Menu
Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Doa bersama Memperingati Hari Kesaktian Pancasila di Masjid Al-Jihad Akmil Magelang

Doa bersama Memperingati Hari Kesak…

KoPi-Lembah Tidar. Minggu...

Prev Next

Pemerintah yang tidak lebih baik dari fasisme

foto: Darbender foto: Darbender

Setidaknya hampir lebih dua tahun ini masyarakat sibuk dengan booming batu akik. Booming ini juga ditandai dengan harga batu akik yang tidak lagi realistis. Satu buah batu akik bisa mencapai puluhan hingga milyaran rupiah. Sebut saja batu akik Bacan Doko milik mantan presiden SBY yang mencapai 3 milyar rupiah.

Fenomena ini juga diikuti dengan bersemangatnya masyarakat kecil untuk mencari dan menjajakan batu-batu yang mereka dapatkan. Harapan mereka tumbuh dan bersayap, seolah tren batu akik ini memberikan mereka sesuatu yang lebih menjanjikan ketimbang usaha lainnya. Para pemilik modal berlomba untuk membeli tanah dan menambang  yang akhirnya menimbulkan perkara lingkungan. Sementara para pengangguran menjadi penegecer yang menenteng satu atau dua kantong batu akik dengan harga yang luar biasa tanpa menemukan pembelinya.

Perihal booming dan tren apa yang bisa kita gambarkan sebagai melampaui kebutuhan riil masyarakat ini, sepertinya sudah menjadi hal lazim di Indonesia. Sebelumnya kita juga pernah melihat fenomena booming tanaman hias dan investasi bodong. Di tahun 90-an, masyarakat pernah juga disibukkan dengan bisnis yang disebut "kolomunyeng" (lingkaran setan). Bisnis untuk menyebut orang-orang yang mencari harta karun melalui yang disebut kekuatan supranatural. Ketika itu banyak terdengar orang-orang kehilangan harta bendanya seperti rumah demi mengikuti bisnis ini.

Pertanyaannya, mengapa masyarakat kita begitu mudah tergiur dengan usaha yang tidak realistis dan memilih bermimpi? Jawabannya tentu karena peran negara yang tidak hadir dalam kehidupan riil masyarakat. Negara dengan beberapa rejim pemerintahan yang telah berganti lebih suka mengembangkan ekonomi makro ketimbang pertumbuhan ekonomi mikro.

Peraih Nobel ekonomi 2004, Jean Tirole pernah mengomentari keadaan ekonomi Indonesia di pertengahan tahun 2000-an, bahwa ada yang aneh dalam wajah ekonomi Indonesia. Menurutnya, pertumbuhan ekonomi Indonesia memiliki dua sisi yang berbeda, jika melihat pertumbuhan ekonomi makronya Indonesia terlihat baik, ada pertumbuhan sekitar 6 hingga 7 prosen.

Hal itu terlihat bagaimana geliat bursa saham dan banyaknya mobil mewah serta rumah mewah di Jakarta. Namun, berbeda ketika kita melihat ekonomi mikronya. Sektor riinya terlihat sangat lemah dengan tingkat pengangguran dan masyarakat miskin yang tinggi. Lazimnya, di semua negara, katanya, sektor riil atau ekonomi mikro merupakan penopang ekonomi utama negara. tetapi Indonesia tidak, terbalik, katanya dalam sebuah wawancara televisi saat itu.

Dari pemahaman ini, kita menjadi paham, bahwa semua fenomena yang kita lihat adalah akibat kebijakan ekonomi yang menempatkan ekonomi makro sebagai pondasi dasar ekonomi negara. Ekonomi makro menempatkan segelintir orang menguasai modal dan usaha. Sementara, sebagian besar rakyat hanya mendapatkan cerita-cerita indahnya tanpa merasakan realitasnya.

Seharusnya, jika pemerintah memang benar-benar merupakan alat negara untuk rakyatnya, maka pemerintah tidak membiarkan hal-hal seperti ini terus berkembang dalam masyarakat. Membiarkan masyarakat terombang-ambing dalam dunia mimpi tanpa ujung.

Pemerintahan Jokowi sudah seharusnya lebih memperhatikan ekonomi mikro, agar terjadi keseimbangan dan memberikan dukungan terhadap sektor-sektor ekonomi yang riil  serta kreatif lebih merata.

Ada banyak usaha yang bisa dilakukan, seperti pengelolaan lahan sempit menjadi usaha yang bernilai baik. Lumbung Mataraman, misalnya, adalah pola pengembangan dan pemanfaatan lahan sempit menjadi bernilai tinggi. Jika petani kita memiliki rata-rata lahan di bawah 1/5 hektar (Data Kemtan, 2010), dengan pendapatan sekitar 1,5 juta rupiah per bulan, maka model lumbung mataraman dengan lahan 500 meter persegi mampu menghasilkan 15 juta per bulan. Ini adalah satu contoh yang luar biasa, tetapi anehnya, hal-hal yang realisitis sperti ini tidak pernah menjadi perhatian serius.

Fenomena masyarakat sibuk dengan dunia usaha berbasis mimpi, adalah bukti bagaimana pemerintah tidak serius menangani masalah rakyatnya. Kebijakan menyerahkan segalanya pada pasar seharusnya perlu ditijau lagi. Terutama dalam konteks pengembangan usaha rakyat. Kreativitas masyarakat tidak akan terwujud ketika pemerintah abai dan terus menjadi agen 'hegemoni pasar'. 

Dalam model pemikirian seperti itu, analoginya adalah orang tua (negara) melepas tanggung jawab dan membiarkan anaknya (rakyat) hidup dan tumbuh sendiri dalam belatara alam liar tanpa bekal yang mencukupi. Pemerintah seperti ini, sungguh tidak lebih baik ketimbang fasis.

back to top