Menu
Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Doa bersama Memperingati Hari Kesaktian Pancasila di Masjid Al-Jihad Akmil Magelang

Doa bersama Memperingati Hari Kesak…

KoPi-Lembah Tidar. Minggu...

Prev Next

Peneliti: "Ini 2 resep Indonesia hadapi MEA"

Peneliti: "Ini 2 resep Indonesia hadapi MEA"

Jogjakarta-KoPi| Peneliti Studi Ekonomi Kerakyatan UGM, Dr. Dumairy menjelaskan dua resep menghadapi MEA 2016 yakni sosialisasi yang komprehensif hingga tingkat bawah dan sikap mencintai produk Indonesia.

Selama ini sosialisasi masih terbatas kalangan pemerintah, politisi atas dan akademisi. Sementara penjabaran konsep sangat samar diterjemahkan oleh masyarakat bawah.

“Jangankan pedagang pasar, pengusaha saja belum tahu secara tuntas tentang MEA. Bisa saja cuma dengar temannya,” papar Dr. Dumairy saat ditemui di kantor PSEK UGM pada tanggal 6 Januari 2016.

Dr. Dumairy menambahkan produk unggulan Indonesia untuk menghadapi MEA berupa produk hasil pabrikan, seperti sepatu, fashion, elektronik dan furniture. Banyak merk-merk Indonesia yang diakui oleh dunia.

Dari segi kualitas Dr. Dumairy meyakini Indonesia memilki keunggulan. Namun dari segi harga masih meragukan. Pasalnya, cost produksi barang di Indonesia mahal.

Terutama cost di luar produksi barang membebani pedagang. Seperti cost untuk membuat sertifikat halal produk.

“Barangnya sudah halal, mengurus sertifikatnya susah,” jelas Dr. Dumairy.

Sehingga pemerintah perlu membebaskan produk dari segala pungutan dan biaya di luar produksi. Untuk menekan harga produk. Pasalnya yang dikhawatirkan produk-produk luar negeri nanti bisa lebih murah.

“Beras Vietnam itu saingan berat Indonesia, kalau produksinya lebih bagus dan murah, pedagang kita tidak bersaing,” kata Dr. Dumairy. |Winda Efanur FS|Cucuk Armanto|

back to top