Menu
Pakde Karwo: Antara Operator dan Regulator Transportasi Tidak Bisa Dipisahkan

Pakde Karwo: Antara Operator dan Re…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres dan Cawapres

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres …

Lembah Tidar-KoPi| Senin ...

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu melaksanakan Out Bound

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu mela…

Lembah Tidar-KoPi| Minggu...

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program Kampus Sehat dan Bebas Asap Rokok

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program …

Jogja-KoPi| Departemen Te...

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalitas Kayu

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalita…

Bantul-KoPi| Tim Pengabdi...

Pakar UGM Ajak Masyarakat Memanen Air Hujan

Pakar UGM Ajak Masyarakat Memanen A…

Jogja-KoPi| Pakar Hidrolo...

BKP: Indonesia Fokus Pada Peningkatan Kompetitifitas Produk Agrikultur

BKP: Indonesia Fokus Pada Peningkat…

Bantul-KoPI|Pada tahun 20...

UNIVERSITAS MENYAMBUT R.I KEEMPAT

UNIVERSITAS MENYAMBUT R.I KEEMPAT

Oleh Moh. Mudzakkir(Dosen...

Pakde Karwo : 2/3 Perguruan Tinggi Swasta Sumbangkan Kaum Intelektual di Jatim

Pakde Karwo : 2/3 Perguruan Tinggi …

Surabaya-KoPi| Sebanyak 2...

Pengungsi Korban Gempa di Gumantar Banyak Terserang Ispa

Pengungsi Korban Gempa di Gumantar …

Lombok-KoPi| Sebanyak 30 ...

Prev Next

Nata de coco Aman

Nata de coco Aman

Sleman-KoPi| Peneliti Nata de coco Rahmat Koto dengan tegas menyatakan nata ramuan pupuk ZA aman lain halnya dengan pihak pemerintah. Misalnya BPOM DIY pihaknya masih mengkaji kasus ini. Dalam siaran persnya pada tanggal 8 April lalu Balai besar POM DIY menyatakan dua poin.

Pertama, Dalam keamanan pangan ZA dan urea yang digunakan jenis food grade karena jika menggunakan yang non food grade dikhawatirkan ada potensi cemaran logam berat.

Kedua, Faktor kemanan faktor lain yang perlu mendapat perhatian dalam pembuatan nata de coco adalah penerapan cara praktek cara produksi pangan olahan yang baik.

Sedangkan kejelasan mengenai kasus nata de coco akan diadakan siaran pers lagi. Menurut kepala Balai Besar POM DIY, Dra. I Gusti Ayu Adhi Aryapatni mengungkapkan “Saat ini pihak pemerintah sedang mengkaji kembali regulasinya. Kan yang sudah diatur jelas adalah penggunaan food grade, yang sudah tidak bisa ditawar-tawar, penggunaan pupuk itu sudah salah”.

Hal serupa juga disampaikan oleh pakar pangan UGM Endang S. Rahayu dalam pengolahan pangan harusnya menggunakan bahan yang sesuai dengan standar pangan.

Anjuran BPOM cukup beralasan pasalnya dalam pupuk ZA megandunga unsur lain tidak hanya ammonium sulfat. Unsur logam berat inilah yang harus diantisipasi dampaknya.

pihak BPOM mengakui belum melakukan uji lab mengenai dampaknya. Namun tidak adanya korban dari konsumen bukan berarti produk nata ini lolos.

“Selama ini memang tidak ada korban, karena produk itu kan diolah kembali oleh perusahaan besar. Nah disitu sudah menerapkan cara produksi pangan yang baik. Di situ dijelaskan bahan bakunya sudah standar”, kata Dra. I Gusti Ayu.

Uji produk nata

“Ammonium sulfat semuanya sama, yang membedakan kualitasnya. Kalau di farmakologi ada untuk kajian obat, makanya ammonium sulfatnya lebih murni. Kalau level makanan ya levelnya bawahnya obat. Bahkan utuk pupuk toleransi pasti lebih longgar lagi”, papar pakar Famakologi UGM, Prof. Zullies Ikawati.

Meskipun bukan bidang pangan Prof. Zullies yang memiliki konsentrasi bidang Farmakologi turut memberikan informasi tentang nata de coco.

Menurutnya pupuk ZA atau pun pupuk urea yang digunakan oleh petani nata aman digunakan. Pemakaian Ammonium sulfat nata de coco maksimalnya 1 %.

Kadar optimal untuk menghasilkan nata yang bagus hanya 0,5 %, dan itu akan dimakan oleh bakteri. Setelah itu ada proses pencucian. Sehingga sisa ZA nya tidak ada lagi.

Prof. Zullies menambahkan ZA bisa dipakai sebagai pupuk dan tambahan pangan sesuai pernyataan dari FDA.
Namun Prof. Zullies menyadari adanya cemaran logam berat menjadi ganjalan pemerintah. Pasalnya ZA adalah pupuk yang mengandung unsur lain.

“Petani nata yang menggunakan pupuk tidak salah-salah amat. Bila concern ke logam berat itu harus dibuktikan. Masalahnya justru ZA food grade itu ada gak di pasaran? kalo ada ekonomis gak dipakai, jadi saya pakai logika terbalik hasil akhirnya aja dipastiin ada gak cemarannya?, tegas Zullies.

back to top