Menu
Bupati dan Walikota Harus Mengacu dengan Visi Misi Presiden

Bupati dan Walikota Harus Mengacu d…

Surabaya-KoPi| Bupati dan...

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis Soprema 2018 untuk Sociopreneur Muda dari 16 Provinsi Indonesia

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis S…

Jogja-KoPi| Rangkaian gel...

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi Bisa Dilatih

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi …

Jogja-KoPi| Pakar Manajem...

Raih Doktor Usai Meneliti Transformasi Budaya Organisasi Perguruan Tinggi

Raih Doktor Usai Meneliti Transform…

Jogja-KoPi| Transformasi ...

Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR Hemas Tekankan Penggunaan Teknologi dengan Bijak

Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR…

Jogj-KoPi| Universitas At...

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabatan Bagi 2.065 CPNS 2018

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabat…

Surabaya-KoPi| Pemerintah...

UGM dan Twente University Teliti Kandungan Panas Bumi di Bajawa NTT

UGM dan Twente University Teliti Ka…

Flores-KoPi| Peneliti UGM...

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V Pajero Indonesia ONE di Surabaya

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V P…

Surabaya-KoPi| Dalam rang...

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswedan Tekankan Nilai Integritas

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswe…

Jogja-KoPi| Fakultas Huku...

Prev Next

Pengembang hancurkan ikatan tradisi dan penghidupan kami

Waduk Sakti Sepat setelah ditimbun material oleh pihak pengembang. Warga tidak bisa mengakses mushola karena berada di area waduk Waduk Sakti Sepat setelah ditimbun material oleh pihak pengembang. Warga tidak bisa mengakses mushola karena berada di area waduk
Surabaya – KoPi | Sebenarnya permasalahan Waduk Sakti Sepat sudah berlangsung sejak 2008, lama sebelum bentrok dengan polisi pada Selasa lalu. Tukar guling antara Pemerintah Kota Surabaya dengan PT Ciputra Surya yang terjadi pada 2008 menjadi persoalannya. Warga merasa tidak dilibatkan dalam proses negosiasi, dan entah bagaimana PT Ciputra sudah mengantongi Sertifikat Hak Guna Bangunan atas tanah tersebut.
 

Warga tidak menginginkan pengembang masuk ke kawasan tersebut karena khawatir waduk akan dialihfungsikan menjadi perumahan. Bila itu sampai terjadi, bukan hanya ancaman banjir saja yang datang. Kelangsungan hidup masyarakat di sekitar waduk juga terancam. Hingga saat ini masih ada beberapa warga yang menggantungkan hidup mereka dengan bercocok tanam di sekitar waduk. Beberapa warga juga mendirikan warung di sekitar waduk sebagai sumber penghidupan. Selain itu warga Sepat mengeluh tidak bisa lagi mengakses mushola, karena mushola berada di kawasan waduk. 

“Dengan penutupan waduk ini, artinya Ciputra membunuh kami secara pelan-pelan. Jika sampai waduk itu jadi kawasan rumah mewah, kami pasti lama-lama akan terusir,” tukas Darno, salah seorang warga Kelurahan Sepat.

Yang membuat warga kesal adalah kata-kata yang tercantum dalam sertifikat milik PT Ciputra. Di sertifikat tersebut tertulis tanah tersebut merupakan ‘bekas waduk’ dan ‘pekarangan’, padahal waduk itu masih berfungsi. “Airnya masih penuh dan ikan-ikan di dalamnya masih ada ribuan ekor,” tukas Darno.

Perwakilan PT Ciputra berjanji bahwa waduk tersebut tidak akan dialihfungsikan menjadi perumahan. Namun tampaknya warga tidak mempercayai janji tersebut. Awalnya ada tiga kampung yang memiliki waduk, yaitu Jeruk, Sepat, dan Lidah Kulon. Namun Waduk Jeruk sudah diambilalih oleh Ciputra sejak lama, dan saat ini giliran waduk Sepat yang diincar. 

Warga mengatakan sebelumnya pihak Ciputra juga menggasak lahan waduk Jeruk dan berjanji tidak akan mengalihfungsikannya menjadi hunian. Namun sekarang kawasan waduk itu telah berubah menjadi perumahan. Dengan demikian hanya tersisa waduk Lidah Kulon yang masih beroperasi untuk menampung air hujan.

“Kami diberi tawaran waduk akan tetap dibiarkan seperti semula, dengan luas tidak sampai 1 hektar. Tentu kami tolak, wong dengan luas asli waduk 6,75 hektar saja masih ada genangan. Pokoknya kami meminta waduk tersebut diakui sebagai fasilitas umum dan tidak diutak-atik,” tegas Darno.

Setelah bentrok, pihak pengembang dan kepolisian mengancam warga untuk tidak mendekati area waduk. Bahkan polisi sudah mengatakan jika ada warga yang menyentuh pagar penutup area waduk sudah dapat dikenai pasal pelanggaran.

Berdasarkan pengamatan KoPi, lokasi waduk Sakti Sepat sudah ditutup oleh pihak pengembang. Kawasan tersebut dikelilingi penutup beton sehingga warga tidak bisa melihat apa yang terjadi di baliknya. Namun berdasarkan keterangan anak-anak kampung Sepat yang mengintip ke balik tembok, ada polisi dan pekerja bangunan yang sibuk dengan alat-alat berat.

 

back to top