Menu
Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Empati dan Duka Cita AS kepada Korban dan Dampak Terorisme di Jatim

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Emp…

Jatim-KoPi| Gubernur Jati...

Pemerintah Bangun Industri Digital untuk Kurangi Kesenjangan Ekonomi

Pemerintah Bangun Industri Digital …

Sleman-KoPi| Pemerintah s...

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan Strategi Jatim Songsong Bonus Demografi  2019

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan …

Jatim-KoPi| Berbagai lang...

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Adanya Gejala Erupsi Seperti di Tahun 2010 dan 2006.

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Ad…

Jogja-KoPi| Balai Pen...

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana dan Diploma

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana d…

Sleman-KoPi| Universitas ...

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpangan Distribusi Gula Rafinasi

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpang…

Sleman-KoPi| Pasar gula d...

Gerakan Filantropi Islam Sebagai Deradikalisasi

Gerakan Filantropi Islam Sebagai De…

Sleman-KoPi| Dewasa ini, ...

Pakde Karwo: Kunci Perjuangan adalah Persatuan dan Kesatuan

Pakde Karwo: Kunci Perjuangan adala…

Jatim-KoPi| Salah satu ku...

Jaminan Kemerdekaan Kekuasaan Kehakiman Masih Berpusat Pada Institusi Bukan Hakim Secara Personal

Jaminan Kemerdekaan Kekuasaan Kehak…

Sleman-KoPi|Kemerdekaan k...

Prev Next

Pembenci itu ditolong musuhnya

Pembenci itu ditolong musuhnya

Atlanta | Jasson Hoffman, pemuda 31 tahun, adalah anggota SkinHead yang menyebarkan teror dan kebencian atas ras yang berbeda di Atlanta. Suatu malam pada bulan Juni 2012, di jalanan yang mulai sepi, ia tergeletak dengan darah menggenanginya. Ia baru saja dipukuli dan ditusuk oleh suadara-saudaranya dalam keyakinan Neo-Nazi. Di antara hembusan nafasnya yang senggal dan darah yang terus mengalir dari luka-lukanya, seseorang tiba-tiba datang menolongnya. Penolong itu bernama Robert Brown. Seorang negro, sopir taxi yang kebetulan melihatnya.

Tetapi Jasson justru mengusirnya. Ia tak bisa membiarkan dirinya ditolong oleh seorang negro yang dibencinya sampai dasar hati. Tetapi, negro itu tetap ngotot dan menyuruhnya diam. Di saat itu ia memang diam karena pingsan.

"Aku begitu penuh kebencian, sampai ketika aku melihat dia datang untuk membantu, aku justru menyuruhnya untuk pergi. Aku katakan padanya aku tidak membutuhkan bantuan dari seorang negro. Tetapi, ia malah menyuruhku tutup mulut karena ia tak akan membiarkan aku mati. Orang keturunan Samaria yang baik itu kemudian membawanya dengan taxinya ke Atlanta Medical Center. Rumah sakit membutuhkan waktu lebih dari 15 jam perawatan intensif dan 16 transfusi darah sebelum akhirnya ia dinyatakan selamat.

Begitu ia sadar, Jasson bangun dengan sebuah pertentangan batin antara keyakinan lama dan nilai-nilai baru yang ia dapatkan.

"Sulit untuk mengakui bahwa mereka yang kuanggap sebagai saudara dan sekutu hampir membunuhku, dan seorang pria yang selama ini kuanggap sebagai makhluk inferior dan musuh telah menyelamatkan hidupku" jelas Jason Hoffman. "Seluruh duniaku terbalik dan sangat lama aku bisa menerima kenyataan ini."

Jasson Hoffman pada akhirnya memutuskan keyakinan rasisnya yang salah dan mengubah secara drastis jalan hidupnya. Ia kembali ke sekolah dan menyelesaikan kuliahnya di School of Social Work of the University of Georgia. Ia kemudian terjun dalam sebuah aktivitas sosial untuk membantu para militan Neo-Nazi dan rasis lainnya untuk menyingkirkan kebencian mereka.

Dia saat ini bekerja sebagai relawan selama dua tahun untuk sebuah organisasi yang melawan rasisme dan baru saja disewa oleh kota Atlanta untuk bekerja dengan tunawisma, pecandu narkoba dan orang-orang terpinggirkan lainnya di pusat kota.

Jason Hoffman dan pahlawannya Robert Brown, juga menjalin hubungan yang kuat selama beberapa tahun terakhir.  Keduanya bahkan  bersama-sama melakukan kampanye untuk melawan rasisme dan memperjuangkan manifestasi hak-hak sipil dan kekerasan rasial selama bulan terakhir.| Worldnewsdailyreport|

back to top