Menu
Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR Hemas Tekankan Penggunaan Teknologi dengan Bijak

Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR…

Jogj-KoPi| Universitas At...

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabatan Bagi 2.065 CPNS 2018

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabat…

Surabaya-KoPi| Pemerintah...

UGM dan Twente University Teliti Kandungan Panas Bumi di Bajawa NTT

UGM dan Twente University Teliti Ka…

Flores-KoPi| Peneliti UGM...

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V Pajero Indonesia ONE di Surabaya

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V P…

Surabaya-KoPi| Dalam rang...

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswedan Tekankan Nilai Integritas

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswe…

Jogja-KoPi| Fakultas Huku...

Pakde Karwo: Antara Operator dan Regulator Transportasi Tidak Bisa Dipisahkan

Pakde Karwo: Antara Operator dan Re…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres dan Cawapres

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres …

Lembah Tidar-KoPi| Senin ...

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu melaksanakan Out Bound

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu mela…

Lembah Tidar-KoPi| Minggu...

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program Kampus Sehat dan Bebas Asap Rokok

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program …

Jogja-KoPi| Departemen Te...

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalitas Kayu

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalita…

Bantul-KoPi| Tim Pengabdi...

Prev Next

Pameran perupa muda Yogya "Femme Vitale"

Pameran perupa muda Yogya "Femme Vitale"

Jogja-KoPi| Femme Vitale atau perempuan yang misterius dan penuh pesona menjadi judul pameran bersama beberapa seniman muda Jogjakarta di tanggal 03 hingga 12 Mei mendatang. Pameran yang dikuratori oleh Yosep Arizal ini akan menyajikan karya-karya lukisan, patung, batik, dan juga instalasi.

Pameran ini mencoba memperkenalkan pemikiran serta istilah baru dalam dunia feminism, melainkan juga mencoba untuk mempertanyaan kembali keabsahan dogma Femme Fatale yang sudah menjamur.

Selain itu juga untuk mengetahui respon para seniman yang terlibat di dalamnya –seperti: Arche Priangsari, Idham, Prima Yoga Artika, Veronica Liana, Rangga Jalu Pamungkas, Dadang Kurnia, Saparul “Phalonk” Anwar, Fanny Octavia Santoso, Pande Gotha Antasena, Hari Ndaruwati dan Lisa Utami– akan permainan kata dan peninjauan ulang akan dogma kultural Femme Fatale melalui medium artistik serta konsep estetik mereka masing-masing.

Karya-karya yang disajikan di dalam pameran ini tidak hanya meninjau ulang konsep-konsep Femme Fatale serta posisi-posisi vital seorang perempuan –yang menjadi asal-usul munculnya Femme Vitale– dari satu sudut pandang waktu dan tempat dalam atmosfer satu kebudayaan, melainkan secara diakronis.

Karena itulah realitas yang kita hadapi seputar stigma umum Femme Fatale serta kebenaran-kebenaran akan posisi vital perempuan dalam kehidupan, kebenaran-kebenaran yang jelas namun masih terasa berat untuk kita amini keberadaannya.

Latar belakang budaya yang beraneka ragam dari masing-masing peserta pameran –yang secara tidak sadar tercermin dari karya-karya mereka– menunjukkan bahwa konsep Femme Fatale serta Femme Vitale itu ada dalam budaya-budaya yang melatarbelakangi kehidupan serta proses kreatif mereka. Walaupun konsep-konsep tersebut penamaannya diambil dari kebudayaan Barat namun tidak bisa dipungkiri bahwa realitas kasusnya juga terjadi di negara-negara Timur, termasuk Indonesia.

back to top