Menu
Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR Hemas Tekankan Penggunaan Teknologi dengan Bijak

Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR…

Jogj-KoPi| Universitas At...

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabatan Bagi 2.065 CPNS 2018

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabat…

Surabaya-KoPi| Pemerintah...

UGM dan Twente University Teliti Kandungan Panas Bumi di Bajawa NTT

UGM dan Twente University Teliti Ka…

Flores-KoPi| Peneliti UGM...

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V Pajero Indonesia ONE di Surabaya

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V P…

Surabaya-KoPi| Dalam rang...

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswedan Tekankan Nilai Integritas

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswe…

Jogja-KoPi| Fakultas Huku...

Pakde Karwo: Antara Operator dan Regulator Transportasi Tidak Bisa Dipisahkan

Pakde Karwo: Antara Operator dan Re…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres dan Cawapres

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres …

Lembah Tidar-KoPi| Senin ...

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu melaksanakan Out Bound

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu mela…

Lembah Tidar-KoPi| Minggu...

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program Kampus Sehat dan Bebas Asap Rokok

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program …

Jogja-KoPi| Departemen Te...

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalitas Kayu

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalita…

Bantul-KoPi| Tim Pengabdi...

Prev Next

Pasar seni rupa tidak sepi, tapi sepi karya bagus

Pasar seni rupa tidak sepi, tapi sepi karya bagus
Tahun 2008, pasar seni rupa Jogja mengalami booming. Banyak pelukis mendapatkan rezeki itu. Masuk di tahun 2009, semua berubah. Tiba-tiba orang menyebutnya paceklik. Sebenarnya apa yang terjadi? Sepi pembeli atau karya bagus?

Jogja-KoPi| Ada perbedaan pendapat soal kondisi ini. Beberapa seniman dengan tegas menyebut kondisi pasca booming, pasar sepi. Artinya, tidak ada geliat transaksi di galeri-galeri atau studio pelukis dan pameran seni rupa.  Ini adalah masa-masa sulit. Masa paceklik.

Di masa booming, transaksi penjualan karya seni rupa terasa begitu masif. Banyak pelukis mendapatkan berkah besar dengan nilai penjualan setiap pelukis bisa mencapai milyaran. Bukan saja pelukis yang sudah dengan jam terbang tinggi, pelukis kelas mahasiswa pun banyak yang mendadak kaya .

Menurut beberapa seniman, kondisi booming yang wajar dalam sebuah peristiwa pasar. Secara psikologis, pembandingan situasi itu menyebabkan kontradiksi kondisi, dimana satu sisi menunjukkan situasi yang makmur, di sisi lain ada suasana sebaliknya. Jika diukur dari sisi booming, akhirnya terasa sepi.

Heri Pemad, misalnya, lebih menganggap pasar seni tidak sepi. "Ada persoalan yang sering diabaikan para seniman. Bila seniman melakukan pameran, misalnya, dengan bermaksud menjual ya semestinya menyiapkan diri untuk menjual, yaitu mengemas pameran menjadi sesuatu yang menarik dan gila dan tentu harus mendatangkan kolektornya agar membeli lukisan . Bila itu tidak dilakukan, jangan mengeluh", katanya.

"Sepi menjadi relatif. Sementara seniman mungkin merasa sepi, tapi banyak pula seniman yang lukisannya terjual bahkan dengan harga puluhan hingga milyaran rupiah". Menurut Pemad. "Pasar tidak sepi, tetapi sebenarnya sepi karya bagus".

"Iya, pasar gak sepi kok, biasa. tapi yang sepi itu karya yang benar-benar bagus sekarang. Itu tidak disadari banyak seniman. Bila seniman benar-benar gila dengan karyanya, kolektor pasti akan datang membeli." Heri Pemad mengatakan.

Dedi Sufriaydi, pelukis abstrak yang tinggal di sebuah hutan jati di Bantul, mirip dengan Heri Pemad. Menurut Dedi Sufriyadi, dirinya sebenarnya tidak menikmati booming, tetapi pasca booming justru ia menikmati yang disebut orang sebagai pasar. Di ujung tahun lalu, misalnya, lukisannya sold out dalam pameran Between Inteligency and Intuition di Ode to Art, Singapura.

Dedi sepakat dengan Heri Pemad soal manejemen diri pelukis. Saat ini apa yang dibutuhkan seniman adalah kesadaran membangun citra dan jaringannya. Menurutnya, seniman Indonesia memiliki teknis yang sangat baik. Tinggal bagaimana mengaturnya.

"Kalau pasar di dalam negeri dianggap sepi, sebenarnya ada pasar dunia masih ramai membeli karya-karya seniman yang bagus," ujarnya.

Pandangan Dedi Sufriyadi juga diakui AT Sitompul. Pelukis abstrak ini bahkan adalah penikmat booming selama setahun penuh. Secara batin, benturan kondisi dari makmur menjadi nihil kembali cukup memberinya pelajaran tentang manajemen. Tentang pandangan Dedy, ia sepakat bahwa kualitas karya baik teknis seniman Indonesia termasuk terbaik. Pasar dunia juga masih bisa melirik Indonesia.

Saat ini, menurut Sitompul, ada isu global yang akan menempatkan tiga negara Asia sebagai pasar besar. Tiga negara itu Indonesia, India dan Thailand.

"Kenapa kita yang dincar, bukan Eropa? Karena ternyata karya-karya yang dibikin negara berkembang lebih nge-soul.. ngga usah jauh-jauh dech, suruh melukis orang kaya sama orang miskin lebih nge-soul mana.  Orang miskin beli tinta aja."

Optimisme ini menarik, ketika sebagian banyak seniman lesu karena merasa pasar sepi. Karena sepi hanya persoalan tak terlibat dalam dunia yang lebih luas. Mungkin benar kata Heri Pemad, pasar tidak sepi yang sepi adanya karya-karya yang benar-benar bagus. Nah, Bagaimana?| Ranang Aji SP| Winda Efanur FS| Chusnul Chotimmah


back to top