Menu
Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Doa bersama Memperingati Hari Kesaktian Pancasila di Masjid Al-Jihad Akmil Magelang

Doa bersama Memperingati Hari Kesak…

KoPi-Lembah Tidar. Minggu...

Prev Next

Or Noir : Laki-laki, Minyak, dan Padang Pasir

Or Noir : Laki-laki, Minyak, dan Padang Pasir

Oleh: Yogi Ishabib

Kisah tentang minyak bumi memang tak pernah habis untuk dibahas. Or Noir adalah salah satu film yang bercerita tentang kehidupan awal dunia arab ketika minyak ditemukan pertama kali dan dieksplotasi besar-besaran hingga sekarang ini. Film yang disutradarai Tarak Ben Ammar ini menggambarkan awal mula minyak ditemukan dan mengubah banyak hal di dunia arab.

On Noir yang berarti Black Gold (seperti rilisan versi bahasa inggris) atau emas hitam adalah sebutan bagi minyak bumi. Namun keseluruhan film ini tidak melulu bercerita tentang dunia tambang minyak bumi. Lebih dari itu, film ini bercerita tentang budaya arab pra dan pasca eksplorasi minyak bumi yang menampilkan ragam wajah kemanusiaan. Tarak Ben Ammar sepertinya paham benar tentang apa yang melanda dunia arab saat ini, ketika semua hanya bisa dinilai dari kelimpahan.


Adalah Auda, tokoh utama dalam film ini. Protagonis yang digambarkan tak begitu menonjol di awal film, karena merupakan anak kedua dari Amir (penguasa wilayah) Salmaah, Ibn Amar. Mulai awal hingga seperempat film hanya berada pada tepi permukaan cerita yang ringan, karena cerita lebih dititikberatkan kepada komitmen dua Bani (klan) besar dalam perjanjian damai dan saling menjaga daerah yang disebut “The Yellow Belt”. The Yellow Belt adalah bagian dari House of Allah yang tidak boleh dikuasai dan harus dijaga dari klaim kepemilikan siapapun. Dua Bani yang menjaga berasal dari dua wilayah besar yang menjadi representasi masyarakat arab, Salmaah dan Hobbeikha.


Cerita mulai berkembang ketika ternyata di The Yellow Belt ditemukan minyak bumi dari jenis terbaik yang pernah dihasilkan oleh perut bumi, Light Sweet Crude..Penemu pertama minyak bumi yang diwakili oleh Texas American Oil secara kultural langsung berhubungan dengan Amir Hobbeikha, El Nesib. Hobbeikha, meskipun merupakan salah satu wilayah yang memiliki pengaruh politik kuat pada masyarakat untuk menjaga The Yellow Belt di sisi lain adalah wilayah paling kering dan dijangkiti wabah kolera. Besarnya perhitungan laba dari eksplorasi minyak bumi yang ditemukan di Yellow Belt membuat El Nesib mengiyakan kegiatan eksplorasi minyak di wilayah tak bertuan tersebut dengan asumsi keuntungan minyak bumi dapat ia gunakan untuk menyejahterakan Hobbeikha.


Karakter Auda sebagai protagonis utama dalam film ini mulai hidup setelah Saleh, anak pertama dan saudara kandung Auda, mati dieksekusi oleh panglima utama El Nesib yang bernama Ibn Idris. Saleh adalah penerus seharusnya dari kepemimpinan Ibn Amar di Salmaah. Kematian Saleh membawa Auda bertemu pada sisi lain kehidupan yang selama ini tidak pernah ditemuinya. Auda yang selama ini hanya mengenal bapaknya sebagai orang puritan, mulai mengagumi dan belajar lebih jauh tentang bagaimana keagungan bangsa Arab dalam menjunjung tinggi kehormatan hidup yang tidak bisa dibeli oleh apapun, apalagi perjanjian yang diikuti dengan menyebut nama Tuhan. Sosok Ibn Amar yang selalu digambarkan sebagai kaum puritan yang gila perang secara perlahan mulai terkikis di mata Auda, beralih kepada sosok seorang bapak sekaligus pemimpin yang lembut dan penuh kasih. Auda mengerti bahwa demi alasan apapun, termasuk kesejahteraan tak lantas membuat seseorang memutuskan perjanjian atas nama Tuhan. Auda juga belajar tentang banyak dari Ali, saudaranya dari lain ibu. Ali adalah sosok dokter yang ganjil, gambaran tentang keretakan manusia akan tumbukan ilmu modern dengan semangat tradisional kebudayaan.
Pertemuan kembali antara Auda dengan Ibn Amar dan Ali membuat mata Sang Pangeran Kecil ini berubah dalam menilai konsep-konsep kehormatan dan kesejahteraan. Auda yang semula hidup dalam kehidupan yang nyaris tanpa gejolak karena kelimpahan harta berubah ketika dihadapkan dengan berbagai masalah yang melanda lingkungan sekitarnya. Auda dihadapkan pada kenyataan tentang praktik politik menjijikkan yang diterapkan oleh El Nasib, praktik perbudakan, dan semakin mundurnya ilmu pengetahuan di dunia arab.


Ragam wajah kemanusiaan seperti praktik perbudakan juga dihadirkan dengan menarik di film ini. Praktik perbudakan digambarkan membawa semangat kegagahan di lihat dari sisi penguasaan tuan akan budaknya, sedangkan akan menampilkan banyak kebodohan dari bagaimana cara tuan memperlakukan budak secara berlebihan. Hal yang menarik adalah ketika Tarak memunculkan sempalan cerita tentang bagaimana di dunia Arab lama ada beberapa bani yang beranggapan bahwa laki-laki dan perempuan memiliki posisi yang sama, bahkan dalam perang mereka sejajar dan tidak jarang justru menjadi pemimpin bani dalam melakukan peperangan dan perjanjian politis.


Tarak Ben Ammar menurut saya berhasil menggambarkan kerinduan dunia Arab terhadap sosok laki-laki tradisional yang lebih memilih kehormatan dibanding kelimpahan harta seperti yang terjadi sekarang. Laki-laki Arab tradisional yang kontradiktif, keras terhadap segala hal yang bukan hak, tapi menjadi sangat lembut dan penuh kasih sayang terhadap detil kehidupan mengenai ilmu dan adab kemanusiaan. Ibn Amar berkata terhadap Auda, “you see my son, everything was won with either blood or love, never money. And the greatest gift in the man’s life is love.” Tarak Ben Amar seperti ingin mengingatkan kembali budaya Arab yang menjunjung tinggi kehormatan meskipun terkesan naïf, dimana laki-laki terbaik akan muncul dari diri yang ditempa dengan lingkungan paling keras yang melampaui tapal batas manusia pada umumnya.


Kegiatan eksplorasi bukan hanya praktik untuk mengeruk kekayaan sumber daya alam, tapi secara tidak sadar juga menjadi salah satu praktik yang menyebabkan berbagai macam keretakan budaya dan sumber konflik yang tak pernah selesai terkembang layar. Dan, Or Noir adalah film yang lugas mengingatkan kita akan hal itu.

back to top