Menu
UGM Kembangkan Aplikasi Informasi Pengungsi Korban Bencana

UGM Kembangkan Aplikasi Informasi P…

Sleman-KoPi | Pusat Studi...

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pendeteksi dini bencana longsor bernama SIPENDIL.

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pend…

Sleman-KoPi | Tim penelit...

Bagaimana menjaga pola makan yang baik dan benar selama bulan Puasa.

Bagaimana menjaga pola makan yang b…

Inggris-KoPi| Inilah saat...

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap gunakan Narkoba.

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap…

Sleman-KoPi| Direktorat R...

Korut tunda pertemuan KTT bersama Korea Selatan.

Korut tunda pertemuan KTT bersama K…

Pyongyang-KoPi | Korea ut...

Protes Keras Tanoni :Australia Bebaskan Nelayan Yang Ditangkap.

Protes Keras Tanoni :Australia Beba…

Kupang-KoPi | Pemerintah ...

Jelang Puasa, Stok Barang Kebutuhan Pokok di Jatim Dipastikan Aman

Jelang Puasa, Stok Barang Kebutuhan…

Surabaya-KoPi|Menjelang b...

Pemerintah Bantul Siap Dukung Kontes Robot Indonesia di UMY

Pemerintah Bantul Siap Dukung Konte…

Sleman-KoPi| Menjelang pe...

Tahun Politik, Akun Buzzer di Media Sosial Bermunculan

Tahun Politik, Akun Buzzer di Media…

Sleman-KoPi| Menjelang pi...

Prev Next

Pemutaran Film Basiyo "Mbarang Kahanan"

Pemutaran Film Basiyo "Mbarang Kahanan"

Jogja-KoPi| Seksi Film Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta kembali memproduksi sebuah film sejarah. Kali ini bekerja sama dengan Sanggit Citra Production mengangkat tentang biografi singkat sosok pelawak/seniman Basiyo.

Pemutaran perdana film yang berjudul 'Basiyo Mbarang Kahanan' ini akan dilakukan pada Rabu (2/9) di Gedung Sosieted Taman Budaya Yogyakarta, pukul 19.00 WIB. Selain pemutaran perdana filmya, juga akan dilangsungkan diskusi film. Acara ini terbuka untuk umum dan gratis.

Menurut Triyanto 'Genthong' Hapsoro, film sejarah tak harus selalu berisi tentang kisah-kisah yang berhubungan dengan kebangsaan, kemerdekaan, dan hal-hal besar lainnya yang bersifat mayor. Sejarah tokoh lokal dengan keunikan dan pengaruh positifnya bisa juga diangkat dalam sebuah film sejarah.

Basiyo dipilih karena faktor kemaestroannya dalam dunia Dagelan Mataram, membawa ciri tersendiri dan telah mampu menginspirasi kelompok lawak generasi berikutnya, antara lain kelompok Srimulat, S. Bagyo dan kawan-kawan, atau bahkan bisa ditarik sampai generasi standup comedy yang sedang trend saat ini.

Minimnya data tentang Basiyo juga menggelitik tim kreatif untuk membuat karya audio visual yang diharapkan bisa menjadi pelengkap data-data yang sudah ada.



Proses film ini berlangsung sejak bulan Maret 2015. Dimulai dengan riset data melalui wawancara narasumber, antara lain: Pak Anjarwani, Pak Harto Basiyo, dan Pak Widayat, serta dilanjutkan dengan riset pustaka. Penulisan naskah diserahkan kepada Joko Lisandono dan dilengkapi oleh Triyanto Hapsoro.

Setelah itu dilakukan proses pemilihan pemain (casting) dan workshop pemain selama 2 minggu.

“Proses casting tidak mudah, karena karakter fisik dan gestur Basiyo dan beberapa tokoh lainnya cukup unik. Selain itu unsur vokal menjadi penting, karena masyarakat lebih mengenal Basiyo dan kawan-kawan melalui media audio”, tutur sutradara film ini.

Triyanto Hapsoro yang menggandeng Agoes Kencrot sebagai penata peran dan pelatih aktingnya. Akhirnya terpilih Sugeng Surono yang berperan sebagai Basiyo, dan Titik Renggani sebagai Bu Pudjiyem. Kebanyakan aktor di film ini mempunyai latar belakang seni tradisi, sehingga mereka telah paham betul dengan karakter film ini.

Pemilihan lokasi untuk setting film diusahakan sedekat mungkin dengan realitanya. Beberapa lokasi syuting antara lain: Jalan sebelah barat kampus Universitas Widya Mataram, Studio Audio Visual Puskat dan sekitarnya.

Penata artistik Beni Arjuna mencoba menerjemahkan gagasan visual menjadi setting dan property yang diinginkan oleh cerita. Proses penataan gambar diserahkan kepada Director of Photography Kelik Sri Nugroho dan timnya.

Pengambilan gambar dilakukan selama 5 hari dengan mengerahkan kru kurang lebih 35 orang dan pemain (termasuk figuran) mendekati jumlah 100 orang. Konsep penggunaan kostum dan tata cara make up masa itu juga muncul di film ini.

Untuk merealisasikannya, Rere Rully Ismada di bagian tata rias, dan Megarita di bagian kostum harus melakukan riset mendalam dengan bantuan supervisi dari Pak Anjarwani. Divisi produksi ditangani oleh tim dari Sanggit Citra Production: M. Aprisiyanto, Stefanus Arideni, dan Bagus Suratyo.

Salah satu adegan unik adalah saat film ini merekonstruksi proses rekaman lakon ‘Maling Kontrang-kantring’. Selama ini masyarakat menilai lakon ini adalah salah satu masterpiece Basiyo, namun jarang ada yang tahu dinamika ‘di balik layar’ yang sebenarnya. Dengan tangan dingin Pardiman Djoyonegoro sebagai penata musik sekaligus penata iringan, film ini menjadi lebih ‘berbicara’ dan ‘greget’.

Film ini mengajak penonton untuk bercermin dari cara hidup dan sikap Basiyo dalam kehidupan sehari-harinya maupun dalam berkesenian, dan diharapkan bisa menjadi cermin positif bagi generasi saat ini. Semoga Yogyakarta semakin mampu meneguhkan jati dirinya melalui teladan seniman-seniman senior yang pernah/masih hidup dan berkarya di kota tercinta ini.

back to top