Menu
Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Prev Next

Pembenci itu ditolong musuhnya

Pembenci itu ditolong musuhnya

Atlanta | Jasson Hoffman, pemuda 31 tahun, adalah anggota SkinHead yang menyebarkan teror dan kebencian atas ras yang berbeda di Atlanta. Suatu malam pada bulan Juni 2012, di jalanan yang mulai sepi, ia tergeletak dengan darah menggenanginya. Ia baru saja dipukuli dan ditusuk oleh suadara-saudaranya dalam keyakinan Neo-Nazi. Di antara hembusan nafasnya yang senggal dan darah yang terus mengalir dari luka-lukanya, seseorang tiba-tiba datang menolongnya. Penolong itu bernama Robert Brown. Seorang negro, sopir taxi yang kebetulan melihatnya.

Tetapi Jasson justru mengusirnya. Ia tak bisa membiarkan dirinya ditolong oleh seorang negro yang dibencinya sampai dasar hati. Tetapi, negro itu tetap ngotot dan menyuruhnya diam. Di saat itu ia memang diam karena pingsan.

"Aku begitu penuh kebencian, sampai ketika aku melihat dia datang untuk membantu, aku justru menyuruhnya untuk pergi. Aku katakan padanya aku tidak membutuhkan bantuan dari seorang negro. Tetapi, ia malah menyuruhku tutup mulut karena ia tak akan membiarkan aku mati. Orang keturunan Samaria yang baik itu kemudian membawanya dengan taxinya ke Atlanta Medical Center. Rumah sakit membutuhkan waktu lebih dari 15 jam perawatan intensif dan 16 transfusi darah sebelum akhirnya ia dinyatakan selamat.

Begitu ia sadar, Jasson bangun dengan sebuah pertentangan batin antara keyakinan lama dan nilai-nilai baru yang ia dapatkan.

"Sulit untuk mengakui bahwa mereka yang kuanggap sebagai saudara dan sekutu hampir membunuhku, dan seorang pria yang selama ini kuanggap sebagai makhluk inferior dan musuh telah menyelamatkan hidupku" jelas Jason Hoffman. "Seluruh duniaku terbalik dan sangat lama aku bisa menerima kenyataan ini."

Jasson Hoffman pada akhirnya memutuskan keyakinan rasisnya yang salah dan mengubah secara drastis jalan hidupnya. Ia kembali ke sekolah dan menyelesaikan kuliahnya di School of Social Work of the University of Georgia. Ia kemudian terjun dalam sebuah aktivitas sosial untuk membantu para militan Neo-Nazi dan rasis lainnya untuk menyingkirkan kebencian mereka.

Dia saat ini bekerja sebagai relawan selama dua tahun untuk sebuah organisasi yang melawan rasisme dan baru saja disewa oleh kota Atlanta untuk bekerja dengan tunawisma, pecandu narkoba dan orang-orang terpinggirkan lainnya di pusat kota.

Jason Hoffman dan pahlawannya Robert Brown, juga menjalin hubungan yang kuat selama beberapa tahun terakhir.  Keduanya bahkan  bersama-sama melakukan kampanye untuk melawan rasisme dan memperjuangkan manifestasi hak-hak sipil dan kekerasan rasial selama bulan terakhir.| Worldnewsdailyreport|

back to top