Menu
Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Prev Next

Penemuan sinyal MH370, bisa dikatakan bohongan

Kapten Zaharie Shah and Fariq Hamid, orang yang paling tahu tentang MH370 Kapten Zaharie Shah and Fariq Hamid, orang yang paling tahu tentang MH370

Australia-KoPi, Para peneliti menyatakan bahwa pencarian MH370 “gagal” dan mengatakan bahwa Perdana Menteri Australia bermain politik ketika dia lebih awal mengumumkan tentang penemuan sinyal dari kotak hitam MH370.

Para peneliti tentang akustik (sinyal), yang tidak mau disebutkan namanya, mengatakan bahwa sinyal signifikan yang dideteksi oleh mesin pencari sinyal AS sama sekali bukan dari sinyal pesawat Malaysia yang hilang, tapi dari sumber lain yang dibuat oleh seseorang.

Mereka bersikeras menyatakan bahwa sinyal-sinyal tersebut ada pada frekuensi yang salah dan terdeteksi terlalu jauh dari kotak hitam tersebut.

“Dengan segera saya telah melihat frekuensi dan jarak antara sinyal-sinyal yang terdeteksi, saya paham jika itu bukan dari sinyal pesawat,” salah satu peneliti mengatakan pada News Corp Australia.

Kesimpulan tersebut didukung oleh kurangnya keberhasilan dalam pencarian yang mendetail dari area yang menunjukkan sinyal sebagaimana telah dilakukan oleh kapal selam AS “Bluein 21”.

(Fahrurrazi)
Sumber: News.com.au

back to top