Menu
Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata Pantai Selatan

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata…

Jogja-KoPi| Tim Search An...

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yaman berdampak ke Bencana Kemanusiaan yang Lebih Besar

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yama…

Yaman-KoPi| Persatuan Ban...

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cenderung Turun.

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cen…

Sleman-KoPi| Memasuki per...

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Cangkang Udang Menjadi Closet Sanitizer Berbahan 100% non Alkohol.

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Can…

Sleman-KoPi| Lima Mahasis...

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunung Merapi tidak di tutup Tapi kalau naik Gunung harap Waspada

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunu…

Sleman-KoPi| Gubernur Dae...

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Berfokus Pada 4 Potensi Kerawanan saat Lebaran.

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Ber…

Sleman-KoPi| Kepolisian D...

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Menghabiskan Malam di  Hotel Berbintang Ketimbang di Hotel Melati.

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Meng…

Bantul-KoPi| Badan Pusat ...

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelaran Pertemuan Dengan Kim Jong.

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelar…

Washington-KoPi| Presid...

Polda DIY Gagalkan Operasi Peredaran Tembakau Gorila di Yogyakarta.

Polda DIY Gagalkan Operasi Peredara…

Sleman-kopi| Direktorat R...

Keamanan di Bandara Adi Sutjipto Ketat Dengan Terjunnya 29 Ekor Anjing Pelacak dan Body Scanner.

Keamanan di Bandara Adi Sutjipto Ke…

Sleman-KoPi| Komandan sat...

Prev Next

Muetia Hatta: Perempuan tidak boleh memusuhi pria

Muetia Hatta: Perempuan tidak boleh memusuhi pria
Jogja-KoPi. Pada momen Hari Ibu atau peringatan konggres Perempuan Indonesia pertama, KoranOpini.com mencoba merayakan dengan pandangan diskursif soal eksitensi perempuan di dalam politk bersama salah satu tokoh perempuan nasional. Ibu Muetia Hatta, mantan Menteri Pemberdayaan Perempuan di era kabinet SBY, berkenan memberikan pandangannya. Reporter KoPi, Suci Wulandari  melaporkan melalui sebuah wawancara di Yogyakarta. Berikut petikannya.

Suci W (SW) : Ibu Mutia adalah perempuan Indonesia yang sempat memperoleh jabatan politik di kabinet. Tapi masih banyak perempuan Indonesia yang mampu belum terakomodasi. Ini sebuah kewajaran politik atau diskriminasi gender ?

Muetia Hatta (MH) :Saya kira, kalo di negara kita biasanya kan pemimpin laki-laki memilih kecenderungannya laki-laki. Tapi, Kalo Pak SBY kan beliau ingin supaya sedikitnya ada 30 persen perempuan terwakili. Beliau sudah berpikir seperti itu. Ada 4 dari 30 anggota kabinet. Memang kadang-kadang begini, tentu ada juga lah orang orang yang belum siap menerima perempuan, itu memang  ada. Tapi ada, kalo masuk politik, tidak selalu perempuan suka masuk politik.

Entah mereka melihat politik itu sebagai hal yang memakan waktu banyak. Jadi, tidak tentu memang bisa begitu, tapi juga bisa tidak. Tapi di indonesia itu setiap persiapannya, atau pola yang berlaku itu, politik itu menghabiskan waktu. Jadi, orang males masuk dan keluarganya juga tidak mendukung. Kalo saya lihat, perempuan memang ada keharusan. Ada kebutuhan dari masyarakat bahwa perempuan masuk politik. Misalnya, untuk menjadi legislatif mereka kan harus survei ke daerah segala daerah wakil-wakil rakyat itu. Dan mereka sebenarnya bukan hanya perlu tapi mereka diharapkan untuk bisa memantau hal-hal yang orang laki laki tidak akan sampai kesana. Misalnya saja, kalau ada kekerasan terhadap perempuan. Perempuan yang mengalami kekerasan itu… ya orang laki laki itu paling bilang “O iya kashian, ya sudah dihiukum saja”.

Tapi, kalau perempuan akan mengetahui. Perempuan ini tidak bisa lepas dari laki laki bahkan laki-laki, suaminya yang menganiaya dia karena mereka tergantung terhadap suaminya itu, jadi akhirnya minta dilepas. Jadi Penderitaan perempuan itu lebih banyak. Orang perempuan itu lebih mengerti penderitaan daripada laki laki. Jadi ada juga kebutuhannya, jadi kalau misalnya ada uang, ini uang untuk apa? Yang laki-laki bilang “untuk saluran air”, kalau ibu-ibu bilang “untuk air bersih”, tapi kebutuhan rumah tangga seperti itu, kalau laki laki pikir “oh irigasi gitu”. Padahal, yang susah cari air itu ibu-ibu, nah ini tidak terpikir oleh kaum laki karena dari kecil dia melihat ibunya sudah begitu,ngambil (cash), sudah wajar, tapi perempuan kalau berpikir “bagaimana kehidupan perempuan bisa lebih ringan?”, jadi bagaimana kalau buat sumur itu dekat dari rumah?

SW : Quota 30 persen kertewakilan perempuan belum tercapai ?

MH : Waktu zaman Ibu Mega sudah ada tapi belum tercapai. Ya itu tadi sudah saya katakan perempuan malas masuk politik karena ditahan, dan tidak didukung keluarga. Tapi juga ada banyak gaya yang tidak mendukung perempuan masuk politik. Misalnya rapat sampai malam. Nah, perempuan sih bisa, tapi kadang-kadang  keluarga yang tidak mendukung. Nah, juga sering kebohongan, janji-janji palsu itu sering kali terjadi. Nah saya kira kalau politik masih seperti itu, memang perempuan agak beda, tidak suka untuk masuk politik.

SW : Ada diskriminasi perempuan dan pria di kabinet ?

MH : Ya pengalaman saya sih diskriminasi ya tidak, seperti ibu Fadilah, sebagai menkes, berani melawan. Saya kira tergantung kepribadiaan perempuan itu sendiri. Saya juga melihat misalnya di legislatif, ada orang orang perempuan yang pacaran. Nah, itu kan kesalahan dia sendiri kenapa harus pacaran gitu ya? Orang perempuan itu harus mengukur dirinya sendiri ,merespect pada dirinya sendiri, jangan jadi orang yang sembarangan, tapi tunjukkan kewibawaanya.

SW :  Di era sekarang perempuan seperti mengalami gonjang ganjing eksitensi

MH : Ada pilihan-pilihan hidup untuk menjadi seorang tokoh atau orang yang ingin dilihat seperti seorang selebritis, dan ada yang dengan mudah muncul tapi terus hilang lagi dengan cepat juga karena pada akhirnya orang bosan, tidak lebih tidak kurang selalu begitu. Tapi ada orang perempun yang makin lama makin maju. Nah ini yang lebih dihargai karena dia bisa merespek dirinya sendiri, menghormati kapan dia harus melangkah, kemana dia melangkah,dimana apa gitu. Jadi dia mengatur walaupun tidak kelihatan, nah ini hal yang penting bagi kaum perempuan yang masuk dalam politik atau sebagai pejabat publik harus membawa dirinya dengan baik. Saya kira itu yang penting.

SW : Kalau di 2014 ini kan banyak sekali calon calon presiden muncul tapi belum ada tokoh  perempuan.

MH : Untuk menjadi calon presiden sulit ya, sedangkan ibu Mega saja sering dulu waktu juga baru menjabat wapres dan kemudian presiden. Kan sebetulnya kan ada dua pilihan? Gus Dur atau Ibu Mega? Tapi yang menang adalah Gus Dur, karena memang orang sulit menerima perempuan. Dan di sinilah kaum perempuan dipertaruhkan kesempatannya, tapi dia harus melakukan sesuatu yang lain daripada yang lain, dan tahu bagaimana menyampaikan aspirasi kepada rakyat dengan baik baru dia bisa dipilih. Strateginya harus baik.

SW :  Gerakan “suffrage” (memajukan) di Indonesia barangkali diinisiasi Kartini, tapi bagaimana dengan kondisi modern saat ini,apakah gerakan ini masih relevan?

MH : Ibu kartini, masih sebetulnya. Ibu Kartini itu memang dipingit kemudian cepat dan umurnya tidak panjang karena melahirkan. Nah itu memang tantangan seorang perempuan. umur tidak panjang karena melahirkan. Ada banyak angka kematian ibu yang masih tinggi yang harus diturunkan. Tapi, ibu Kartini melontarkan gagasan-gagasan bahwa seorang perempuan itu harus berdaya dan diberdayakan. Nah, ini yang menjadi dasar bahwa sekarang kita mempunyai Kementrian Pemberdayaan Perempuan, di mana sebelum Pak Harto, di era Bung Karno kan sudah ada PERWARI, kemudian KEWANI kan sudah sebelumnya. Pokoknya, perempuan-perempuan kan sudah berdaya. Nah, ini satu permasalahan yang kadang kadang orang tidak paham apa yang di cita-citakan, yang diingatkan oleh ibu Kartini bahwa perempuan itu harus berdaya. Nah, ini bisa diterapkan secara nasional, karena itu beliau menjadi pahlawan nasional.

SW :  Soal kesetaraan gender seolah menjadi semacam pemberontakan

MH : Saya kira bukan begitu, kalau kesetaraan jender itu justru perempuan diberi kesempatan supaya setara, bermitra dengan laki laki dan saling melengkapi. Tapi kalau feminis seperti  di Eropa, Amerika Serikat itu lain lagi. Jadi mereka mau identitasnya diakui tapi menurut saya kebablasan. Jadi, seharusnya mereka itu saling melengkapi dengan laki-laki tapi ini menolak laki-laki. Misalnya ada orang yang mau membukakan pintu tapi dia nggak setuju “saya bisa buka sendiri” kan nggak perlu begitu, kok cari musuh gitu ya? Kalo misalanya, Margareth Teacher dia orang yang teguh pada pendirian, kalo dia tidak suka biar laki atau perempuan dia sabet. Dia suka dengan prinsipnya sendiri.

SW :  Lalu, bagaimana dengan gerakan feminisme Indonesia?

MH : Feminis yang menolak laki-laki? Karena selalu hidup dalam pertentangan dalam konflik. Tapi harusnya kan kita, lebih baik mereka memberdayakan perempuan yang tidak berdaya supaya bisa setara dengan laki-laki mendapatkan hak-haknya, kesempatan yang sama dengan laki-laki dan bisa bermitra sama-sama mengisi pembangunan. Saya kira lebih baik seperti itu. Jangan terus memusuhi laki-laki. Bagaimana pun, kan kalau orang perempuan mau punya keturunan kan harus sama laki-laki.

SW : Ada pesan Ibu kepada kaum perempuan lewat media ini?

MH : Saya kira perempuan Indonesia harus selalu tanggap terhadap perubahan zaman, artinya mengikuti perjalanan negara ini dan bisa mengetahui mana yang baik dan mana yang tidak baik, mana yang harusnya kita jalankan dan mana yang seharusnya tidak kita ikuti. Misalnya kita tidak boleh menjadi bangsa yang konsumtif, bangsa yang menerima saja dari luar tapi justru kreatifitas kita yang harus kita angkat.

Ini tadi kan di Gajah Mada berulang tahun ke 64, dikatakan “kita harus jadi bangsa yang berdaulat di dalam teknologi kita sendiri”. Dan dari sini perempuan juga bisa ikut masuk. Nah, jadi kita harus memberi kesempatan pada pria maupun wanita untuk bisa sama-sama mengisi kesempatan sesuai kemampuan.

Sebenarnya orang yang tidak berpendidikan tinggi pun ada peranan di masyarakat. Misalnya, membangun kerja sama, bantuan sosial bagi yang membutuhkan, memilah-milah sampah, gerakan melawan narkoba. Jadi, melihat orang bernarkoba jangan dianggap sebagai musuh, tapi orang yang sakit tersebut harus diobati. Nah, ini kan mengedentifikasi antara sesama ketetanggaan kampung, itu kan tidak bisa polisi atau siapa jemput bola. Tetapi tetangga bisa menolong gitu, ini ada permasalahan, jadi kita bawa, dibina, diupayakan tidak terjadi lagi, HIV AIDS juga sama.***

back to top