Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Partikel bebas di pabrik peninggalan Mangkunegara IV

Partikel bebas di pabrik peninggalan Mangkunegara IV

Pabrik gula berusia lebih dari 100 tahun itu, masih berdiri kokoh. Pabrik Gula yang dikenal sebagai Colomadu itu berdiri tahun 1861 di Karanganyar. Meskipun tak lagi beroperasi dari sembilan tahun lalu, pabrik ini bukan berarti tak berfungsi. Seniman kawakan Sardono W Kusumo menjadikannya hidup melalui pergelaran kebudayaan Sardono's Restropektive: fabrik Fikr.

KoPi| Pabrik yang telah lama mati itu, kini hidup kembali. Sebuah awal kehidupan baru yang berbeda dengan sebelumnya. Sebuah pentas tengah diperagakan oleh beberapa penari latar dengan tema koreografi partikel bebas, dimana para penari menari bebas lepas bergelut dengan mesin-mesin yang sudah lama tidak beroperasi. 

Mesin-mesin tersebut tampak memiliki nyawa kembali dengan hadirnya para penari yang bebas berekspresi memainkan setiap lekak lekuk dari sang mesin. Hal yang tak pernah terpikirkan sebelumnya, penyatuan elemen mesin zaman kolonial dengan penari zaman sekarang.

Di dalam P.G Colomadu terdapat 3 view dalam pagelaran ini (mesin, tanah, dan alam) dengan masing-masing tempat memiliki makna tertentu dari masing-masing penari dalam merealisasikan kegelisahan, kesedihan dan kesenangannya melalui seni olah tubuh. Segala macam bentuk tarian yang ada merupakan hasil abstraksi dari seorang penari terhadap kehidupan sekarang ini.

Kehidupan yang tak dapat terpisahkan dari mesin dan teknologi merupakan salah satu abstraksi yang ditampilkan oleh para penari. Abstraksi tersebut merupakan sebuah “protes” yang sama yang digambarkan Mangkunegara IV untuk mengubah zaman agraris ke zaman industri dibuktikan dengan berdirinya P.G Colomadu sebagai salah satu bentuk teknologi yang mengubah sebuah peradaban lama.

Penari partikel bebas merupakan gambaran kebebasan manusia dalam hidup di dunia. Menari dengan ekpresi diri yang terlihat tanpa ada beban menghiasi jalannya acara dari awal hingga akhir.

“Di sini kita tidak ada judulnya, kita dibebaskan untuk bereksplorasi dalam bentuk tarian dengan besi-besi tua di P.G Colomadu ini. Mengeksplorasikan setiap ide dan gagasan yang ada di pikiran kita”, jelas Meta, salah seorang penari partikel bebas dalam pagelaran seni ini.

Selain itu, melalui pameran seni rupa oleh Sardono, Pabrik yang dulunya ingin di hancurkan demi bangunan modern kini kembali diperkenalkan kepada dunia dan daerah setempat. Mitos keangkeran bangunan P.G Colomadu yang lama hidup dimasyarakat kini dihapus dengan cara yang mengesankan. Sebuah pargelaran seni berkonsep internasional menyapu bersih setiap sisi keangkeran dari P.G Colomadu, dengan harapan agar kedepan bangunan tua ini dijadikan masyarakat dan pemerintah sebagai situs yang bersejarah.

P.G Colomadu dipilih oleh Sardono dalam merealisasikan pameran seni rupanya yang pertama kali di Indonesia dengan persiapan 1,5 tahun. Hal ini merupakan langkah awal untuk memperkenalkan kepada masyarakan tentang sejarah P.G Colomadu ketika menjadi aktor utama dalam meningkatkan perekonomian daerah dimasa lampau. Sebuah awal pendobrakan untuk mencapai kehidupan yang lebih baik dengan hidup bersama mesin dan bebas berekspresi untuk mencapai sebuah kemajuan. |Cucuk Armanto│Frenda Yentin│

back to top