Menu
Pakde Karwo: Antara Operator dan Regulator Transportasi Tidak Bisa Dipisahkan

Pakde Karwo: Antara Operator dan Re…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres dan Cawapres

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres …

Lembah Tidar-KoPi| Senin ...

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu melaksanakan Out Bound

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu mela…

Lembah Tidar-KoPi| Minggu...

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program Kampus Sehat dan Bebas Asap Rokok

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program …

Jogja-KoPi| Departemen Te...

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalitas Kayu

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalita…

Bantul-KoPi| Tim Pengabdi...

Pakar UGM Ajak Masyarakat Memanen Air Hujan

Pakar UGM Ajak Masyarakat Memanen A…

Jogja-KoPi| Pakar Hidrolo...

BKP: Indonesia Fokus Pada Peningkatan Kompetitifitas Produk Agrikultur

BKP: Indonesia Fokus Pada Peningkat…

Bantul-KoPI|Pada tahun 20...

UNIVERSITAS MENYAMBUT R.I KEEMPAT

UNIVERSITAS MENYAMBUT R.I KEEMPAT

Oleh Moh. Mudzakkir(Dosen...

Pakde Karwo : 2/3 Perguruan Tinggi Swasta Sumbangkan Kaum Intelektual di Jatim

Pakde Karwo : 2/3 Perguruan Tinggi …

Surabaya-KoPi| Sebanyak 2...

Pengungsi Korban Gempa di Gumantar Banyak Terserang Ispa

Pengungsi Korban Gempa di Gumantar …

Lombok-KoPi| Sebanyak 30 ...

Prev Next

Peneliti: "Ini 2 resep Indonesia hadapi MEA"

Peneliti: "Ini 2 resep Indonesia hadapi MEA"

Jogjakarta-KoPi| Peneliti Studi Ekonomi Kerakyatan UGM, Dr. Dumairy menjelaskan dua resep menghadapi MEA 2016 yakni sosialisasi yang komprehensif hingga tingkat bawah dan sikap mencintai produk Indonesia.

Selama ini sosialisasi masih terbatas kalangan pemerintah, politisi atas dan akademisi. Sementara penjabaran konsep sangat samar diterjemahkan oleh masyarakat bawah.

“Jangankan pedagang pasar, pengusaha saja belum tahu secara tuntas tentang MEA. Bisa saja cuma dengar temannya,” papar Dr. Dumairy saat ditemui di kantor PSEK UGM pada tanggal 6 Januari 2016.

Dr. Dumairy menambahkan produk unggulan Indonesia untuk menghadapi MEA berupa produk hasil pabrikan, seperti sepatu, fashion, elektronik dan furniture. Banyak merk-merk Indonesia yang diakui oleh dunia.

Dari segi kualitas Dr. Dumairy meyakini Indonesia memilki keunggulan. Namun dari segi harga masih meragukan. Pasalnya, cost produksi barang di Indonesia mahal.

Terutama cost di luar produksi barang membebani pedagang. Seperti cost untuk membuat sertifikat halal produk.

“Barangnya sudah halal, mengurus sertifikatnya susah,” jelas Dr. Dumairy.

Sehingga pemerintah perlu membebaskan produk dari segala pungutan dan biaya di luar produksi. Untuk menekan harga produk. Pasalnya yang dikhawatirkan produk-produk luar negeri nanti bisa lebih murah.

“Beras Vietnam itu saingan berat Indonesia, kalau produksinya lebih bagus dan murah, pedagang kita tidak bersaing,” kata Dr. Dumairy. |Winda Efanur FS|Cucuk Armanto|

back to top