Menu
Merapi Naik ke Status Waspada, Gempa Tremor dan Vulkanik Sempat Muncul Saat Letusan Freaktif.

Merapi Naik ke Status Waspada, Gemp…

Jogja-KoPi|Setelah Gunung...

Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dalam Sehari, BPPTKG: Ini Memang Karakter Merapi.

Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dal…

Jogja-KoPi| Gunung Merapi...

Bulog DIY: Bulan Puasa dan Lebaran Persediaan Beras, Gula, dan Minyak Goreng di Yogyakarta Aman.

Bulog DIY: Bulan Puasa dan Lebaran …

Jogja-KoPi| Perum Bulog d...

UGM Kembangkan Aplikasi Informasi Pengungsi Korban Bencana

UGM Kembangkan Aplikasi Informasi P…

Sleman-KoPi | Pusat Studi...

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pendeteksi dini bencana longsor bernama SIPENDIL.

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pend…

Sleman-KoPi | Tim penelit...

Bagaimana menjaga pola makan yang baik dan benar selama bulan Puasa.

Bagaimana menjaga pola makan yang b…

Inggris-KoPi| Inilah saat...

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap gunakan Narkoba.

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap…

Sleman-KoPi| Direktorat R...

Korut tunda pertemuan KTT bersama Korea Selatan.

Korut tunda pertemuan KTT bersama K…

Pyongyang-KoPi | Korea ut...

Protes Keras Tanoni :Australia Bebaskan Nelayan Yang Ditangkap.

Protes Keras Tanoni :Australia Beba…

Kupang-KoPi | Pemerintah ...

Prev Next

Penderita HIV/AIDS di Selayar

Penderita HIV/AIDS di Selayar

Selayar-KoPi, Rumor keberadaan tiga orang pasien penderita HIV/AIDS asal Pulau Bonerate, Kecamatan Pasimarannu, Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi-Selatan yang sempat menjalani masa perawatan di ruang perawatan Jeruk Rumah Sakit Umum Daerah membuat gempar warga Ibukota Benteng.

Sejumlah warga masyarakat bahkan nekad menyampaikan desakan kepada wartawan untuk segera turun ke lapangan dan melakukan investigasi terkait identitas ketiga warga asal Pulau Bonerate pengidap virus HIV/AIDS yang disebut-sebut berasal dari lingkungan keluarga miskin dan tidak mampu.

Informasi yang dihimpun wartawan di lapangan menyebutkan, korban datang ke Kota Benteng tanpa didampingi pihak keluarga dengan tidak sedikitpun memiliki persiapan biaya berobat. Akibatnya, korban yang semula akan dirujuk ke Makassar, dipulangkan paksa pihak rumah sakit umum daerah KH. Haiyung, Benteng.

Korban dipulangkan ke kampung halamannya dengan bantuan baiaya dari Dinas Kesehatan Kabupaten Kepulauan Selayar dan sumbangan pihak rumah sakit tempatnya menjalani perawatan. Selama menjalani masa perawatan medis di rumah sakit, keberadaan ketiga korban sempat mendapat protes dari sejumlah keluarga pasien lain yang merasa resah dan khawatir bakal terjangkit virus HIV/AIDS melalui gigitan nyamuk.

Dengan berbekal pengetahuan minim yang dikethauinya, mereka mendesak pihak rumah sakit untuk segera mengeluarkan dan memulangkan paksa ketiga korban. Sampai dengan diturunkannya berita ini, pihak rumah sakit umum KH. Haiyung belum bersedia buka mulut terkait dengan identitas ketiga korban.

Sejumlah petugas perawat di ruang perawatan jeruk yang berupaya dikonfrontir wartawan memilih bungkam dan menolak untuk menyebutkan nama pasien pengidap virus HIV/AIDS yang diketahui berasal dari Pulau Bonerate tersebut.

Petugas rumah sakit menolak untuk membuka identitas para korban dengan alasan privasi. Salah seorang petugas perawat di ruang perawatan Jeruk, bahkan nekad membentak wartawan yang mencoba melakukan upaya konfirmasi, Sekali Tidak Bisa, Tetap Tidak Bisa Pak. Informasi seperti ini sangat rahasia dan tidak akan mungkin bisa didapatkan di rumah sakit manapun, tegasnya dengan nada tinggi.

Update informasi terbaru diluar lingkungan rumah sakit menyebutkan, hingga hari Kamis, (13/02) malam PKM Pasimarannu mencatat terdapat sedikitnya delapan orang pasien pengidap virus HIV/AIDS yang sempat tertangani oleh pihak Puskesmas Pasimarannu, tiga orang diantaranya dinyatakan meninggal dunia.

Data ini merupakan hasil identifikasi yang dilakukan pihak puskesmas Pasimarannu sejak dari tahun 2009 sampai tahun 2014 ini. Salah seorang sumber yang enggan disebutkan identitasnya menyatakan, kedelapan orang pasien penderita HIV/AIDS dimaksud, rata-rata merupakan warga pendatang dari Pulau Batam, Surabaya dan sejumlah kota lain di Indonesia yang acap kali menjadi daerah tujuan para perantau asal Pulau Bonerate dan Kabupaten Kepulauan Selayar, pada umumnya.

Dari catatan data wartawan pertanggal 7 Juni 2012 terungkap fakta baru tentang keberadaan dua pasang suami-istri yang diduga ikut terinfeksi virus HIV/AIDS dan akhirnya dinyatakan meninggal dunia.

Salah satu pasangan suami-istri ini merupakan istri seorang awak kapal yang kerap kali berlayar sampai jauh ke sejumlah pulau dan pelabuhan di kota lain yang tersebar luas di belahan nusantara Indonesia.

Sementara pasangan suami-istri yang satunya, tercatat sebagai pengemudi angkutan travel trayek Makassar-Selayar (PP). Kedua wanita ini terjangkit virus HIV/AIDS, lantaran ketidak beraniannya untuk bertanya, pernah tidak suami mereka menjalin hubungan dengan wanita lain ?

Pria pengemudi angkutan travel Makassar-Selayar (PP) meninggal dunia, karena penyakit HIV/AIDS. Setahun berselang, istrinya juga meninggal dunia dengan dugaan penyakit yang sama. Berikutnya, virus HIV/AIDS ikut merenggut nyawa, pria awak kapal yang pergi untuk selama-lamanya dengan meninggalkan seorang istri dan anak yang masih kecil.

Ironisnya lagi, karena anak dan istri sang awak kapalpun positif terjangkit virus HIV/AIDS. Realita ini terungkap setelah keduanya menjalani proses pemeriksaan dengan menggunakan rapid test.

Kenyataan yang tak kalah pahit harus diterima oleh mereka para pengidap virus HIV/AIDS di Kabupaten Kepulauan Selayar, sebab rumah sakit di daerah ujung paling selatan Provinsi Sulsel ini diduga tidak memiliki fasilitas pengobatan untuk penanganan kasus HIV/AIDS. Disamping, RSUD KH. Haiyung juga diduga kuat tidak termasuk dalam sistim rujukan.

Awalnya, kepala dinas dan kepala puskesmas telah menyediakan dana rujukan untuk meneruskan penanganan kasus dimaksud ke Makassar. Namun sayang, karena persoalan ini harus terbentur pada permasalahan akomodasi bagi para keluarga pengantar pasien, terutama selama berlangsungnya proses pemeriksaan dan opname.

Pertanyaan ketiika itu, berkutat pada seputar persoalan siapa yang akan membayar dan menutup total keseluruhan biaya dimaksud ?. Kondisi ini bahkan sempat membuat bingung sejumlah pihak terkait. Salah satu diantaranya, mereka para aktivis penanggulangan HIV/AIDS di wilayah regional Sulsel maupun Jakarta.

Reporter: Fadly Syarif



back to top