Menu
UGM Kembangkan Aplikasi Informasi Pengungsi Korban Bencana

UGM Kembangkan Aplikasi Informasi P…

Sleman-KoPi | Pusat Studi...

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pendeteksi dini bencana longsor bernama SIPENDIL.

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pend…

Sleman-KoPi | Tim penelit...

Bagaimana menjaga pola makan yang baik dan benar selama bulan Puasa.

Bagaimana menjaga pola makan yang b…

Inggris-KoPi| Inilah saat...

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap gunakan Narkoba.

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap…

Sleman-KoPi| Direktorat R...

Korut tunda pertemuan KTT bersama Korea Selatan.

Korut tunda pertemuan KTT bersama K…

Pyongyang-KoPi | Korea ut...

Protes Keras Tanoni :Australia Bebaskan Nelayan Yang Ditangkap.

Protes Keras Tanoni :Australia Beba…

Kupang-KoPi | Pemerintah ...

Jelang Puasa, Stok Barang Kebutuhan Pokok di Jatim Dipastikan Aman

Jelang Puasa, Stok Barang Kebutuhan…

Surabaya-KoPi|Menjelang b...

Pemerintah Bantul Siap Dukung Kontes Robot Indonesia di UMY

Pemerintah Bantul Siap Dukung Konte…

Sleman-KoPi| Menjelang pe...

Tahun Politik, Akun Buzzer di Media Sosial Bermunculan

Tahun Politik, Akun Buzzer di Media…

Sleman-KoPi| Menjelang pi...

Prev Next

Nata de coco Aman

Nata de coco Aman

Sleman-KoPi| Peneliti Nata de coco Rahmat Koto dengan tegas menyatakan nata ramuan pupuk ZA aman lain halnya dengan pihak pemerintah. Misalnya BPOM DIY pihaknya masih mengkaji kasus ini. Dalam siaran persnya pada tanggal 8 April lalu Balai besar POM DIY menyatakan dua poin.

Pertama, Dalam keamanan pangan ZA dan urea yang digunakan jenis food grade karena jika menggunakan yang non food grade dikhawatirkan ada potensi cemaran logam berat.

Kedua, Faktor kemanan faktor lain yang perlu mendapat perhatian dalam pembuatan nata de coco adalah penerapan cara praktek cara produksi pangan olahan yang baik.

Sedangkan kejelasan mengenai kasus nata de coco akan diadakan siaran pers lagi. Menurut kepala Balai Besar POM DIY, Dra. I Gusti Ayu Adhi Aryapatni mengungkapkan “Saat ini pihak pemerintah sedang mengkaji kembali regulasinya. Kan yang sudah diatur jelas adalah penggunaan food grade, yang sudah tidak bisa ditawar-tawar, penggunaan pupuk itu sudah salah”.

Hal serupa juga disampaikan oleh pakar pangan UGM Endang S. Rahayu dalam pengolahan pangan harusnya menggunakan bahan yang sesuai dengan standar pangan.

Anjuran BPOM cukup beralasan pasalnya dalam pupuk ZA megandunga unsur lain tidak hanya ammonium sulfat. Unsur logam berat inilah yang harus diantisipasi dampaknya.

pihak BPOM mengakui belum melakukan uji lab mengenai dampaknya. Namun tidak adanya korban dari konsumen bukan berarti produk nata ini lolos.

“Selama ini memang tidak ada korban, karena produk itu kan diolah kembali oleh perusahaan besar. Nah disitu sudah menerapkan cara produksi pangan yang baik. Di situ dijelaskan bahan bakunya sudah standar”, kata Dra. I Gusti Ayu.

Uji produk nata

“Ammonium sulfat semuanya sama, yang membedakan kualitasnya. Kalau di farmakologi ada untuk kajian obat, makanya ammonium sulfatnya lebih murni. Kalau level makanan ya levelnya bawahnya obat. Bahkan utuk pupuk toleransi pasti lebih longgar lagi”, papar pakar Famakologi UGM, Prof. Zullies Ikawati.

Meskipun bukan bidang pangan Prof. Zullies yang memiliki konsentrasi bidang Farmakologi turut memberikan informasi tentang nata de coco.

Menurutnya pupuk ZA atau pun pupuk urea yang digunakan oleh petani nata aman digunakan. Pemakaian Ammonium sulfat nata de coco maksimalnya 1 %.

Kadar optimal untuk menghasilkan nata yang bagus hanya 0,5 %, dan itu akan dimakan oleh bakteri. Setelah itu ada proses pencucian. Sehingga sisa ZA nya tidak ada lagi.

Prof. Zullies menambahkan ZA bisa dipakai sebagai pupuk dan tambahan pangan sesuai pernyataan dari FDA.
Namun Prof. Zullies menyadari adanya cemaran logam berat menjadi ganjalan pemerintah. Pasalnya ZA adalah pupuk yang mengandung unsur lain.

“Petani nata yang menggunakan pupuk tidak salah-salah amat. Bila concern ke logam berat itu harus dibuktikan. Masalahnya justru ZA food grade itu ada gak di pasaran? kalo ada ekonomis gak dipakai, jadi saya pakai logika terbalik hasil akhirnya aja dipastiin ada gak cemarannya?, tegas Zullies.

back to top