Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Negara maju ekspor gaya hidup tidak sehat

Negara maju ekspor gaya hidup tidak sehat

Wellington-KoPi, Negara-negara miskin sekarang dilaporkan mengalami angka kematian yang meningkat akibat gaya hidup yang tidak sehat yang diekspor oleh negara-negara berkembang seperti masalah diet dan masalah-masalah lainnya, menurut Ahli dari New Zealand yang menulis makalah tentang penyakit kronis.

Makalah tersebut diterbitkan di sebuah jurnal Inggris, The Lancet, yang mengatakan mengurangi 6 faktor yang berisiko seperti rokok, garam, tekanan darah tinggi, gula darah dan obesitas bisa mencegah kematian yang prematur selama 15 tahun.

“Ekspor” gaya hidup tersebut didorong oleh perluasan industri seperti adanya perusahaan rokok multinasional di negara-negara miskin, dimana mereka dipengaruhi oleh kebijakan perusahaan tersebut, Profesor Robert Beaglehole dari Aukcland University kepada Xinhua dalam interview via email.

“Negara-negara miskin merasa kesulitan untuk menolak karena tidak seimbangnya kekuatan dan terbatasnya kapasitas mereka untuk merespon negara-negara yang sudah maju,” ujar Beaglehole.

Pendidikan yang lebih baik mengenai resiko diet yang buruk dan gaya hidup yang tidak sehat dibutuhkan oleh negara miskin bersama dengan perkembangan aturan transaksi perdagangan agar mereka bisa melindungi diri mereka, jelasnya.

Penelitian seperti yang ditunjukkan oleh The Lancet Comission on Global Health 2035 menunjukkan bahwa investasi dalam kesehatan masyarakat, seperti jaminan kesehatan masyarakat umum bisa meningkatkan perekonomian selama 20 tahun ke depan.

Negara-negara miskin yang sedang memulai mengambil tindakan untuk mengurangi resiko tersebut, ungkap Beaglehole, seraya mengutip kasus di Uruguay yang sekarang ini menghadapi rokok terbesar, Philip Morris, karena Uruguay melarang merokok di tempat umum.

Negara-negara kecil seperti, Cook Island dan Solomon Island saat ini sedang meningkatkan pajak rokok.

“Thailand telah mengalami perkembangan yang bagus dengan mendirikan Health Promotion Foundation yang didanai oleh pajak khusus pada rokok dan alkohol, dan negara-negara lainnya saat ini sedang mengikuti model-model seperti ini, seperti Tonga,” tambah Beaglehole.

(Fahrurrazi)

Sumber: Xinhuanet

back to top