Menu
Inkubasi Tahap 1 Resmi Buka Gelaran Soprema 2018

Inkubasi Tahap 1 Resmi Buka Gelaran…

Jogja-KoPi| Kegiatan Inku...

Lestarikan Budaya Tradisional, UAJY Adakan Lomba Jemparingan

Lestarikan Budaya Tradisional, UAJY…

Jogja-KoPi| Universitas A...

Niagahoster Devcussion 2.0 Dorong ​Web-Professional Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Dorong ​…

Yogyakarta, 25 September ...

Lantik Heru Tjahjono, Pakde Karwo Ingatkan Dua Fungsi Sekda

Lantik Heru Tjahjono, Pakde Karwo I…

Surabaya-KoPi| Sesuai UU ...

Kepa BNPT Ajak Mahasiswa UGM Jauhi Paham Radikal

Kepa BNPT Ajak Mahasiswa UGM Jauhi …

 JogjaKoPi| Kepala B...

Bupati dan Walikota Harus Mengacu dengan Visi Misi Presiden

Bupati dan Walikota Harus Mengacu d…

Surabaya-KoPi| Bupati dan...

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis Soprema 2018 untuk Sociopreneur Muda dari 16 Provinsi Indonesia

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis S…

Jogja-KoPi| Rangkaian gel...

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi Bisa Dilatih

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi …

Jogja-KoPi| Pakar Manajem...

Raih Doktor Usai Meneliti Transformasi Budaya Organisasi Perguruan Tinggi

Raih Doktor Usai Meneliti Transform…

Jogja-KoPi| Transformasi ...

Prev Next

Pemulihan trauma anak korban bencana

vimeo.com vimeo.com

Indonesia, dalam catatan BNPB pada tahun 2014 terdapat 1618 kasus bencana alam seperti gempa bumi, tanah longsor, banjir, kebakaran yang menelan korban jiwa 645 jiwa. Kejadian bencana yang baru adalah tanah longsor di Banjanegara. Selain menyebabkan korban nyawa, kejadian ini juga memberikan kerugian ekonomi bagi para korban. Berita tempo.co melaporkan jumlah pengungsi di Kecamatan Karangkobar mencapai 527 orang, 80 diantaranya anak dan balita.

Korban anak-anak sangat mudah terkena dampak psikis dari terjadinya bencana. Apalagi jika anak kehilangan anggota keluarga dan sanak saudaranya. Anak-anak sangat rentan terhadap dampak bencana karena kondisi emosi yang masih sangat labil dan belum dapat menentukan keputusan. 

Menurut Glenys Parry dalam bukunya coping with crises meyebutkan bahwa kondisi emosi anak ketika mengalami bencana sangat rentan disebabkan cara bertingkah laku dan berfikir anak yang masih sangat lemah. Hal ini karena anak masih dalam proses belajar dan masi sangat membutuhkan arahan dari orang yang lebih dewasa. Orang dewasa yang dimaksud adalah orang tua, guru atau keluarga anak. 

Teori Kognitif

Jean Piaget dalam teori kognitifnya mengatakan bahwa perkembangan kognitif anak usia sekolah masi pada tahap hubungan-hubungan logis konsep-konsep atau skema-skema sederhana. Anak usia sekolah masi rentan terhadap stimulus-stimulus yang diterimanya, sehingga masi sulit memproses informasi-informasi yang diterima. Apalagi dibarengi dengan kejadian-kejadian traumatik yang memberikan dampak negatif kepada anak. 

Tugas perkembangan anak juga belum sampai pada tahap selanjutnya yaitu tahap mencari penyelesaian dari suatu masalah. Dimana dalam tahap ini anak diajarkan untuk mencari penyelesain dari suatu masalah melalui proses-proses tertentu. Tahap inilah yang sangat dibutuhkan oleh manusia dalam menjalani kehidupannya sehingga dapat menghadapi masalah-masalah kehidupan yang akan dialami dikemudian hari atau masa yang akan datang. 

Namun kognitif anak belum sampai atau belum mampu untuk mencari penyelesainan dari suatu masalah sehingga anak butuh arahan dari orang tua. Piaget juga mengatakan bahwa pada tahap ini  anak masi harus belajar dengan kondisi lingkungan sekitarnya. 

Anak korban bencana mengalami perubahan lingkungan secara tiba-tiba dan terpaksa  oleh bencana. Hal ini mengharuskan anak untuk menyesuaikan diri dengan tempat yang baru dan masih asing buatnya. Belum lagi ketika anak harus kehilangan anggota keluarganya. Perubahan-perubahan ini juga dapat memberikan tekanan bagi anak sehingga dapat memicu munculnya reaksi-reaksi baru yang tak terduga dan dapat mempengaruhi perkembangan psikis anak.

Reaksi yang terjadi terhadap anak-anak ketika mengalami bencana atau musibah dapat berupa agresi atau mengamuk (tantrum), hiperaktif atau tidak dapat diam, berperilaku seperti bayi, mengalami mimpi buruk dan mengigau, takut terhadap stimulus yang mengingatkan akan bencana, gagap atau diam saja, serta menarik diri dari lingkungan. Jika reaksi-reaksi ini berkelanjutan akan memberikan dampak negatif dan trauma yang berkepanjangan bagi anak. Trauma ini dapat mengganggu proses perkembangan anak serta dapat memberikan dampak negatif dikemudian harinya.

Pendampingan

Oleh karena itu, anak-anak korban bencana harus diberikan pendampingan agar tidak terjadi trauma berkepanjangan. Hal-hal yang dapat dilakukan kepada anak-anak korban bencana adalah dengan memberikan perhatian yang lebih kepada anak agar anak tidak merasa sendiri dan terkucilkan dari lingkungannya. Kemudian memberikan keyakinan kepada anak bahwa sekarang sudah aman, dan kejadian bencana telah usai. Jangan sekali-kali memarahi anak karena dapat memberikan trauma yang berlebih. 

Sebisa mungkin kita membangun keadaan yang santai disekitar lingkungan pengungsian agar anak dapat merasa nyaman dengan lingkungan yang ditempatinya sekarang. Cara membangun suasana yang santai dapat dilakukan dengan mengajak anak bermain bersama, menyuruh anak untuk melampiaskan emosinya dengan mengambar, atau meminta anak utuk bercerita tentang hal yang menyenangkan baginya, sehingga anak dapat melupakan kejadian bencana yang dialami. 

Selain itu anak juga butuh diberikan ruang untuk mengespresikan emosi yang dirasakan. Cara mengespresikannya harus dengan cara yang aman dan sehat, hal ini bisa berupa mengajak berolahraga ringan seperti bermain sepak bola bersama atau permainan yang dapat dimainkan secara bersama-sama dan menyenangkan. Permainan yang butuh konsentrasi tinggi sebaiknya dihindari. Dengan demikian, proses trauma healing anak korban bencana alam dapat berjalan seperti yang diharapkan.

 

back to top