Menu
Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata Pantai Selatan

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata…

Jogja-KoPi| Tim Search An...

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yaman berdampak ke Bencana Kemanusiaan yang Lebih Besar

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yama…

Yaman-KoPi| Persatuan Ban...

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cenderung Turun.

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cen…

Sleman-KoPi| Memasuki per...

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Cangkang Udang Menjadi Closet Sanitizer Berbahan 100% non Alkohol.

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Can…

Sleman-KoPi| Lima Mahasis...

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunung Merapi tidak di tutup Tapi kalau naik Gunung harap Waspada

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunu…

Sleman-KoPi| Gubernur Dae...

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Berfokus Pada 4 Potensi Kerawanan saat Lebaran.

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Ber…

Sleman-KoPi| Kepolisian D...

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Menghabiskan Malam di  Hotel Berbintang Ketimbang di Hotel Melati.

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Meng…

Bantul-KoPi| Badan Pusat ...

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelaran Pertemuan Dengan Kim Jong.

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelar…

Washington-KoPi| Presid...

Polda DIY Gagalkan Operasi Peredaran Tembakau Gorila di Yogyakarta.

Polda DIY Gagalkan Operasi Peredara…

Sleman-kopi| Direktorat R...

Keamanan di Bandara Adi Sutjipto Ketat Dengan Terjunnya 29 Ekor Anjing Pelacak dan Body Scanner.

Keamanan di Bandara Adi Sutjipto Ke…

Sleman-KoPi| Komandan sat...

Prev Next

Mudik lebaran, antara maslahat dan madharat

foto: wikipedia foto: wikipedia

KoPi | Mudik lebaran tidak ada dalam Al-Quran dan hadist. Oleh karenanya mudik lebaran sesungguhnya bukan merupakan praktik yang wajib. Artinya jika tidak mudik maka tidak akan mendapat dosa. Tidak ada fiqih yang secara langsung mengatur mudik lebaran. Namun demikian, praktik mudik lebaran direproduksi oleh masyarakat seperti di Malaysia, Indonesia, dan Filipina.

Pertanyaan sederhana terkait fenomena mudik, apakah praktik ini memberi maslahat (kebaikan) atau madharat (keburukan) terhadap individu ataupun masyarakat. Novri Susan (NS), sosiolog dari Universitas Airlangga, memberikan perspektif kemasyarakatan terkait fenomena mudik. Menurut sosiolog berwajah oriental ini ketika ditemui beberapa waktu lalu, praktik mudik lebaran merupakan kelembagaan sosial yang terbentuk di atas penafsiran keislaman di nusantara.

"Mudik lebaran memang tidak ada dalam teks baik Al Quran maupun Hadist. Namun praktik ini merupakan tafsir terhadap sumber-sumber hukum dan nilai keislaman. Misal silaturahmi yang merupakan bahan paling penting dalam penguatan modal sosial".

Modal sosial menurut NS merupakan prasyarat dari terbentuknya masyarakat yang kuat, stabil, harmoni dan dinamis. Sebab berbagai individu memiliki hubungan yang baik, saling percaya dan memiliki jejaring kerjasama konstruktif dalam bidang sosial ekonomi, dan bahkan politik. Modal sosial konstruktif tersebut merupakan konsekuensi yang diharapkan oleh nilai silaturahmi dalam Islam.

"Oleh karenanya, mudik lebaran memiliki ideal membentuk modal sosial konstruktif yang mampu menciptakan masyarakat dan bangsa Indonesia yang kuat. Ideal ini ada dalam intepretasi kenusantaraan terhadap ajaran mulia Islam."

Namun demikian, NS menjelaskan bahwa ideal dari praktik mudik lebaran tidak selalu bisa diwujudkan oleh sebagian masyarakat. Praktik mudik tidak lagi menjadi kekuatan membentuk modal sosial konstruktif, namun sebaliknya menciptakan jurang kesenjangan sosial, prasangka, iri dan dengki, serta pelembagaan materialisme hedonis.

"Ada sebagian masyarakat yang memakna mudik lebaran bukan dari keislaman lagi, namun dari kepentingan mereka memperlihatkan status sosial, kelas dan kekayaan. Tentu ini bukan bagian dari tafsir mudik ala masyarakat Islam. Namun tafsir mudik dari paham materialistik hedonis. Yaitu paham yang menempatkan akumulasi kekayaan material sebagai sumber kebahagiaan".

Sosiolog yang hobi menulis puisi ini memperlihatkan bahwa praktik mudik lebaran memiliki dua sisi maslahat dan madharat. Sisi maslahat apabila merupakan proses interpretasi terhadap nilai-nilai Islam seperti silaturahami, saling berbagi rejeki, dan membangun jejaring kerjasama yang baik. Artinya praktik mudik lebaran adalah kelembagaan modal sosial yang konstruktif.

Sebaliknya, sisi madharat atau destruktif, ketika mudik lebaran diintepretasi oleh kepentingan materialisme hedonis. Tafsir kepentingan ini bahkan menciptakan fenomena prasangka, kecemburuan, dan bahkan kriminalitas. Banyak para pelaku mudik yang ingin dianggap sukses secara material, memilih jalan sebagai pelaku tindakan kriminal seperti korupsi, pencurian, dan pengedaran obat-obat terlarang. |AG

back to top