Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Monolog tepi trotoar

Monolog tepi trotoar

Surabaya – KoPi. Akhir-akhir ini matahari sedang terik-teriknya di atas Kota Surabaya. Sinarnya yang biasanya hangat kini tak kenal ampun bagi para pengelana jalanan. Namun, jalan-jalan Surabaya tak urung sepi dari deru mesin-mesin oto, entah itu roda empat, roda tiga, maupun roda dua. 

Panasnya matahari, ditambah antrean kendaraan yang merambat di depan lampu merah di salah satu jalan protokol di Surabaya, nampaknya membuat para pengendara motor menjadi tak sabaran. Sejurus kemudian seorang pengendara sepeda motor membelokkan kendaraannya dan dengan lincah menaikkan motornya ke jalur pedestrian. Segera saja, pengendara motor lain mengikuti jejaknya.

Dalam sekejap jadilah pedestrian itu arena balap motor mini. Sejumlah pengendara motor memacu kendaraan mereka zigzag melewati pohon, tiang listrik, telepon umum, dan atau kaki lima. Seorang ibu yang sedang berjalan sambil menggendong anaknya tak urung menepi. Haknya sebagai pejalan kaki terenggut oleh arena balap motor dadakan tersebut.

Bukan hanya sang ibu dan pejalan kaki, ubin-ubin pedestrian tak terelakkan menjadi korban. Sejumlah ubin berderak ketika sejumlah sepeda motor memulai manuvernya menaiki pedestrian. Ubin yang sudah retak langsung berantakan digilas roda-roda motor, sedangkan yang sebelumnya sudah pecah melontarkan serpihan-serpihan keramiknya. Penutup saluran air berlambang dinas bina marga kota turut bertemperasan saat motor-motor melaju di atasnya.

Ah, sungguh miris melihat roda-roda kokoh motor menderak lantai cantik pedestrian. Jalur rata dan indah yang digelar untuk kenyamanan pejalan kaki, didera tanpa ampun oleh mesin-mesin Jepang, China, Eropa, dan Amerika yang dinaiki bumi putera. Pemandangan yang bukan hanya terjadi di Surabaya, tapi hampir di seluruh kota besar di Indonesia. 

Pedestrian, jalur yang telah susah payah dibangun untuk para pejalan kaki, dipercantik dengan tanaman dan warna-warni, memang bukan lagi hak pejalan kaki. Itu adalah “jalur alternatif” melawan kemacetan, “pasar kaget” bagi lapak kaki lima, “lapangan parkir” bagi warung dan restoran.

Padahal, perawatan pedestrian juga membutuhkan dana yang tidak sedikit. Di Surabaya, setiap beberapa hari, truk pengangkut air dan beberapa petugas kebersihan selalu rutin menyemprot dan menggosok jalur tersebut agar tetap terlihat cantik. Sungguh ironis, jalur yang dibangun, dirawat, dicinta, dan dibanggakan oleh pemerintah Kota Surabaya, akhirnya dirusak juga oleh rakyat yang menjadi sasarannya. Kalau seperti ini, siapkah kita menerima revolusi mental, sementara mental kita belum juga berubah?

Ah, barangkali saya terlalu asyik merenung dengan romantika. Barangkali memang kita tidak pernah menganggap pedestrian sebagai budaya kita. Pedestrian, mungkin bagi kita adalah konsep asing. Hanya cocok di luar negeri, yang mana pedestriannya selalu ditata rapi, nyaman untuk berjalan-jalan. 

Kita orang Indonesia jangan mau susah lagi, ke mana-mana harus jalan kaki. Lagipula, sekarang sudah bukan jamannya mlaku-mlaku nang Tunjungan. Di jaman facebook dan twitter ini kurang up to date kalau belum window shopping di Tunjungan Plaza.

Naik kendaraan umum? Ha, masih jaman? Sudah sempit, berdesak-desakan, panas pula! Bukankah kredit motor Jepang sekarang begitu mudah, tanpa DP, hanya pakai KTP. Tak masalah bensin semakin naik, karena naik motor ke seberang jalan jauh lebih keren daripada merangkak dengan kaki. Tak usah-lah peduli dengan segala macam omongan soal gas rumah kaca dari knalpot motor dan mobil kita, yang penting tak perlu berpanas-panasan.

Sulap saja trotoar dan pedestrian jadi warung kaki lima dan kios rokok, karena itu yang menggerakkan ekonomi kita. Tukang parkir juga punya hak atas trotoar itu, kan mereka tinggal di kawasan di mana trotoar itu dibangun, jadi pemerintah harus beri mereka kompensasi dari retribusi parkir. Bagaimana pun juga, rakyat kecil juga harus cari uang. Itu kan hak asasi manusia. Menghalangi mereka mendapat penghasilan, namanya pelanggaran HAM!

Menghela napas, saya hentikan lamunan saya, dan beranjak untuk membayar teh hangat yang tadi saya minum di warung kopi yang berdiri di atas pedestrian ini. Ah, malang sekali nasibmu pedestrian, tutup pikiran getir saya seraya menurunkan motor dari atas trotoar dan kembali melanjutkan perjalanan.

 

back to top