Menu
Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Doa bersama Memperingati Hari Kesaktian Pancasila di Masjid Al-Jihad Akmil Magelang

Doa bersama Memperingati Hari Kesak…

KoPi-Lembah Tidar. Minggu...

Prev Next

Pemerintah Bangun Industri Digital untuk Kurangi Kesenjangan Ekonomi

Sleman-KoPi| Pemerintah saat ini tengah memperkuat ekonomi industri digital dengan mendorong anak muda di usia produktif untuk terjun ke dalam bisnis digital. Salah satu program yang ditelurkan adalah Gerakan 1000 perusahaan rintisan (Startup) yang nantinya diharapkan bisa mengurangi kesenjangan ekonomi dan angka gini ratio.

 

Hal itu ditegaskan oleh Kepala Seksi Penerapan Pemberdayaan Teknologi dan Infrastruktur Informatika, Kementerian Kominfo,Sony Hendra Sudaryana, ST., M.MT., saat menghadiri seminar dan workshop Networking Gerakan 1000 startup Digital di Asrama Dharma Putera Baciro, Yogyakarta.

Melalui hadirnya startup baru katam, katanya, diharapkan akan memberikan 3 model bisnis tersebut diharapkan adanya pemerataan ekonomi, inklusi keuangan dan digitalisasi sektor pekerjaan.

“Kita berharap dari para start up yang terus tumbuh berkembang ini dapat mengurangi kesenjangan yang terjadi dalam masyarakat, khususnya untuk menghindari konflik sosial yang kerap terjadi,”paparnya, ditulis Kamis (24/5)

Henry menuturkan dengan ketidaksetaraan ekonomi terjadi di Indonesia, tercermin dalam kepemilikan harta 4 orang terkaya di Indonesia setara dengan 100 juta orang di Indonesia.

"Permasalahan Indonesia adalah gap antara kaya dan miskin yang sangat jauh, serta distribusi kekayaan yang tidak merata,” katanya.

Dampak dari adanya gap yang terlalu jauh antara miskin dan kaya menyebabkan ketidakstabilan politik dan ekonomi, serta konflik sosial yang terjadi dalam masyarakat seperti terorisme dan radikalisme. Untuk mengatasi hal tersebut,diperlukan usaha menaikkan derajat kesejahteraan ekonomi keluarag miskin.

Ia menyebutkan beberapa perusahaan rintisan yang menggunakan teknologi digital sudah berkembang pesat diantaranya Gojek melalui sharing ekonomi dan digitalisasi tenaga kerja.

"Sekarang orang mendapatkan penghasilan melalui teknologi, selain itu melalui gojek juga telah mengurangi tingkat pengagguran dan rata-rata pendapatan driver dan umkm naik,” katanya.

Selain Gojek, Henry juga menyebutkan perusahaan lain seperti  Tokopedia dan beberapa UMKMOnline.

“Kita bersama-sama menyelesaikan bagaimana meningkatkan penghasilan UMKM melalui penjualan online,” katanya.

Dalam kesempatan yang berbeda, Co-Founder Prism, Fachry Bafadal saat memberikan mentoring kepada peserta mahasiswa calon startup mengutarakan pada pendiri sebuah perusahaan rintisan agar tidak pernah menyerah dengan keadaan.

“Jangan pernah menyalahkan keadaan karena hal tersebut bisa jadi pelajaran dari perjalanan kita,” katanya.

Ia menuturkan, jangan pernah untuk megutamakan ego dalam pengembangan sebuah produk dan platform namun selalu melakukan inovasi sesuai dengan tuntutan pasar.

"Ego bisa membuat produk kita mati ketika kita tidak mendengar permintaan pasar. Setiap melakukan sebuah kesalahan harus dirayakan, jangan diungkit,” katanya.

Sebastian Alex Dharmawangsa salah satu pegiat startup Horticulturist jebolan Innovative Academy UGM mengatakan langkah awal dalam pengembangan bisnis digital dengan memperkuat kerja sama antar anggota tim. Faktanya, kata Alex, sekitar 65% tim startup tidak bisa berkembang karena memiliki masalah internal tim dan tidak mengetahui dengan jelas peran dan tugas masing-masing anggota tim.

"Penting untuk  mengetahui karakter dan jobdesk anggota agar terciptanya tim yang efektif,” katanya. (Humas UGM/Gusti Grehenson)

back to top