Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

Parade Dagelan Mataram Karya Basiyo di Taman Budaya Yogya

Parade Dagelan Mataram Karya Basiyo di Taman Budaya Yogya

Jogja-KoPi| Yogyakarta adalah kota budaya yang banyak menyimpan potensi kesenian dan juga gudangnya seniman, yang memberikan warna bagi perkembangan kesenian yang ada di Yogyakarta. Tokoh-tokoh tersebut antara lain telah memberikan dedikasi pada dunia kesenian dan memiliki sejarah yang panjang, produktif dengan karyanya dan telah memberikan sumbangan bagi pertumbuhan kesenian di Yogyakarta.

Salah satu tokoh yang layakmendapatkan predikat itu adalah Pelawak Basiyo. Sebagai maestro lawak, Basiyo telah mencapai puncak pencapaian estetis dan kultural. Karya-karyanya berdampak sosial-budaya. Ini antara lain, ditandai dengan tumbuhnya tradisi lawak yang dipengaruhi dagelan mataram. Srimulat, dan kelompok-kelompok lawak lainnya di berbagai daerah, tidak lepas dari “virus kreatif” Basiyo.

Berangkat dari gagasan diatas, Taman Budaya Yogyakarta memberi anugerah Gelar Maestro kepada Basiyo. Tidak hanya memberi anugerah gelar maestri, Taman Budaya Yogyakarya juga akan mengangkat 10 karya Basiyo yang akan dihadirkan dalam sebuah pentas Parade Dagelan Mataram pada 18-19 Desember 2015 di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta. Acara ini terbuka untuk dan gratis, kegiatan dimulai pukul 19.30 WIB sampai selesai.

“Penganugerahan gelar maestro terhadap tokoh Basiyo karena memiliki andil besar dalam perkembangan dunia lawak/dagelan di Yogyakarta. Karya-karya Basiyo berdampak secara sosial budaya dan menjadi inspirator bagi perkembangan lawak di Indonesia. Selain itu, Basiyo dipandang memiliki intensitas berkarya, integritas, komitmen, dedikasi, dan karakter dalam berkarya,” ungkap Drs. Diah Tutuko Suryandaru, Kepala Taman Budaya Yogyakarta.

Gelar Karya Maestro Basiyo Dagelan Mataram diikuti 10 grup dagelan di Yogyakarta, 5 grup mewakili daerah administratif DIY, yakni grup dari Sleman, Bantul, Gunungkidul, Kulonprogo dan Kota Yogyakarta, sedangkan 5 grup lainnya dari grup dagelan Yogyakarta, yakni keluarga besar Basiyo, Essem, mBeling, Hasmi dan Marwoto dkk. Cerita yang diusung adalah karya-karya populer Basiyo.

“Sebagai ajang pengembangan kreativitas, diharapkan setiap grup dapat mengapresiasi karya-karya Basiyo, dan dapat diapresiasi pula oleh masyarakat serta mampu menarik generasi muda untuk mencintai karya seni budaya,” lanjut Drs. Diah Tutuko Suryandaru.

Indra Tranggono, salah satu nara sumber program ini, mengungkapkan bahwa jauh sebelum orang mengenal stand up comedy, Basiyo telah melakukannya. Ia selalu tampil dengan gaya monolog (ngundurasa) dalam setiap lakon dagelan mataram.

Kunci lawakan Basiyo antara lain ada pada cara pandang yang unik dan subversif. Ia mampu menampilkan realitas sosial dalam versinya sendiri yang khas dan otentik. Ia selalu mampu melucukan peran apa saja, dari juragan kaya, makelar, maling, pengamen ketoprak, hingga tukang becak, dalam berbagai situasi. Kelucuan Basiyo pun meledak karena dibangun logika dan imajinasi yang dimain-mainkan.

“Mengenang Basiyo adalah mengenang keunikan dan kecerdasan cara pandang serta kreativitasnya. Kunci lawakan Basiyo antara lain ada pada cara pandang yang unik dan subversif. Ia mampu menampilkan realitas sosial dalam versinya sendiri yang khas dan otentik. Lawakan Basiyo selalu aktual. Tak basa-basi. Menembus ruang dan waktu. Orang selalu tertawa setiap mendengar lawakan dia. Budayawan Umar Kayam bilang, Basiyo itu pengamat sosial yang baik. Ia mampu menyampaikan reportase sosial itu dengan kelucuan yang bermutu,” tandas Indra Tranggono. (*)

back to top