Menu
UGM Kembangkan Aplikasi Informasi Pengungsi Korban Bencana

UGM Kembangkan Aplikasi Informasi P…

Sleman-KoPi | Pusat Studi...

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pendeteksi dini bencana longsor bernama SIPENDIL.

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pend…

Sleman-KoPi | Tim penelit...

Bagaimana menjaga pola makan yang baik dan benar selama bulan Puasa.

Bagaimana menjaga pola makan yang b…

Inggris-KoPi| Inilah saat...

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap gunakan Narkoba.

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap…

Sleman-KoPi| Direktorat R...

Korut tunda pertemuan KTT bersama Korea Selatan.

Korut tunda pertemuan KTT bersama K…

Pyongyang-KoPi | Korea ut...

Protes Keras Tanoni :Australia Bebaskan Nelayan Yang Ditangkap.

Protes Keras Tanoni :Australia Beba…

Kupang-KoPi | Pemerintah ...

Jelang Puasa, Stok Barang Kebutuhan Pokok di Jatim Dipastikan Aman

Jelang Puasa, Stok Barang Kebutuhan…

Surabaya-KoPi|Menjelang b...

Pemerintah Bantul Siap Dukung Kontes Robot Indonesia di UMY

Pemerintah Bantul Siap Dukung Konte…

Sleman-KoPi| Menjelang pe...

Tahun Politik, Akun Buzzer di Media Sosial Bermunculan

Tahun Politik, Akun Buzzer di Media…

Sleman-KoPi| Menjelang pi...

Prev Next

Pelabuhan Muara Angke Yang Tidak Layak

Dermaga yang tidak layak namun tetap dipadati oleh wisatawan Dermaga yang tidak layak namun tetap dipadati oleh wisatawan

Pasar, sebuah kata yang tidak asing di telinga yang biasanya berfungsi sebagai tempat bertemunya para penjual dan pembeli untuk melakukan transaksi.
Berbeda dengan  pasar lainnya, di tempat ini bukan hanya terdapat penjual dan pembeli namun juga terdapat  pemukiman nelayan, dan yang paling membedakan dengan pasar-pasar lainnya di pasar ini juga terdapat sebuah pelabuhan, inilah Pasar Ikan Muara Angke  yang terletak di kawasan Jakarta Utara.

Di dalam pasar ini terdapat sebuah pelabuhan tempat kapal-kapal kayu mengangkut wisatawan lokal dan asing yang hendak mengunjungi wilayah Kepulauan seribu. Pelabuhan ini bukanlah pelabuhan nyaman dan layak untuk para wisatawan. Mengapa? Karena di pelabuhan ini wisatawan akan disuguhi dengan jalan yang becek berasal dari campuran air dan lumpur, lalu wisatawan juga akan mengendus bau amis yang berasal dari ikan-ikan yang dijual di pasar ini maupun ikan-ikan yang masih baru tiba di pelabuhan. Di  pelabuhan ini juga tidak terdapat dermaga yang layak sehingga wisatawan yang hendak naik ke dalam kapal harus mengantri bergantian melewati empat anak tangga dengan hati-hati agar tidak tercebur ke laut.

Tanpa dermaga yang layak kapal-kapal Ferry itu bersandar.  Kapal Ferry yang ada disini bukan seperti kapal Ferry yang terdapat di pelabuhan Merak-Bakauheni atau Gilimanuk-Ketapang, yang dimaksud kapal Ferry di sini adalah sebuah kapal yang dibuat dari kayu dengan mesin berbahan bakar solar, kapal ini biasanya mampu mengangkut 150 hingga 500 orang penumpang tergantung dari kapasitas masing-masing kapal.

Sebagian dari kapal Ferry memiliki kondisi yang tidak layak untuk wisatawan, mulai dari tidak adanya kursi penumpang hingga tidak ada ruangan khusus barang yang menyebabkan bercampurnya penumpang dengan barang bawaan, seperti: sepeda motor, sayur mayur, ikan-ikan, dan benda mati lainnya. Penumpang akan mengalami hal ini di bagian kapal lantai 1, jadi bila penumpang tidak ingin bercampur dengan barang bawaan, maka mereka harus datang lebih pagi agar mendapat posisi tempat duduk di bagian kapal lantai 2. 

Kondisi seperti ini bukan hanya dialami oleh wisatawan lokal, namun juga dialami oleh wisatawan mancanegara yang berasal dari negara lain. Kondisi seperti ini tentu akan meninggalkan kesan di benak mereka betapa kumuhnya Indonesia. Namun, mayoritas wisatawan lokal tidak terlalu mempermasalahkan kondisi seperti ini karena dengan memilih keberangkatan dari Pelabuhan Pasar Ikan Muara Angke akan menghemat pengeluaran mereka yang biasanya memiliki budget pas-pasan untuk berwisata ke Pulau Seribu. Salah seorang penumpang kapal Ferry mengatakan hal tersebut.
“Emang udah resikonya becek dan bau karena kalau dari Angke paketnya murah, kalau paket dari Marina Ancol harganya mahal, jadi kelompok kita pilih via Angke” tutur Vivi salah seorang penumpang yang hendak berangkat menuju pulau Pari.

Kapal Ferry yang terdapat di pelabuhan ini mulai mengangkut penumpang dari pukul 07:00 WIB hingga pukul 11:00 WIB dengan tujuan yang berbeda, misalnya: KMP Ratu Serinding dan Sinar laut tujuan Pulau Pari, KMP Bina Karya dan Pesona Alam tujuan Pulau Pramuka, KMP Jahro Express tujuan Pulau Tidung, dan KMP Raja Mas tujuan Pulau Harapan. Harga tiket yang ditawarkan yaitu Rp 45.000,00 untuk tujuan Pulau Pari, Pramuka dan Tidung serta Rp 55.000,00 untuk tujuan Pulau Harapan.

Sangat berbeda dengan tiket kapal cepat yang berangkat dari Dermaga Marina Ancol, jika kapal Ferry pada hari biasa dan akhir pekan hanya mematok harga Rp 45.000,00 untuk tujuan Pulau Pari, maka tiket kapal cepat ini berkisar Rp 125.000 pada hari biasa dan Rp 150.000,00 pada akhir pekan. Perbandingan harga tiket yang terpaut jauh membuat masyarakat lebih memilih kapal ferry sebagai transportasi mereka menuju Kepulauan Seribu dan mengesampingkan kenyamanan mereka.

 

back to top