Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

'Penebusan Jiwa Suci' Najib Amrullah

'Penebusan Jiwa Suci' Najib Amrullah

Ciputat-KoPi| Perupa Najib Amrullah segera kembali memamerkan karya-karyanya di Galeri Rumah Puspo Budoyo  Jl. Elang Raya No 1, Kampung Sawah Ciputat. Pameran dibuka 20 Februari, pukul 19:WIB dan berlangsung hingga 23 Februari 2015.

Pameran tunggal ini menurut Najib Amrullah adalah kali ke sembilan setelah sebelumnya dilakukan di berbagai tempat. Dengan tema sosial-politik yang kuat, Najib memberi judul pamerannya "Penembusan Jiwa Suci."

Penebuan Jiwa Suci, bagi Najib merupakan bentuk refleksi atau pantulan dari kondisi sosial-politik Indonesia saat ini. Ini adalah sikap protes seniman terhadap perilaku menyimpang dari kaum politisi.

ilustrasi a).lukisan berjudul barong tarung tahun 2015 ukuran 135x270 cm.

"Tiba tiba aku terlintas sebuah adegan tarian  barong tarung dimana sang barong walaupun tampangnya merah menyeramkan tetapi filosofinya adalah sang pembela kebenaran pelindung dari segala kejahatan. Ya, situasi politik akhir- akhir ini begitu mirip dengan adegan barong tarung pembela kebenaran dan sang penegak hukum saling ringkus serta saling menjatuhkan satu sama lain, saling menggigit saling terjang, saling banting".

"Kita jadi semakin bingung, kebenaran tak selalu menang karena seolah kejahatan pandai memelintirkan diri seolah menjadi kebaikan, banyak maling yang berwujud orang bijak bahkan penegak hukum, dan banyak kebenaran yang diputar balik. Entah kapan kebenaran akan menang, tiada yang tahu. Tapi pasti Tuhan tidak pernah tidur."

Eksistensi seniman, menurut Najib yang sempat mendapat perhatian khusus Romo Sindhunata (Kompas), haruslah menjadi bagian yang intergral dalam konsep dan nilai sosial. Karya merupakan pertangungjawabannya dalam melihat situasi lingkungan yang dihadapinya.

"Saya tak terima cap bahwa seniman kecenderungan anti-sosial dan acuh terhadap lingkungan,dan apatis, yang betul adalah bahwa seniman mempunyai daya fikir yang lebih kritis dari kebanyakan orang, justru aku selalu tergelitik selalu ingin protes atas segala ketimpangan, aku anti kemunafikkan, anti korupsi, aku menguntuk para koruptor." Demikian Najib Amrullah mengatakan.| E Hermawan

back to top