Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

Pameran perupa muda Yogya "Femme Vitale"

Pameran perupa muda Yogya "Femme Vitale"

Jogja-KoPi| Femme Vitale atau perempuan yang misterius dan penuh pesona menjadi judul pameran bersama beberapa seniman muda Jogjakarta di tanggal 03 hingga 12 Mei mendatang. Pameran yang dikuratori oleh Yosep Arizal ini akan menyajikan karya-karya lukisan, patung, batik, dan juga instalasi.

Pameran ini mencoba memperkenalkan pemikiran serta istilah baru dalam dunia feminism, melainkan juga mencoba untuk mempertanyaan kembali keabsahan dogma Femme Fatale yang sudah menjamur.

Selain itu juga untuk mengetahui respon para seniman yang terlibat di dalamnya –seperti: Arche Priangsari, Idham, Prima Yoga Artika, Veronica Liana, Rangga Jalu Pamungkas, Dadang Kurnia, Saparul “Phalonk” Anwar, Fanny Octavia Santoso, Pande Gotha Antasena, Hari Ndaruwati dan Lisa Utami– akan permainan kata dan peninjauan ulang akan dogma kultural Femme Fatale melalui medium artistik serta konsep estetik mereka masing-masing.

Karya-karya yang disajikan di dalam pameran ini tidak hanya meninjau ulang konsep-konsep Femme Fatale serta posisi-posisi vital seorang perempuan –yang menjadi asal-usul munculnya Femme Vitale– dari satu sudut pandang waktu dan tempat dalam atmosfer satu kebudayaan, melainkan secara diakronis.

Karena itulah realitas yang kita hadapi seputar stigma umum Femme Fatale serta kebenaran-kebenaran akan posisi vital perempuan dalam kehidupan, kebenaran-kebenaran yang jelas namun masih terasa berat untuk kita amini keberadaannya.

Latar belakang budaya yang beraneka ragam dari masing-masing peserta pameran –yang secara tidak sadar tercermin dari karya-karya mereka– menunjukkan bahwa konsep Femme Fatale serta Femme Vitale itu ada dalam budaya-budaya yang melatarbelakangi kehidupan serta proses kreatif mereka. Walaupun konsep-konsep tersebut penamaannya diambil dari kebudayaan Barat namun tidak bisa dipungkiri bahwa realitas kasusnya juga terjadi di negara-negara Timur, termasuk Indonesia.

back to top