Menu
Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Doa bersama Memperingati Hari Kesaktian Pancasila di Masjid Al-Jihad Akmil Magelang

Doa bersama Memperingati Hari Kesak…

KoPi-Lembah Tidar. Minggu...

Prev Next

Misteri Kyai Plered dalam suksesi para raja Islam Jawa

milik:kerajaannusantara.com milik:kerajaannusantara.com
Jogja-KoPi|Tombak Kyai Plered identik dengan simbol kekuasaan raja-raja Islam jawa. Kyai Plered merupakan pusaka yang diyakini menjadi kunci bagi kekuasaan raja-raja Islam di Jawa. Pergantian kekuasaan selalu ditandai dengan beralihnya pusaka itu dari tangan sebelumnya.
 
Pada masa kekuasaan Kesultanan Pajang (15681–1586) yang meneruskan kekuasaan Demak Bintoro (1475–1548), Sultan Hadi Wijoyo atau dikenal masa mudanya sebagai Joko Tingkir adalah pemegang pusaka tombak Kyai Plered. 
 
Setelah terjadi konflik politik yang melibatkan Pangeran Haryo Penangsang, Sultan Hadiwijoyo kemudian meminjamkan pusaka itu kepada Danang Sutowijoyo untuk melawan Haryo Penangsang. Haryo Penangsang kemudian tewas karena tertombak pusaka itu.
 
Setelah menyelesaikan konflik tersebut Danang Sutowijoyo mendapatkan hadiah Mataram dan mendirikan Dinasti Mataram Islam dengan sebutan Panembahan Senopati. Tombak Kyai Plered kemudian menjadi pusaka yang menandai beralihnya kekuasaan Pajang ke Mataram Islam. 
 
Di  masa Mataram Islam, ketika terjadi konflik besar yang melibatkan para Tiong Hoa, atau dikenal sebagai Geger Pacinan (1740-1743), Tombak Kyai Plered diambil oleh Pangeran Mangkubumi dari Istana Kartosura, ketika Sunan Pakubuwono II mengungsi keluar istana menuju Ponorogo. Peristiwa itu terjadi ketika Mas Gerendi atau kemudian dikenal sebagai Sunan Kuning merebut kekuasaan Pakubuwono II selama 6 bulan.
 
Setelah Sunan Kuning kembali terusir dari Kartosura, Pangeran Mangkubumi bersama Raden Mas Said (Mangkunegara I) meneruskan perjuangan melawan Mataram Islam di bawah Sunan Pakubuwono II yang dibantu Kompeni. Perlawanan itu berakhir di masa kekuasaan Sunan Pakubuwono III -yang ditekan Kompeni agar bersedia menandatangani perjanjian di Desa Giyanti, Boyolali (1755).
 
Pangeran Mangkubumi kemudian menguasai wilyah Mataram Islam bagian barat. Sementara, Pakubuwono III berkuasa di Mataram Islam bagian Timur. Pangeran Mangkubumi menamai kerajaannya sebagai Ngayogyakarto Hadiningrat dan bergelar Sultan Hamengkubuwono I atau Sampeyan Dalem ingkang Sinuhun Kanjeng Sri Sultan Hamengku Buwana Senapati ing Alaga Ngabdurrokhman Sayidin Panatagama Khalifatullah ingkang Jumeneng Kaping Setunggal.
 
Pangeran Mangkubumi dengan tombak Kyai Plred di tangannya, secara empiris kemudian berkuasa hingga pewarisnya terakhir saat ini Sultan Hamengkubuwono X. Sementara, kekuasaan Kasunanan di Solo meredup dan berakhir di dalam kekuasaan Kompeni atau Belanda. Bahkan, ketika masa republik, hanya sebatas simbol budaya.
 
Apakah, tombak Kyai Plered merupakan kunci atau tanda bagi kekuasaan para raja-raja Jawa? Sejarah empiris di atas tentu belum cukup untuk bisa menjawab. Dalam geger Sabda Raja Sultan HB X, sepertinya belum terdengar kabar tentang pusaka Kyai Plered yang selalu menyertai dalam peralihan keukasaan raja-raja Islam di Jawa ini. Tentu, dalam perkara realisme-magis seperti ini, hanya Tuhan yang tahu jawabannya| E Hermawan
 
back to top