Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Negara harus segera ciptakan regulasi energi terbarukan

Negara harus segera ciptakan regulasi energi terbarukan
Kebutuhan masyarakat akan energi jenis minyak bumi mencapai 1,3 juta barel per hari. Sementara produksi minyak bumi kita hanya 700 ribu barel per hari (KoPi, 20/5). Artinya, Indonesia mengalami defisit 600 ribu barel per hari energi dan harus mengimpor energi dari luar negeri.
 
Fakta lain, Indonesia sebenarnya memiliki cadangan energi yang melimpah dan bersifat terbarukan. Energi terbarukan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan dapat selalu diperbarui dan dimanfaatkan masyarakat. Di sini, tentu kita sadar bahwa Indonesia memiliki cadangan energi yang tidak terbatas dan ramah lingkungan.
 
Selama masa reformasi, energi terbarukan sempat menjadi wacana yang memberikan harapan. Ketika mantan presiden SBY berkuasa bahkan pernah mencanangkan menanam pohon jarak dan nila sebagai sumber energi alternatif. Sayangnya, program itu menguap tanpa bekas alias gagal total. Petani di Sumbawa bahkan membakar semua tanaman yang sudah diharapkan menjadi sumber kehidupan.
 
Peristiwa itu, kita melihat sebagai mewakili sebuah kekecewaan terhadap ketidakseriusan pemerintah dalam mengembangkan sumber energi terbarukan. Kekuatan kartel migas bersifat internasional yang melibatkan mafia-mafia lokal menahan semua kebutuhan mendesak ini.
 
Pelbagai temuan dari energi terbarukan bermunculan dan secara sporadis mandiri, masyarakat mengembangkan alternatif yang dimanfaatkan pada wilayah terbatas. Tetapi pemerintah tidak pernah menyambut itu sebagai hal yang pantas didukung dengan mengeluarkan regulasi yang baik. Aktivitas itu kemudian menjadi berhenti karena tidak ada dana pengembangan lebih lanjut atau sampai pada kebijakan yang mendukung. Anehnya, temuan-temuan itu malah didanai oleh asing seperti USAID, misalnya. Sebuah lembaga dana yang mengambil dari pajak masyarakat Amerika Serikat.
 
Dalam kekuasaan pemerintahan Jokowi, kita berharap bahwa pemerintah sadar akan menipisnya energi berbasis fosil. Negara tentu punya kewajiban untuk mengantisipasi menipisnya cadangan energi kita dan segera membuat regulasi yang protektif terhadap kebutuhan cadangan energi masyarakat.
 
Good will politic atau kemauan baik dalam memerintah dari penguasa tentu akan mudah menciptkan regulasi yang baik untuk kebutuhan masyarakat. Memang, tentu agak ribet ketika, persoalan regulasi ditempel oleh kekuatan kepentingan bisnis dari sekian orang yang punya kepentingan berdagang di area basah ini. Tapi, bukankah kita cukup bisa mandiri dan tidak lagi di bawah belenggu Kompeni untuk bisa menentukan nasib sendiri?
 
Kita butuh negara hadir dan melindungi masyarakat dari ancaman kekurangan energi. Sebuah bangsa yang tidak memiliki energi yang cukup baik akan mudah dihancurkan bangsa lain. Untuk itu, negara yang di dalamnya ada peran pemerintah dan legislasi harus segera menciptakan regulasi yang mendukung berkembangnya energi terbarukan.
back to top