Menu
Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Doa bersama Memperingati Hari Kesaktian Pancasila di Masjid Al-Jihad Akmil Magelang

Doa bersama Memperingati Hari Kesak…

KoPi-Lembah Tidar. Minggu...

Prev Next

Otak pentium manusia

: www.lintas.me : www.lintas.me

Saat bekerja menggunakan komputer, anda mungkin merasa jengkel ketika komputer yang anda gunakan bekerja ternyata menjadi lemot atau loading terlalu lama bagai menggunakan computer Pentium satu, padahal anda sedang terburu-buru untuk menyelesaikan suatu pekerjaan. Sekarang bayangkan jika komputer itu adalah anda, yang bekerja lemot padahal hasil kerjaan anda sedang ditunggu oleh bos anda. Omelan panjang pasti akan keluar dari mulut si bos.

Lemot atau lemah otak adalah bahasa gaul yang sering dipakai oleh anak muda sekarang, yang mencirikan daya tangkap seseorang berkurang dan tidak berenergik. Orang lemot biasanya sulit untuk mengambil keputusan dan berpikir cerdas. Motivasi dan gariah kerja mereka pun menurun sehingga membuat rutinitas kerja menjadi sangat membosankan, yang berakibat mereka menjadi menunda-nunda pekerjaan.

Seseorang mungkin bertanya-tanya mengapa dirinya lebih 'lemot' atau mengalami kesulitan belajar daripada rekan-rekannya. Menurut penelitian terbaru, hal ini disebabkan karena adanya perbedaan kemampuan otak dalam memproses informasi yang cukup.

Informasi tersebut akan lebih mudah dan cepat diproses oleh otak jika seseorang peka terhadap rangsangan, misalnya sentuhan, pendengaran atau penglihatan. Jika Anda mampu merespons rangsangan dengan baik dan otak mampu memprosesnya dengan cepat, Anda tidak akan mengalami kesulitan dalam belajar. Seberapa baik kemampuan seseorang dalam belajar sebenarnya dipengaruhi oleh aspek genetik, anatomi otak individu, dan juga perhatian terhadap materi yang dipelajari.


Dalam beberapa tahun terakhir ini, para peneliti membentuk prosedur penelitian yang fokus pada kemampuan otak saja. Sehingga, faktor perhatian diabaikan dalam penelitian, yang dilakukan oleh para peneliti yang berasal dari Ruhr-Universitat, Humboldt Universitat zu Berlin, Charite-Universitatsmedizin Berlin, dan Max Planck Institute (MPI) for Human Cognitive and Brain Sciences.

Peserta penelitian berulangkali diberi rangsangan sentuhan selama 30 menit dengan listrik yang merangsang kulit tangan. Sebelum dan sesudah penelitian peneliti mengukur perbedaan respons dan menetapkan batasan sensitivitas peserta terhadap sentuhan.

Peneliti menerapkan tekanan lembut pada tangan peserta dengan menggunakan 2 jarum dan menentukan jarak terkecil antara jarum, di mana peserta masih dianggap mampu merespons rangsangan yang terpisah. Rata-rata, pelatihan pasif tersebut dapat meningkatkan ambang diskriminasi hingga 12 persen, tetapi sekitar 26 peserta tidak mengalami hal ini.

Tim peneliti kemudian menggunakan alat yang disebut dengan EEG (elektroensefalografi) untuk mempelajari mengapa beberapa orang belajar lebih baik daripada yang lain. Alat tersebut mengalirkan gelombang alpha yang dapat digunakan untuk mengetahui seberapa efektif otak memanfaatkan informasi sensorik yang diperlukan untuk belajar.

"Selain itu, gelombang alfa tersebut mungkin dapat dijadikan sebagai salah satu sarana terapi untuk meningkatkan proses belajar atau penyembuhan setelah cedera otak," kata Hubert Dinse dari Ruhr-Universitat, yang memimpin penelitian.
Penelitian menunjukkan bahwa setiap orang memiliki kemampuan otak yang berbeda-beda dalam mengakses informasi sensorik tersebut. Sehingga kadang ada orang yang membutuhkan lebih banyak waktu untuk belajar sesuatu daripada orang yang lain, atau sebaliknya.

Lemot Dapat Menular

Sebuah penelitian membuktikan sejenis virus bisa menyebabkan penurunan tingkat kecerdasan otak pada orang yang terinfeksi. Terbukti pula, hampir 50 persen populasi di Amerika Serikat terinfeksi virus tersebut.
Virus bernama chlorovirus ATCV-1 yang hidup di tenggorokan tersebut ditemukan pada 44 persen pasien yang diuji dalam sebuah penelitian skala kecil. Hasil pemeriksaan menunjukkan, pasien yang terinfeksi mengalami penururunan tingkat kecerdasan.

Semula, virus ini ditemukan hanya pada alga hijau di danau air tawar. Bahkan, belum pernah ditemukan menginfeksi perenang maupun penggemar olahraga air. Diyakini sebelumnya, virus ini hanya menular ke sesama tanaman alga.

Para ilmuwan dari Johns Hopkins University di Baltimore dan University of Nebraska tidak menjelaskan bagaimana virus ini masuk ke manusia. Dikutip dari news.com.au, Selasa (11/11/2014), laporan di jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences menunjukkan ATCV-1 bisa mengubah gen-gen di otak.

Dalam sebuah eksperimen pada tikus, infeksi virus ini terbukti menyebabkan penurunan memori dan fungsi otak. Tes menunjukkan bahwa virus tersebut merusak pembatas antara darah dan jaringan, mengubah aktivitas gen di otak tikus. Salah satu gen yang terpengaruh adalah gen penghasil dopamin, hormon yang mengontrol ingatan.

"Semakin banyak studi yang menunjukkan bahwa mikroorganisme di tubuh punya pengaruh yang lebih besar dari yang pernah diprediksi oleh siapapun," kata Prof James Vam Etten, ahli biologi dari University of Nebraska yang pertama kali mengidentivikasi ATCV-1 pada alga, 30 tahun silam.

back to top