Menu
Inkubasi Tahap 1 Resmi Buka Gelaran Soprema 2018

Inkubasi Tahap 1 Resmi Buka Gelaran…

Jogja-KoPi| Kegiatan Inku...

Lestarikan Budaya Tradisional, UAJY Adakan Lomba Jemparingan

Lestarikan Budaya Tradisional, UAJY…

Jogja-KoPi| Universitas A...

Niagahoster Devcussion 2.0 Dorong ​Web-Professional Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Dorong ​…

Yogyakarta, 25 September ...

Lantik Heru Tjahjono, Pakde Karwo Ingatkan Dua Fungsi Sekda

Lantik Heru Tjahjono, Pakde Karwo I…

Surabaya-KoPi| Sesuai UU ...

Kepa BNPT Ajak Mahasiswa UGM Jauhi Paham Radikal

Kepa BNPT Ajak Mahasiswa UGM Jauhi …

 JogjaKoPi| Kepala B...

Bupati dan Walikota Harus Mengacu dengan Visi Misi Presiden

Bupati dan Walikota Harus Mengacu d…

Surabaya-KoPi| Bupati dan...

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis Soprema 2018 untuk Sociopreneur Muda dari 16 Provinsi Indonesia

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis S…

Jogja-KoPi| Rangkaian gel...

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi Bisa Dilatih

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi …

Jogja-KoPi| Pakar Manajem...

Raih Doktor Usai Meneliti Transformasi Budaya Organisasi Perguruan Tinggi

Raih Doktor Usai Meneliti Transform…

Jogja-KoPi| Transformasi ...

Prev Next

Negara maju ekspor gaya hidup tidak sehat

Negara maju ekspor gaya hidup tidak sehat

Wellington-KoPi, Negara-negara miskin sekarang dilaporkan mengalami angka kematian yang meningkat akibat gaya hidup yang tidak sehat yang diekspor oleh negara-negara berkembang seperti masalah diet dan masalah-masalah lainnya, menurut Ahli dari New Zealand yang menulis makalah tentang penyakit kronis.

Makalah tersebut diterbitkan di sebuah jurnal Inggris, The Lancet, yang mengatakan mengurangi 6 faktor yang berisiko seperti rokok, garam, tekanan darah tinggi, gula darah dan obesitas bisa mencegah kematian yang prematur selama 15 tahun.

“Ekspor” gaya hidup tersebut didorong oleh perluasan industri seperti adanya perusahaan rokok multinasional di negara-negara miskin, dimana mereka dipengaruhi oleh kebijakan perusahaan tersebut, Profesor Robert Beaglehole dari Aukcland University kepada Xinhua dalam interview via email.

“Negara-negara miskin merasa kesulitan untuk menolak karena tidak seimbangnya kekuatan dan terbatasnya kapasitas mereka untuk merespon negara-negara yang sudah maju,” ujar Beaglehole.

Pendidikan yang lebih baik mengenai resiko diet yang buruk dan gaya hidup yang tidak sehat dibutuhkan oleh negara miskin bersama dengan perkembangan aturan transaksi perdagangan agar mereka bisa melindungi diri mereka, jelasnya.

Penelitian seperti yang ditunjukkan oleh The Lancet Comission on Global Health 2035 menunjukkan bahwa investasi dalam kesehatan masyarakat, seperti jaminan kesehatan masyarakat umum bisa meningkatkan perekonomian selama 20 tahun ke depan.

Negara-negara miskin yang sedang memulai mengambil tindakan untuk mengurangi resiko tersebut, ungkap Beaglehole, seraya mengutip kasus di Uruguay yang sekarang ini menghadapi rokok terbesar, Philip Morris, karena Uruguay melarang merokok di tempat umum.

Negara-negara kecil seperti, Cook Island dan Solomon Island saat ini sedang meningkatkan pajak rokok.

“Thailand telah mengalami perkembangan yang bagus dengan mendirikan Health Promotion Foundation yang didanai oleh pajak khusus pada rokok dan alkohol, dan negara-negara lainnya saat ini sedang mengikuti model-model seperti ini, seperti Tonga,” tambah Beaglehole.

(Fahrurrazi)

Sumber: Xinhuanet

back to top