Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

Pedagang jagung bakar ini meraup Rp 30 juta per bulan

Pedagang jagung bakar ini meraup Rp 30 juta per bulan
KoPi|Bagi sementara orang, bisnis jagung bakar mungkin dianggap tak terlalu menguntungkan. Tetapi usaha bukanlah perkara anggapan. Di Kasihan, Bantul, Yogyakarta, pedagang jagung bakar ini menepis pesimisme banyak orang. Dalam satu malam, pedagang ini setidaknya meraup penghasilan sekitar Rp. 1 juta hingga Rp 1,5 juta. Dalam sebulan hasil kotornya sekitar Rp. 30 juta.

Jagung Bakar Pohon Beringin atau Jagung Bakar Depan SD adalah sebutan tempat yang dimaksud itu. Lapak jagung bakar itu terletak di depan SD Rejodadi di Jalan Brengosan , Ngestiharjo, Kasihan, Bantul atau di pertigaan jalan. Tetapi, pohon beringin yang merupakan ikon tempat ini sudah tidak ada.Jadi, untuk menemukan lokasi itu adalah SD yang berada tepat di belakang Jagung bakar.

Pemilik lapak sederhana ini sepasang suami istri. Mereka biasanya menjual jagung bakar dari pukul 16.00 hingga pukul 23.00 WIB. Bisnis ini sudah mereka lakoni hampir sepuluh tahun sejak 2007.

“Ya kami sudah jualan di sini sejak merapi meletus itu, Mas. Sebelumnya kami sudah jualan jagung bakar tiga tahun. Jadi kalau terhitung pas tahun baru, kita sudah jualan selama sepuluh tahun,” cerita Bu Sarti sembari membakar jagung untuk melayani pembeli yang berjubel malam itu.

Harga jagung bakar di sini antara Rp 3000; dan Rp 5000; serta Rp 6000 saat-saat tertentu seperti tahun baru. Harga pertama untuk jenis jagung Jawa. Sementara harga ke dua untuk jenis jagung manis. Selain rasa, ukuran jagung manis memang lebih besar ketimbang jagung jenis Jawa.

Suami istri ini mengaku setiap malam rata-rata terjual 300 pcs atau 100 kg jagung. Tetapi di malam-malam tertentu seperti tahun baru mereka bahkan bisa menjual hingga 300 kg jagung.

“Untuk semalam bisa habis 1 kwintal, Mas, atau 300 jagung, kalau tahun baru ya sekitar 3 kwintal," menurut Bu Satri.

Jagung bakar di lapak ini diberikan tiga variasi rasa seperti asin-manis , pedas sedang, dan pedas banget.

"Itu semua pakai bumbu sambal, Mas," jelas Bu Satri.

Menurut beberapa pengunjung menariknya jagung bakar Bu Satri ini terletak di rasa bumbu sambalnya. Banyak orang terkesan dengan bumbu sambalnya. Jadi, meskipun lokasinya agak tersembunyi tetapi banyak orang mencarinya.

"Bumbu sambalnya lebih enak ketimbang tempat lain," kata Wahyu mahasiswa UIN Kalijaga yang sengaja memburu jagung bakar milik Bu Satri.

Menurut Bu Satri, selama ini memang banyak orang justru memesan sambal jagung buatannya.

“Ya sampai –sampai ya Mas, ada orang yang pesan untuk beli sambalnya. Apalagi pas tahun baru, banyak yang pesan, baik itu jagung bakar atau sambalnya,” jelas perempuan setengah baya yang ramah ini. |Syaiful  Adi|

back to top