Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

Negara Tidak Serius Tindak Kasus Intoleransi Beragama

Negara Tidak Serius Tindak Kasus Intoleransi Beragama Sumber : Indonesia.irib.ir

Surabaya-KoPi, Muka pluralitas di Indonesia kembali tercoreng setelah kasus penyerangan yang menimpa jemaat Katolik di Yogyakarta saat sedang menjalankan doa rosario di rumah Julius pada Kamis 29 Mei 2014. Tindakan intoleran tersebut memunculkan keprihatinan mendalam bagi Kelompok Kerja Advokasi Kebebasan Beragam dan Berkeyakinan (POKJA AKBB) Jawa Timur.

Sebagai bentuk keprihatinannya, POKJA AKBB menggelar aksi di depan Tugu Polisi Istimewa pada Jum’at, (6/6/2014). Pada aksi tersebut, POKJA AKBB menuntut ketegasan dan sikap polisi dalam pengusutan secara tuntas kasus kekerasan yang merusak kepercayaan dan pluralitas antar umat beragama di Indonesia.


Tidak hanya kekerasan di Yogyakarta beberapa waktu lalu, POKJA AKBB juga membahas tentang kasus tragedi berdarah di Sampang, Madura yang menurut mereka bukanlah dongeng sebelum tidur. Tidak hanya itu peristiwa kekerasan di Puger, Jember juga menjadi fokus dalam aksi tersebut. Lambatnya penanganan serta ketidakseriusan aparatur negara dalam menangani kasus-kasus kekerasan di beberapa wilayah tersebut, memunculkan ketidaknyamanan bagi umat beragama di Indonesia saat menjalankan aktivitas peribadatannya.


Untuk kemudian dapat meminimalisir dan mengantisipasi terjadinya kasus kekerasan berlatar belakang perbedaan keyakinan, serta untuk meningkatkan kenyamanan saat beribadah bagi keyakinan apapun di Indonesia, POKJA AKBB memunculkan rekomendasi terhadap aparatur negara baik Pemerintah maupun Kepolisian.


Adapun poin rekomendasi yang disampaikan POKJA AKBB adalah;(1) menyatakan keprihatinannya atas peristiwa kekerasan yang terjadi di Yogyakarta; (2) meminta POLDA Jogjakarta untuk menangkap pelaku kekerasan dan memprosesnya secara hukum;(3) meminta POLDA Jogjakarta agar pelaku ujaran kebencian di Jogjakarta ditangkap dan diproses secara hukum;(4) mendukung upaya pemerintah Jawa Timur untuk mengantisipasi pelbagai potensi konflik di pelbagai daerah; dan (5) mendukung upaya POLDA Jawa Timur untuk meningkatkan sistem deteksi dini (early warning system) terhadap potensi kekerasan di pelbagai daerah.

 


Reporter : Aditya Candra Lesmana dan Yudho NP

back to top