Menu
Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata Pantai Selatan

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata…

Jogja-KoPi| Tim Search An...

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yaman berdampak ke Bencana Kemanusiaan yang Lebih Besar

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yama…

Yaman-KoPi| Persatuan Ban...

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cenderung Turun.

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cen…

Sleman-KoPi| Memasuki per...

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Cangkang Udang Menjadi Closet Sanitizer Berbahan 100% non Alkohol.

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Can…

Sleman-KoPi| Lima Mahasis...

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunung Merapi tidak di tutup Tapi kalau naik Gunung harap Waspada

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunu…

Sleman-KoPi| Gubernur Dae...

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Berfokus Pada 4 Potensi Kerawanan saat Lebaran.

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Ber…

Sleman-KoPi| Kepolisian D...

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Menghabiskan Malam di  Hotel Berbintang Ketimbang di Hotel Melati.

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Meng…

Bantul-KoPi| Badan Pusat ...

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelaran Pertemuan Dengan Kim Jong.

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelar…

Washington-KoPi| Presid...

Polda DIY Gagalkan Operasi Peredaran Tembakau Gorila di Yogyakarta.

Polda DIY Gagalkan Operasi Peredara…

Sleman-kopi| Direktorat R...

Keamanan di Bandara Adi Sutjipto Ketat Dengan Terjunnya 29 Ekor Anjing Pelacak dan Body Scanner.

Keamanan di Bandara Adi Sutjipto Ke…

Sleman-KoPi| Komandan sat...

Prev Next

Novel: Cinta Menetes (Bab Kyoto, Aku Jatuh Cinta Bagian 2) Karya: Ay

Novel: Cinta Menetes  (Bab Kyoto, Aku Jatuh Cinta Bagian 2) Karya: Ay

Kyoto, Aku Jatuh Cinta (2)

 

Kyoto termasuk salah satu kota paling tua dan pernah menjadi ibu kota Jepang sebelum pindah ke Tokyo. Bangunan-bangunan klasik masih dipelihara sangat baik. Sungai-sungai bersih dan dihiasi taman-taman bunga. Suasana indah yang bisa menjadi terapi bagi warga setelah kelelahan beraktivitas. Salah satu sungai kota yang sering dijadikan Zali sebagai tempat merenung adalah Kamogawa atau sungai bebek. Kamo berarti bebek dan gawa adalah sungai. Kamogawa yang melintasi suatu daerah bernama Sanjo merupakan titik pertemuan sosial yang paling ramai di Kyoto. Para remaja dan tua seringkali duduk-duduk di Kamogawa Sanjo. Terutama pada musim semi dan gugur. Terutama pada malam minggu dan liburan nasional. Para seniman jalanan melakukan berbagai atraksi. Perpaduan area sungai yang bersih, nyaman dan hiburan para seniman merupakan ciri keindahan Kyoto.

Pada beberapa sudut Kamogawa, biasanya ada yang sibuk memainkan alat musik, membaca buku, atau sekedar bercengkrama. Beberapa sepeda terkadang melintas. Sebagian besar orang-orang Kyoto mengendarai sepeda untuk transportasi ke sekolah, kampus, kantor atau sekedar jalan-jalan. Warga Kyoto pun lebih suka menggunakan transportasi publik daripada mobil pribadi untuk mengakses sudut-sudut kota. Transportasi publik baik bus dan kereta sangat nyaman. Pengelolaan kota ini benar-benar baik. Para pegawai di kantor pemerintahan dan swasta melayani konsumen secara manusiawi. Ingin mengurus KTP atau asuransi kesehatan di kantor kecamatan? Jangan kuatir. Proses pelayanan sangat cepat dan tidak berbelit-belit. Indonesia?

Dulu Zali pernah bertengkar hebat dengan pegawai kecamatan. Gara-gara dua minggu KTP tidak juga selesai. Alasannya pak camat sedang ke luar kota sehingga belum bisa tanda tangan. Dia protes keras pada staf kecamatan. Gaduhlah seisi kantor. Dia orasi! Tanggung jawab pemerintah adalah melayani sebaik mungkin pada warganya. Jika KTP saja tidak selesai selama dua mingggu, jangan terima gaji lagi. Ingat gaji itu asalnya dari rakyat! Demikian Zali menumpahkan amarah. Setelah itu ia keluar kantor kecamatan tanpa meminta kapan KTP harus diselesaikan. Padahal dia sangat membutuhkan KTP untuk administrasi lamaran suatu pekerjaan. Setelah peristiwa tersebut, dua hari kemudian kakak perempuannya yang tertua membawa KTP. Zali heran, bagaimana mungkin kakaknya bisa mengambil KTP dalam waktu dua hari? Setahun kemudian Zali baru tahu bahwa kakaknya meminta tolong pak lurah mengurus KTP dengan menyetor sejumlah uang.

Indonesia sudah melakukan reformasi segala bidang sejak tahun 1998. Kata para pengamat politik di televisi, reformasi akan meningkatkan kualitas kinerja pemerintah. Namun sampai sekarang korupsi makin parah. Korupsi meluas ke daerah-daerah. Para pejabat pemerintah makin lincah mengutil uang negara. Sebenarnya Zali paling risih dengan urusan politik. Baginya politik itu kegaduhan yang ujung-ujungnya adalah korupsi seperti yang dilakukan oleh para anggota DPR, pejabat pemerintahan, sampai polisi. Zali pernah bertanya pada teman-temannya yang belajar ilmu politik. Korupsi itu masalah sistem yang buruk atau orangnya yang buruk? Selalu terjadi perdebatan atas pertanyaan itu. Kegaduhan lagi, keluh Zali. Dia kadang merasa frustasi terhadap tanah airnya. Gelap! Walaupun ia rindu sekali pulang. Rindu melihat ibunya yang makin tua. Rindu menemui kakak-kakaknya. Rindu pada Kyai Sobirin yang kumisnya seperti Tukul Arwana. Rindu pada pecel, bakwan, dan sambal terasi. Kerinduan itulah yang menjadi cahaya terang di Indonesia. Paling tidak bagi Zali.

***

Saat ini akhir musim dingin. Sebulan lalu Kyoto turun salju pada minus dua sampai sepuluh celcius. Awal bulan maret suhu menghangat menjadi sepuluh sampai empat belas celcius di siang hari. Jadi saat ini merupakan musim yang ditungu-tunggu semua orang di Kyoto. Para penggowes sepeda makin ramai di jalanan. Para remaja bercengkrama riang di pinggiran sungai-sungai Kyoto. Seperti hari ini, Kyoto Eki terasa lebih ramai dan cerah. Kyoto Eki atau Stasiun Kyoto merupakan terminal pusat bagi bus-bus dan kereta. Siapapun yang ingin melakukan perjalanan ke sudut-sudut kota atau keluar kota akan lebih mudah berangkat dari stasiun ini.

Zali duduk di taman I Setan. Ia dan teman-teman Indonesia menyebutnya demikian. Sebab taman ini terletak di atap mall bernama I Setan. Pukul 11.00 siang. Matahari bebas bersinar tanpa saputan awan. Hari yang cukup ramai. Beberapa pria dan wanita terlihat bersantai di sekitar taman. Zali duduk di pinggiran jendela besar berkaca bening. Bisa terlihat pemandangan aktivitas orang-orang Kyoto di bawah sana. Kesibukan kereta-kereta yang datang dan pergi secara rapi. Jalanan yang lebih ramai daripada musim dingin. Lalu pada arah timur terlihat Kyoto tower yang bentuknya seperti korek api raksasa berwarna dominan putih. Pada malam libur atau hari-hari besar Jepang, di taman I-Setan sering ada pertunjukan musik live show.

Kehangatan awal musim semi benar-benar merasuk ke lubuk hati. Zali tersenyum. Wajahnya yang bersih makin bersinar. Hidung mancungnya kembang kempis menghirup udara hangat. Zali merasa gembira. Begitu pun mereka yang sedang berkunjung ke taman I-Setan. Tiga dara remaja tampak duduk berdampingan di bangku depan Zali. Mereka tertawa lepas. Zali memandangi ketiga dara remaja cantik bermata sipit. Ketika orang-orang Jepang tertawa lepas biasanya kedua mata sampai tertutup. Zali terkekeh dalam hati. Usianya kini dua puluh tujuh tahun. Lahir pada bulan November. Beberapa teman di Kyoto sering mengejeknya. Sebab dia belum memiliki calon istri, minimal pacar. Zali mencibir ejekan itu. Sejujurnya, dia memang belum pernah jatuh cinta. Dia ramah dan baik selama bergaul dengan teman-teman wanita. Akan tetapi apabila sudah dikaitkan dengan urusan cinta, hatinya sedingin salju. Zali merasa terlalu sibuk dengan urusan lain.

Tiba-tiba Zali tersentak kaget. Handphone lipat di saku celananya bergetar. Ada sms masuk dari Cecep. Teman asal Cirebon yang telah tinggal di Kyoto selama sepuluh tahun lebih. Dia menikahi wanita Jepang. Setelah pernikahan, Cecep bekerja di Jepang bersama istrinya. Sebelas tahun pernikahan kedua pasangan beda negara dan budaya itu telah dilalui tanpa dikaruniai seorang pun anak.

Pada layar handphone lipatnya, terbaca kalimat singkat dari Cecep, “lima menit sampai, maaf telat he3x”. Zali menarik nafas panjang. Masyarakat Jepang itu disiplin. Keluhnya dalam hati. Salah satunya soal waktu. Jika janji pukul tujuh maka mereka akan hadir pukul tujuh. Tidak kurang tidak lebih. Orang-orang Indonesia jika memiliki janji pertemuan dengan orang Jepang biasanya tepat waktu juga. Akan tetapi jika pertemuan adalah sesama orang Indonesia, penyakit lama kambuh. Janji bertemu pukul delapan, datanglah mereka pukul sembilan, sepuluh, sebelas, dan seterusnya.

Hari ini Cecep akan datang bersama seorang temannya yang baru tiba di Kyoto empat hari lalu. Namanya Denok Ayu. Nama yang terlihat jawa sekali daripada Ciamis. Ayu, demikian Cecep memanggil nama itu sedang studi S2 di salah satu universitas kota ini. Ayu butuh teman untuk mengenal Kyoto. Tentang transportasi, cara pembuatan asuransi kesehatan, dan tempat belanja kebutuhan sehari-hari yang murah. Cecep sendiri tidak punya waktu cukup karena pekerjaannya di pabrik menyita waktu. Mengapa tidak teman wanita di sini saja yang menemani Ayu? Tanya Zali lewat telpon semalam. Cecep menjelaskan bahwa dia sudah kontak beberapa teman wanita namun kebetulan tidak bisa semua. Ini darurat, pungkasnya. Cecep meminta Zali memandu Ayu beberapa hari kedepan saja.

Sepuluh menit setelah sms tadi, dari arah elevator di depan sana Cecep muncul bersama seorang wanita berjilbab warna merah jambu. Zali berdiri dan melambaikan tangan. Mereka berjalan menuju ke arahnya. Ketika mereka sudah di hadapannya, Cecep segera menyapa.

“Assalamualaikum! Hai Gomen ne… maaf sekali, telat sedikit. Menunggu lama ya?” Kata Cecep sambil tertawa lepas. Dan Zali tiba-tiba tersenyum semanis mungkin. Sebenarnya senyum itu bukan untuk Cecep namun untuk Ayu. Entahlah, Zali merasa agak menggigil. Otot tubuhnya mengejang seperti kesurupan. Oh Tuhan ada apa ini?! Ratap hatinya.

Mereka bertiga masih berdiri. Cecep memperkenalkan Ayu dan Zali. “Ini Ayu yang semalam kuceritakan, dan Ayu ini Zali yang sementara menemanimu di Kyoto beberapa hari kedepan.”

Ayu tersenyum. Zali tergetar hebat. Kata hatinya, madu pun tidak mungkin semanis senyum ini. Bibir Ayu yang kemerahan terlihat ceria. Zali merasa rahangnya lepas semua. Ia kehilangan komando terhadap tubuhnya sendiri. Tanda jiwanya tergoncang.

“Mas Zali, senang berkenalan. Saya Ayu. Mohon maaf merepotkan nih jadinya.” Sapa Ayu sambil sedikit berkerut melihat Zali terlihat kikuk. Bagi Zali, suara Ayu seperti es buah segar di musim panas.

Namun demikian Zali berusaha tabah. Ia menjawab, “Ehm saya Zali. Oke saja kok. Tidak apa-apa. Saya senang. Sesama manusia harus saling bantu.” Kata-katanya seperti tarian robot yang berjalan patah-patah. Tidak indah didengar. Tidak manis dirasa. Mungkin saja Ayu merasa bingung. Zali membatin, dia tidak pernah mengalami kejadian seperti ini sejak akil baliq. Dia dikenal sebagai pria berhati dingin. Namun sekarang hatinya seperti salju tertimpa cahaya matahari. Menetes!

Zali berusaha normal. Mereka pun berbincang-bincang. Terutama tentang kehidupan Kyoto. Ayu tampak lebih banyak menyimak cerita Zali dan Cecep. Sebenarnya Cecep yang lebih banyak cerita. Sudah pukul dua belas lewat sepuluh menit. Artinya sekitar satu jam mereka bertiga di taman I-Setan. Kemudian Cecep mengajak Zali dan Ayu menuju lantai bawah untuk makan siang. Ada restoran kecil khusus udon yang enak. Kalau di Indonesia, udon mungkin disebut mie ayam. Hanya saja udon bentuknya lebih besar, kuahnya jernih, dan disajikan dengan tempura ikan laut atau sayur. Cecep dan Ayu menikmati udon. Zali makan dengan menjaga wibawa sebisa mungkin. Sehalus mungkin ia memasukkan udon ke mulut dengan gerakan lembut. Tidak berbunyi seperti biasanya. Zali lebih sering melirik Ayu daripada menikmati udon. Rasanya dia ingin memeluk. Tiba-tiba ingin dicurahkan kasih sayangnya yang selama ini tidak punya sasaran. Astaghfirullah! Keluh hatinya. Pikirannya mengalami turbulensi besar. Jiwanya tergoncang-goncang. Ketika Cecep dan Ayu telah menghabiskan semangkok udon, Zali baru selesai empat suapan.

 

*Bersambung!

back to top