Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Pak Ahok, maaf saya bilang tahi!

Pak Ahok, maaf saya bilang tahi!
Siapa yang tidak kenal dengan sosok Basuki Tjahaja Purnama atau kerap dipanggil Ahok? Orang nomor satu di Jakarta ini memang sudah lama menjadi perbincangan masyarakat. Bahkan beragam hashtag di media sosial Twitter beberapa kali menjadi topik teratas yang dibicarakan.

Pemuda pemudi yang tidak kenal dekat dengan Ahok turut pula memberi gerakan pembelaan mengenai konflik belakangan yang ada. Ahok menjadi sosok yang digemari karena keberaniannya menentang kebijakan. Saya suka dengan caranya memberantas korupsi, meminimalisir pengeluaran, membuat Jakarta menjadi lebih baik.

Senang sekali rasanya melihat Ahok beberapa kali muncul di televisi. Berbicara mengenai kinerjanya terhadap Jakarta yang akan diperbaiki. Sehingga apapun kesempatannya, saya akan menonton Ahok saat diwawancara televisi. Mungkin televisi saya saat itu sedang rusak, sehingga memunculkan suara yang tidak sepatutnya keluar. Apalagi saat itu sedang wawancara live di sebuah media lokal, pasti ini kekeliruan terhadap televisi saya sendiri. Tapi berkali-kali dan terus menerus kata itu keluar, bahkan sudah diingatkan oleh pembawa acaranya.

Ada jutaan orang yang menonton, menyaksikan bagaimana sosok yang kerap menjadi tranding topic ini mengemukakan pendapatnya. Dan pasti ada banyak sekali anak kecil yang turut menemani, melihat seperti apa sosok yang dikagumi orang tuanya. Ah.. Semoga saja pikiran anak-anak tidak menangkap secara telanjang tentang apa yang Ahok ucapkan. Atau semoga saja anak-anak lebih memilih menonton sinetron yang setidaknya masih memiliki tata bahasa yang santun.

Saya paham, saat itu Ahok sedang sangat emosi, tidak terkontrol dengan apa yang diucapkanya keluar begitu saja. Saya juga pernah mengumpat kepada kawan saya ketika sangat marah. Tapi saya yakin, Ahok yang mendapat gelar insinyur dari universitas terkemuka di Jakarta ini belajar mengenai komunikasi. Etika berbicara di media masa, menjadi public figure atau tuntunan banyak orang.

Jujur saja, sejak kecil saya selalu bangga dengan orang yang bermunculan di televisi, lalu saya akan meniru setiap perkataannya. Karena menurut saya, orang-orang terbaiklah yang akan berbicara di televisi. Saya sering meniru perkataan tokoh yang diwawancarai untuk saya diskusikan dengan teman-teman, setidaknya saya akan kelihatan sedikit memiliki pengetahuan walaupun harus mengutip perkataan orang. Lalu, jika kemarin yang saya tonton adalah sosok Ahok yang mengumpat kata ‘tahi’ berkali-kali, maka saya akan dengan wajar berkata tahi, karena figur yang saya banggakan saja berkata seperti itu. Kata tahi yang saya ucapkan pasti akan terkesan intelektual di mata teman-teman. | Labibah

back to top