Menu
Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR Hemas Tekankan Penggunaan Teknologi dengan Bijak

Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR…

Jogj-KoPi| Universitas At...

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabatan Bagi 2.065 CPNS 2018

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabat…

Surabaya-KoPi| Pemerintah...

UGM dan Twente University Teliti Kandungan Panas Bumi di Bajawa NTT

UGM dan Twente University Teliti Ka…

Flores-KoPi| Peneliti UGM...

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V Pajero Indonesia ONE di Surabaya

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V P…

Surabaya-KoPi| Dalam rang...

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswedan Tekankan Nilai Integritas

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswe…

Jogja-KoPi| Fakultas Huku...

Pakde Karwo: Antara Operator dan Regulator Transportasi Tidak Bisa Dipisahkan

Pakde Karwo: Antara Operator dan Re…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres dan Cawapres

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres …

Lembah Tidar-KoPi| Senin ...

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu melaksanakan Out Bound

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu mela…

Lembah Tidar-KoPi| Minggu...

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program Kampus Sehat dan Bebas Asap Rokok

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program …

Jogja-KoPi| Departemen Te...

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalitas Kayu

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalita…

Bantul-KoPi| Tim Pengabdi...

Prev Next

Pembangunan Papua harus pertimbangan budaya

Pembangunan Papua harus pertimbangan budaya

KoPi-Jogja| Pembangunan di Papua perlu memperhatikan zona lokasi yang identik dengan budaya yang ada di Papua, sehingga pembangunan efektif.

Papua merupakan salah satu daerah terluas yang ada di Indonesia, luas wilayahnya mencapai 309.934,4 km2 atau 3 kalinya wilayah Jawa. Namun, sayangnya daerah ini mengalami isolasi pemerintahan dan isolasi budaya. Pembangunan yang dilakukan seragam tanpa melihat zona lokasi yang ada di Papua.

Dr.Johsz Mansoben, Antropolog UNCEN, mengatakan bahwa PaPua terdiri dari 4 zona lokasi adaptasi, yaitu daratan, pegununungan, rawa, dan laut. Mereka memiliki tingkat adaptif masing-masing.

"Tingkat adaptasi yang dimiliki oleh tiap masyarakat yang ada di 4 zona lokasi tersebut membentuk local knowledge atau biasa disebut lokal wisdom", jelas Josh dalam seminar Pembangunan Papua dari sudut pandang budaya, Kamis (2/6) di PKKH UGM.

Zona lokasi adaptif ini akan berpengaruh terhadap adaptasi masyarakat Papua termasuk pembangunan yang dilakukan di Papua. Ini dikarenakan kebutuhan mereka terhadap pembangunan berbeda-beda.

"Masyarakat yang berada di zona adaptif darat akan berbeda dalam tingkat kebutuhan dan adaptasi dengan masyarakat yang berada di zona lokasi rawa", papar Dr. Johan Mansoben.

Sementara itu, Dr. Laksmi Safitri, M.A, dosen antropologi Pasca Sarjana UGM, mengatakan bahwa pembangunan Papua juga harus memperhatikan budaya papua yang ada. Budaya yang muncul dari tiap-tiap daerah, budaya yang dinamis dan terus berkembang.

"Pembangunan harus memperhatikan budaya yang ada di Papua dimana masyarakat Papua saat ini budayanya masih terombang-ambing akibat masuknya transmigran yang membawa budaya-budaya baru dalam Papua", jelasnya.

Budaya-budaya baru ini mengakibatkan budaya papua dalam keadaan ambivalent, yaitu keadaan mencari jati diri.Pembangunan yang membebaskan masyarakat Papua dari posisi ambivalent ini perlu dilakukan sehingga masyarakat Papua dapat berkembang tanpa kehilangan identitasnya.

"Masyarakat Papua bisa bangga sebagai orang Papua, tidak malu dan percaya diri membawa Papua", jelas Dr. Laksmi Savitri.

Pembangunan di Papua juga harus menyoroti pengembangan kebudayaan Papua, bukan hanya pada infrastruktur dan fasilitas saja. Pengembangan penelitian terhadap budaya Papua perlu dilakukan untuk mengembangkan budaya Papua.

Namun, sayangnya research terhadap budaya Papua masih sedikit. "Research terhadap budaya Papua hanya dilakukan oleh beberapa orang saja, dan kebanyakan research mereka hanya untuk mendapatkan ijazah", tutur Dr. Johan Mansoben.

back to top