Menu
Inkubasi Tahap 1 Resmi Buka Gelaran Soprema 2018

Inkubasi Tahap 1 Resmi Buka Gelaran…

Jogja-KoPi| Kegiatan Inku...

Lestarikan Budaya Tradisional, UAJY Adakan Lomba Jemparingan

Lestarikan Budaya Tradisional, UAJY…

Jogja-KoPi| Universitas A...

Niagahoster Devcussion 2.0 Dorong ​Web-Professional Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Dorong ​…

Yogyakarta, 25 September ...

Lantik Heru Tjahjono, Pakde Karwo Ingatkan Dua Fungsi Sekda

Lantik Heru Tjahjono, Pakde Karwo I…

Surabaya-KoPi| Sesuai UU ...

Kepa BNPT Ajak Mahasiswa UGM Jauhi Paham Radikal

Kepa BNPT Ajak Mahasiswa UGM Jauhi …

 JogjaKoPi| Kepala B...

Bupati dan Walikota Harus Mengacu dengan Visi Misi Presiden

Bupati dan Walikota Harus Mengacu d…

Surabaya-KoPi| Bupati dan...

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis Soprema 2018 untuk Sociopreneur Muda dari 16 Provinsi Indonesia

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis S…

Jogja-KoPi| Rangkaian gel...

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi Bisa Dilatih

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi …

Jogja-KoPi| Pakar Manajem...

Raih Doktor Usai Meneliti Transformasi Budaya Organisasi Perguruan Tinggi

Raih Doktor Usai Meneliti Transform…

Jogja-KoPi| Transformasi ...

Prev Next

Novel: Cinta Menetes (Bab Kyoto, Aku jatuh Cinta Bagian 1) Karya: Ay

Novel: Cinta Menetes  (Bab Kyoto, Aku jatuh Cinta Bagian 1) Karya: Ay

Sudah hampir tiga tahun dia hidup di the City of thousand temples, Kyoto. Namanya Gazali, akrab dipanggil Zali. Satu kata saja. Ibunya pernah bercerita bahwa sang ayah sempat kebingungan mencari nama ketika dia terlahir. Prediksi Zali, mungkin ayahnya sudah bosan memberi nama untuk karya-karya biologisnya.

Mungkin juga ayahnya kelelahan memikirkan nama yang hebat. Berpikir memang bukan hal mudah. Sebagai seorang guru SMP pada tahun 80-an dengan gaji dipotong cicilan kredit ini itu bukanlah kondisi ringan. Kelahirannya sebagai anak kedelapan tentu menambah tumpukan kegelisahan. Apalagi ditambah ambisi sang ayah yang terlalu ambisius. Semua anak-anakku harus sekolah di perguruan tinggi. Demikian pernyataan sikap kepada ketujuh kakak Gazali di rumah mereka yang sempit. Rumah kecil diantara rumah-rumah kecil lainnya di kompleks perumahan sangat sederhana.

Gazali kecil tidak tergetar sedikitpun mendengar pernyataan sikap ayah. Usia tujuh tahun terlalu dini memikirkan perguruan tinggi. Gazali kecil hanya berharap sang ayah membelikan sepatu baru. Sepatu lamanya sudah menganga seperti mulut buaya kelaparan. Dia sudah memberi lem berkali-kali namun selalu menganga lagi. Sampai suatu ketika, Zali mengambil dua peniti dari BH milik ibu untuk menutup mulut buaya di sepatunya. Ketika pulang sekolah ia melihat ibunya mengeluh BH tidak bisa dipakai karena kehilangan peniti. Zali memandangi sepatunya. Segera diambil dua peniti itu dari mulut buaya di sepatunya dan diletakkan di meja bambu ruang tamu. Dua peniti yang sudah bengkok-bengkok tak beraturan. Lalu Zali kecil segera pergi bermain tanpa ganti baju sekolah.

Gazali adalah nama seorang ulama besar Islam yang ilmunya luas dan dalam. Jelas sang ibus suatu hari. Nama itu tidak perlu ditambahi nama lain lagi. Sudah cukup, jelas ibunya. Gazali mengangguk dan menerima saja. Ketika lulus SD, ijazah kelulusan harus menyertakan dua suku kata nama. Zali tidak ingin merepotkan ibu tentang soal nama. Ayah sudah tidak mungkin lagi dimintai pendapat. Beliau sudah wafat pada saat Zali kelas 4 SD. Maka pada ijazah kelulusan SD ditulis olehnya nama Gazali Zali. Toh teman-teman biasa memanggilku Zali. Demikian pikirnya. Ibu guru tidak mempermasalahkan tambahan nama yang dikarangnya sendiri. Mungkin setuju atau mungkin pula tidak peduli. Apalagi Zali bukan anak pandai yang perlu mendapat perhatian khusus. Dia biasa-biasa saja. Suka bermain dan malas belajar. Apalagi pelajaran matematika.

Ayah Zali pernah bicara bisik-bisik kepada ibunya suatu malam. Zali mendengarnya dengan jelas karena walaupun sudah terpejam, dia belum tertidur di dekat mereka. Sang ayah serak ketika berbisik pada ibu. Si Zali walaupun tidak pandai, namun suka baca buku. Dia akan hidup secara layak. Tidak usah kuatir Bu! Bapak ini guru, bisa memprediksi! Ibu Zali menjawab pelan. Tapi pak, dari delapan anak, hanya si Zali yang malas belajar. Sang ayah tidak menjawab. Lalu malam menghening sesaat, hanya sesaat. Sebab segera disesaki dengkuran ayah ibu Zali.

Berawal dari bisikan ayah malam itulah Zali makin tidak tekun belajar. Dia menjadi lebih tekun membaca komik wayang, berbagai komik, cerita silat Wiro Sableng, sampai Kho Pingho. Setiap mendapat uang saku yang diperoleh seminggu sekali dari ibunya, Zali rela tidak beli jajan dan es sirup di kantin. Seusai pelajaran sekolah, dia menuju penyewaan buku cerita di pojok kompleks perumahannya. Zali membaca buku-buku yang disewa selama tiga hari secara maraton. Ia menghayati cerita-cerita tentang kebenaran, kebaikan, pengorbanan dan cinta. Saat buang air besar di toilet pun ia membawa buku cerita. Kecuali saat shalat dia harus berhenti. Karena ibunya pasti mengomel. Itu pun shalat kilat yang mendekati adzan berikutnya. Sejak kelas 4 SD sampai SMA Zali tidak pernah lepas dari buku-buku cerita tersebut. Dia lulus SD dengan peringkat 21 dari 39 siswa. Tidak buruk untuk anak yang malas belajar. Sudah pasti ibunya sangat bangga dan menjadi bahan cerita yang diulang ke para tetangga. Gazali sesungguhnya anak pandai. Intinya itu.

Sekarang Zali hidup di Kyoto. Kehidupan yang jauh berbeda dibandingkan di Indonesia. Kota ini agak mirip dengan Yogyakarta, kota asalnya. Kota yang menjadi pusat kebudayaan, tradisi, dan pendidikan. Jika Zali memperkenalkan diri, orang Jepang akan mengulangnya sambil mengerutkan kening, “Gazari…Gazari…”. Jika pun ada yang berusaha keras melafalkan namanya secara benar, akan terdengar antara huruf “L” dan “R” sehingga terdengar panggilan Gazalri. Zali adalah sosok yang selalu ingin mengerti perasaan orang lain. Maka itu dia tidak ingin orang Jepang frustasi ketika melafal namanya. Maka setiap bertemu orang Jepang, dia memperkenalkan diri, “Namae wa Gazari desu”. Artinya saya bernama Gazari. Pelafalan nama Gazari ternyata memberi efek psikologis cukup kuat. Rona wajah orang Jepang ketika mendengar nama Gazali pasti berkerut. Akan tetapi jika dilafalkan nama Gazari, rona wajah orang Jepang terlihat lebih ringan tanpa beban. Oleh karenanya, Zali memutuskan nama Gazari ketika berkenalan dengan orang Jepang. Sedangkan pergaulan dengan orang-orang Indonesia di kota ini, tetap Gazali.

 

*Bersambung!

back to top