Menu
Merapi Naik ke Status Waspada, Gempa Tremor dan Vulkanik Sempat Muncul Saat Letusan Freaktif.

Merapi Naik ke Status Waspada, Gemp…

Jogja-KoPi|Setelah Gunung...

Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dalam Sehari, BPPTKG: Ini Memang Karakter Merapi.

Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dal…

Jogja-KoPi| Gunung Merapi...

Bulog DIY: Bulan Puasa dan Lebaran Persediaan Beras, Gula, dan Minyak Goreng di Yogyakarta Aman.

Bulog DIY: Bulan Puasa dan Lebaran …

Jogja-KoPi| Perum Bulog d...

UGM Kembangkan Aplikasi Informasi Pengungsi Korban Bencana

UGM Kembangkan Aplikasi Informasi P…

Sleman-KoPi | Pusat Studi...

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pendeteksi dini bencana longsor bernama SIPENDIL.

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pend…

Sleman-KoPi | Tim penelit...

Bagaimana menjaga pola makan yang baik dan benar selama bulan Puasa.

Bagaimana menjaga pola makan yang b…

Inggris-KoPi| Inilah saat...

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap gunakan Narkoba.

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap…

Sleman-KoPi| Direktorat R...

Korut tunda pertemuan KTT bersama Korea Selatan.

Korut tunda pertemuan KTT bersama K…

Pyongyang-KoPi | Korea ut...

Protes Keras Tanoni :Australia Bebaskan Nelayan Yang Ditangkap.

Protes Keras Tanoni :Australia Beba…

Kupang-KoPi | Pemerintah ...

Prev Next

OKA ART PROJECT (Review Pameran : “I+Dialog+I”)

OKA ART PROJECT (Review Pameran : “I+Dialog+I”)

Seni menjadi bagian yang tak terpisahkan dari manusia. Salah satu fungsi seni adalah sebagai media pengekspresian jiwa manusia. Seni rupa merupakan aspek penting bukan saja sebagai seni terapan namun juga sebagai seni murni. Lukisan kuno awal yang terkenal ditemukan di Goa Leang-Leang dan Goa Altamira. Zaman itulah manusia dianggap mulai berkembang dalam peradabannya, walaupun pada masa itu seni rupa hanya dimanfaatkan dalam upacara perburuan hewan-hewan hutan. Dengan peralatan dan material seadanya, manusia primitive berupaya memanfaatkan bahan-bahan alam yang mereka temui disekitar tempat tinggal mereka untuk menggambar. Material yang dimanfaatkan saat itu antara lain bata merah, kayu arang, dan darah binatang.

Majunya peradaban manusia dari tahun ketahun membuat seni rupa pun semakin maju. Belajar dari pengalaman-pengalaman yang terdahulu uji coba terhadap material untuk menggambar dan melukis semakin banyak dilakukan secara pribadi oleh para seniman. Setiap seniman memiliki racikan yang berbeda-beda dalams etiap komponen dasar pembentuk bahan warna yang digunakan. Tak semua warna berhasil digunakan, prosentase kegagalan pencampuran warna pun masih tinggi. Lambat laun pada era revolusi industri, cat-cat pewarna mulai diproduksi secara masal. Pabrikan dapat memproduksi cat dalam jumlah banyak dan dengan komponen yang sama antara tube yang satu dengan tube yang lainnya. Hal ini memudahkan para seniman dalam berkarya, mereka tidak perlu lagi membuang-buang waktu lama untuk meracik ramuan warna.

Cat pabrikan memudahkan seniman dalam berekspresi untuk menciptakan karya-karya indah dengan warna-warni cerah dan beragam. Para perupa ekspresionis pun mulai bermunculan. Karena dengan segala kemudahan yang ada, para perupa dapat lebih focus untuk lebih mengedepankan ekspresi emosional mereka.

Dunia seni rupa khususnya seni murni menjadi daya tarik bagi sebagian orang. Seni murni dianggap memiliki nilai prestige yang cukup tinggi dan hasil karya seni ini hanya mampu dimiliki oleh orang-orang kalangan menengah keatas. Pencitraan yang terbentuk ini memunculkan persaingan ketat antar perupa. Masing-masing perupa berusaha menampilkan idealisme demi apresiasi pengakuan terbaik dari para patronage seni maupun kaum awam. Setiap perupa berlomba-lomba bereksplorasi menuju suatu bentuk kebaruan dalam seni mereka, walaupun pada kenyataannya tidak pernah ada yang baru sama sekali di dunia ini. Persaingan ketat antar seniman sendirilah yang pada akhirnya semakin mempertajam karya seni yang dihasilkan.

Seorang seniman muda kelahiran Tabanan, Bali telah berjuang dan masih terus menerus berjuang untuk mengukir nama dengan tinta emas dalam dunia seni rupa Indonesia dan dunia. Semangatnya bagaikan banteng dalam pertarungan dengan matador. Tak kenal lelah, dan tak pernah menyerah, ialah I Gede Oka Astawa. Dalam usianya yang menginjak 25 tahun ini Oka Astawa telah melakukan empat kali pameran tunggal. Pameran-pameran yang dilakukan menjadi bukti proses perkembangan dan kedewasaannya dalam berkesenian. Pameran tunggal pertama kali diselenggarakan pada tahun 2008 di Pandan Harum Café, Bali. Pameran tunggal kedua diselenggarakan di Tembi Rumah Budaya,Yogyakarta pada tahun 2011. Pameran tunggal yang ketiga dan keempat terlaksana pada tahun 2014 yaitu bertempat di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta dan Taman Budaya Yogyakarta.

Oka Art Project pada tahun 2014 ini mengusung tema “I+dialog+I :Apa dan Bagaimana Seni Rupa Saya”. Mengungkapkan bagaimana Oka Astawa berbicara, dan berdiskusi dengan pribadinya sendiri dalam berproses. Bagai dua orang yang sedang berbincang-bincang membahas suatu persoalan, begitupun Oka melakukan perbincangan dengan pikiran dan jiwanya. Pergulatan keduanya dalam satu tubuh akhirnya menjadi sebuah ekspresi yang dituangkan kedalam media baik dua dimensi maupun tiga dimensi. Bagi Oka Astawa berkarya seni adalah keseluruhan hidupnya, menjadi harga mati yang dipegang teguh hingga kini. Oka Astawa termasuk seniman yang sangat produktif dalam berkarya. Hampir jarang waktunya yang sia-sia terbuang begitu saja.

Pencapaian pada titik berkeseniannya kini, bukanlah hal yang singkat. Semuanya melalui proses panjang dalam perenungan, kegalauan, serta eksperimen yang dilakukan secara terus-menerus. Mulai tahun 2013 hingga 2014 saat ini tampak kemantapan corak karya Oka Astawa jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Awal memasuki dunia pendidikan seni ISI Yogyakarta tahun 2009, Oka hadir dengan karya-karya yang realis. Kemudian pada periode berikutnya karyanya menjadi lebih ekspresif, walaupun masih tetap menampakkan figur-figur secara jelas. Sekitar tahun 2013 karyanya mengalami perubahan signifikan, kini Oka Astawa lebih mengutamakan bagaimana dapat menyampaikan ekspresi dan emosi dalam karya.

Lelehan, sapuan telapak tangan, dan goresan kuas menjadi identitas I Gede Oka Astawa kini. Sudah menjadi rahasia umum bahwa perupa-perupa Bali memiliki keahlian pengekspresian dua dimensi dalam kelenturan dan kebebasan goresan-goresannya. Layaknya seorang penari Bali yang dengan lincah nan gemulai melenggokkan tubuhnya mengikuti alunan irama gamelan. Begitupun bagi para perupa Bali, ekspresi jiwa mereka terpancar dari keluwesan menggerakkan kuas dan memainkan cat pada media lukis.

Sejenak teringat pada karya-karya Jackson Pollock, begitu dinamisnya goresan dan cat-cat tersebut bertebaran di atas kanvas. Goresan dan cipratan dalam karya-karya Oka Astawa adalah proses perkembangan kematangan dalam berkarya, bukan merupakan pelampiasan ataupun pengalihan karena Oka Astawa tidak mampu melukis atau menggambar secara realis, karena proses berkarya realis itu sudah dikuasai dan dilewatinya pada tahap awal berkeseniannya. Pendewasaannya dalam berkarya kini merupakan sebuah proses panjang dalam pencarian jati diri nampaknya ini menjadi senada dengan jiwa sesungguhnya I Gede Oka Astawa yang menyukai kebebasan dan keleluasaan, namun tetap terkandung unsur-unsur keteraturan.

Pemahaman yang cukup dalam dan wawasan yang luas dari banyak buku serta referensi yang dibacanya menjadikan Oka Astawa sebagai seniman yang memiliki bekal cukup dan ‘tidak kosong’. Kosong disini dalam arti hanya berbekal kemampuan pengekspresian visual saja tanpa memiliki pemahaman konsep. Kedekatan dalam pergaulan Oka dengan seniman-seniman seniorpun membantu cara pandangnya dalam berkesenian dan berwawasan menjadi lebih dewasa dibandingkan dengan teman-teman sebayanya yang sama-sama berproses dalam dunia seni rupa murni. Kemapuan verbalnya dalam berkomunikasi serta menyampaikan konsep-konsep karya kepada para pengunjung pun cukup baik dan komunikatif. Sehingga maksud dan tujuan karya tersebut dapat langsung sampai dan diterima oleh pengunjung (baik seniman maupun awam) melalui informasi yang didapat dari si penciptanya langsung.

Kutipan kalimat Affandi berikut ini cocok untuk menggambarkan proses berkarya Oka Astawa dalam semangat penuh yang menggebu-gebu, “Lukisan saya akan selesai pada waktu rangsang saya untuk melukis juga selesai. Melukis bisa bebas, tapi hidup perlu diatur”

Surabaya, 30 Maret 2014

-Imaculata Yosi P.

back to top