Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Pengamat Politik Unair: Demokrat menjadi balancing power

Fahrul Muzaqqi, SIP, MI.P Fahrul Muzaqqi, SIP, MI.P
Surabaya-Kopi. Partai Demokrat menyatakan tetap berada dalam barisan koalisasi merah putih. Sebagaimana Max Spacua siarkan kepada pers hari Minggu lalu (3/8/14). Terkait hal ini, KoPi melakukan wawancara singkat dengan pengamat politik dari Universitas Airlangga (Unair), Fahrul Muzaqqi, SI.P., MI.P (FM).
 

KoPi: Apa tanggapan Anda tentang kemungkinan Demokrat sebagai oposisi pemerintahan Jokowi-JK?

FM: Saya pikir secara politik justru agak kurang menguntungkan bagi Demokrat karena setidaknya sudah dua periode partai ini yang menjadi pengendali pemerintahan. Dari situ perjalanan visi-misi yang dijalankan oleh SBY maupun Demokrat sendiri sudah relatif banyak sehingga lebih bermanfaat untuk keberlanjutan visi, misi dan program apabila Demokrat merapat pula ke PDIP utk meneruskan itu.

KoPi: Bukankah Demokrat perlu konsisten dan demokrasi membutuhkan oposisi?

FM: Iya, tentu perlu dimaklumi juga bahwa dalam demokrasi oposisi yang sehat juga diperlukan. Di sini Demokrat bisa memainkan peran sebagai balancing power dalam lingkaran partai-partai oposisi.

KoPi: Apakah Demokrat bisa menjadi oposan yang tidak sekedar asal berbeda?

FM: Melihat selama ini track record Demokrat sebagai partai sangat berhati-hati dalam mengambil langkah-langkah politis, memang perlu menjadi kekuatan oposisi yang konstruktif. Apabila melihat komposisi partai-partai di sekitar Gerindra, Demokrat merupakan satu-satunya partai yang relatif lebih hati-hati dan kepala dingin. (*)

Irfan

back to top