Menu
Mendesa RI bersama Rektor UGM melepas 5.992 Peserta KKN PPM 2018 ke 34 Provinsi.

Mendesa RI bersama Rektor UGM melep…

 Sleman-KoPi| Rektor UG...

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata Pantai Selatan

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata…

Jogja-KoPi| Tim Search An...

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yaman berdampak ke Bencana Kemanusiaan yang Lebih Besar

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yama…

Yaman-KoPi| Persatuan Ban...

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cenderung Turun.

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cen…

Sleman-KoPi| Memasuki per...

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Cangkang Udang Menjadi Closet Sanitizer Berbahan 100% non Alkohol.

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Can…

Sleman-KoPi| Lima Mahasis...

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunung Merapi tidak di tutup Tapi kalau naik Gunung harap Waspada

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunu…

Sleman-KoPi| Gubernur Dae...

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Berfokus Pada 4 Potensi Kerawanan saat Lebaran.

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Ber…

Sleman-KoPi| Kepolisian D...

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Menghabiskan Malam di  Hotel Berbintang Ketimbang di Hotel Melati.

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Meng…

Bantul-KoPi| Badan Pusat ...

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelaran Pertemuan Dengan Kim Jong.

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelar…

Washington-KoPi| Presid...

Prev Next

Misteri Kyai Plered dalam suksesi para raja Islam Jawa

milik:kerajaannusantara.com milik:kerajaannusantara.com
Jogja-KoPi|Tombak Kyai Plered identik dengan simbol kekuasaan raja-raja Islam jawa. Kyai Plered merupakan pusaka yang diyakini menjadi kunci bagi kekuasaan raja-raja Islam di Jawa. Pergantian kekuasaan selalu ditandai dengan beralihnya pusaka itu dari tangan sebelumnya.
 
Pada masa kekuasaan Kesultanan Pajang (15681–1586) yang meneruskan kekuasaan Demak Bintoro (1475–1548), Sultan Hadi Wijoyo atau dikenal masa mudanya sebagai Joko Tingkir adalah pemegang pusaka tombak Kyai Plered. 
 
Setelah terjadi konflik politik yang melibatkan Pangeran Haryo Penangsang, Sultan Hadiwijoyo kemudian meminjamkan pusaka itu kepada Danang Sutowijoyo untuk melawan Haryo Penangsang. Haryo Penangsang kemudian tewas karena tertombak pusaka itu.
 
Setelah menyelesaikan konflik tersebut Danang Sutowijoyo mendapatkan hadiah Mataram dan mendirikan Dinasti Mataram Islam dengan sebutan Panembahan Senopati. Tombak Kyai Plered kemudian menjadi pusaka yang menandai beralihnya kekuasaan Pajang ke Mataram Islam. 
 
Di  masa Mataram Islam, ketika terjadi konflik besar yang melibatkan para Tiong Hoa, atau dikenal sebagai Geger Pacinan (1740-1743), Tombak Kyai Plered diambil oleh Pangeran Mangkubumi dari Istana Kartosura, ketika Sunan Pakubuwono II mengungsi keluar istana menuju Ponorogo. Peristiwa itu terjadi ketika Mas Gerendi atau kemudian dikenal sebagai Sunan Kuning merebut kekuasaan Pakubuwono II selama 6 bulan.
 
Setelah Sunan Kuning kembali terusir dari Kartosura, Pangeran Mangkubumi bersama Raden Mas Said (Mangkunegara I) meneruskan perjuangan melawan Mataram Islam di bawah Sunan Pakubuwono II yang dibantu Kompeni. Perlawanan itu berakhir di masa kekuasaan Sunan Pakubuwono III -yang ditekan Kompeni agar bersedia menandatangani perjanjian di Desa Giyanti, Boyolali (1755).
 
Pangeran Mangkubumi kemudian menguasai wilyah Mataram Islam bagian barat. Sementara, Pakubuwono III berkuasa di Mataram Islam bagian Timur. Pangeran Mangkubumi menamai kerajaannya sebagai Ngayogyakarto Hadiningrat dan bergelar Sultan Hamengkubuwono I atau Sampeyan Dalem ingkang Sinuhun Kanjeng Sri Sultan Hamengku Buwana Senapati ing Alaga Ngabdurrokhman Sayidin Panatagama Khalifatullah ingkang Jumeneng Kaping Setunggal.
 
Pangeran Mangkubumi dengan tombak Kyai Plred di tangannya, secara empiris kemudian berkuasa hingga pewarisnya terakhir saat ini Sultan Hamengkubuwono X. Sementara, kekuasaan Kasunanan di Solo meredup dan berakhir di dalam kekuasaan Kompeni atau Belanda. Bahkan, ketika masa republik, hanya sebatas simbol budaya.
 
Apakah, tombak Kyai Plered merupakan kunci atau tanda bagi kekuasaan para raja-raja Jawa? Sejarah empiris di atas tentu belum cukup untuk bisa menjawab. Dalam geger Sabda Raja Sultan HB X, sepertinya belum terdengar kabar tentang pusaka Kyai Plered yang selalu menyertai dalam peralihan keukasaan raja-raja Islam di Jawa ini. Tentu, dalam perkara realisme-magis seperti ini, hanya Tuhan yang tahu jawabannya| E Hermawan
 
back to top