikan produsennya. Itu menjadi permasalahan bagi kami,"imbuhnya.

Terakhir, ia pun menghimbau bahwa kebijakan pemberian gizi lewat susu sebaiknya tidak dilakukan secara berlebihan. Hal yang paling penting adalah pemenuhan gizi berimbang dan tidak sampai bergantung pada konsumsi susu formula.

back to top