Menu
Mendesa RI bersama Rektor UGM melepas 5.992 Peserta KKN PPM 2018 ke 34 Provinsi.

Mendesa RI bersama Rektor UGM melep…

 Sleman-KoPi| Rektor UG...

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata Pantai Selatan

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata…

Jogja-KoPi| Tim Search An...

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yaman berdampak ke Bencana Kemanusiaan yang Lebih Besar

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yama…

Yaman-KoPi| Persatuan Ban...

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cenderung Turun.

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cen…

Sleman-KoPi| Memasuki per...

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Cangkang Udang Menjadi Closet Sanitizer Berbahan 100% non Alkohol.

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Can…

Sleman-KoPi| Lima Mahasis...

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunung Merapi tidak di tutup Tapi kalau naik Gunung harap Waspada

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunu…

Sleman-KoPi| Gubernur Dae...

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Berfokus Pada 4 Potensi Kerawanan saat Lebaran.

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Ber…

Sleman-KoPi| Kepolisian D...

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Menghabiskan Malam di  Hotel Berbintang Ketimbang di Hotel Melati.

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Meng…

Bantul-KoPi| Badan Pusat ...

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelaran Pertemuan Dengan Kim Jong.

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelar…

Washington-KoPi| Presid...

Prev Next

Penemuan sinyal MH370, bisa dikatakan bohongan

Kapten Zaharie Shah and Fariq Hamid, orang yang paling tahu tentang MH370 Kapten Zaharie Shah and Fariq Hamid, orang yang paling tahu tentang MH370

Australia-KoPi, Para peneliti menyatakan bahwa pencarian MH370 “gagal” dan mengatakan bahwa Perdana Menteri Australia bermain politik ketika dia lebih awal mengumumkan tentang penemuan sinyal dari kotak hitam MH370.

Para peneliti tentang akustik (sinyal), yang tidak mau disebutkan namanya, mengatakan bahwa sinyal signifikan yang dideteksi oleh mesin pencari sinyal AS sama sekali bukan dari sinyal pesawat Malaysia yang hilang, tapi dari sumber lain yang dibuat oleh seseorang.

Mereka bersikeras menyatakan bahwa sinyal-sinyal tersebut ada pada frekuensi yang salah dan terdeteksi terlalu jauh dari kotak hitam tersebut.

“Dengan segera saya telah melihat frekuensi dan jarak antara sinyal-sinyal yang terdeteksi, saya paham jika itu bukan dari sinyal pesawat,” salah satu peneliti mengatakan pada News Corp Australia.

Kesimpulan tersebut didukung oleh kurangnya keberhasilan dalam pencarian yang mendetail dari area yang menunjukkan sinyal sebagaimana telah dilakukan oleh kapal selam AS “Bluein 21”.

(Fahrurrazi)
Sumber: News.com.au

back to top