Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Opera Jawa di Taman Budaya Yogyakarta

Opera Jawa di Taman Budaya Yogyakarta

Siaran Perss : Taman Budaya Yogyakarta


Yogyaarta-KoPi- Seni ‘Opera Jawa’ adalah suatu repertoar dramatari berdialog tembang yang hidup dan berkembang terutama di Yogyakarta dan Surakarta. Sebagai dramatari maka di dalam seni-seni opera Jawa selalu membawakan lakon-lakon yang bersumber dari cerita babad, sejarah, dan epos Ramayana. Pembawaan setiap lakon terbagi dalam adegan peradegan sebagai kesatuan struktur dramatik.

Dalam setiap adegan para penari yang memerankan setiap tokohnya melakukan dialog-dialog berupa nyanian-nyanyian yang disebut tembang’. Tembang-tembang tersebut merujuk pada seni ‘tembang Jawa’, yaitu jenis sekar ageng, sekar tengahan, dan utamanya adalah sekar maca pat.
Pembawaan tembang-tembang oleh setiap penarinya disesuaikan dengan karakter setiap tokoh, suasana adegan, dan aspek garap dinamika dramatiknya. Pembawaan tembang-tembang di dalam seni ‘Opera Jawa’ biasa dilakukan secara solo vocal (vokal tunggal) oleh setiap pernarinya dan secara koor atau bersama-sama yang dilakukan oleh lebih dari dua atau tiga penari, baik dengan iringan karawitan maupun tanpa iringan karawitan.

Pada acara ‘Gelar Seni OPERA JAWA’ di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta, oleh UPT Taman Budaya Yogyakarta pada 30 September dan 1 Oktober 2014 mulai pukul 19.30 WIB ini dipertunjukan empat seni opera Jawa tradisional yaitu; (1) langendiyan gaya Yogyakarta (lakon gedhog), (2) langendriyan gaya Surakarta (lakon gedhog), (3) langen kusuma Banjaransari (lakon babad Sigaluh), dan (4) langen Mandrawanara gaya Yogyakarta (lakon Ramayana). Selain itu, UPT Taman Budaya Yogyakarta juga memberi ruang kreatif dan eksperimen kepada Sdr. Pardiman (seniman accapella Mataraman dari Yogyakarta) untuk menginterpretasi, menggarap dan menampilkan seni Opera Jawa dalam garap accapella versi Pardiman.

Seni Opera Jawa termasuk jenis dramatari tradisional yang memiliki keunikan dan ciri khas tersendiri dibandingkan dengan jenis-jenis dramatari lainnya. Namun demikian jenis-jenis seni Opera Jawa jarang sekali dipertunjukkan oleh karena menuntut para penarinya piawai menari dan olah vokal yang bagus, terutama olah vocal tembang-tembang Jawa yang semakin tidak diakrabi oleh para penari muda zaman sekarang yang lebih terbuai dengan sajian-sajian tari modern/kontemporer atau garap sendratari tanpa dialog. Acara ini terbuka untuk umum dan gratis

back to top