Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

Misteri di balik donasi recehan Alfamart

Misteri di balik donasi recehan Alfamart
Bekasi - KoPi | Kembalian receh di bawah 500 saat belanja di minimarket Alfamart selalu menimbulkan pertanyaan sang kasir. “Boleh disumbangkan kembaliannya?” Herannya, dalam struk belanja bentuk donasi tersebut dikategorikan nihil, atau tidak ada.

Menelusuri isu tersebut, KoPi memperhatikan gelagat dari para pembelanja di beberapa Alfamart. Nominal kembalian di bawah Rp 500 memang selalu ditawarkan untuk disumbangkan. Beberapa kali pembeli mengangguk tanda setuju.

Namun, hal tersebut menjadi pertanyaan besar di kepala para penyumbang. “Disumbangkan kemana? Untuk apa? Untuk siapa?” begitu pertanyaan dari Ibu Susi salah satu pelanggan Alfamart. Kasir memang tidak menjelaskan sumbangan tersebut disalurkan untuk apa, namun hanya meminta ijin untuk menyalurkan sumbangannya.

Asti, selaku kasir Alfamart cabang Bojongkulur Bekasi menjelaskan “Ini buat disumbangkan ke fakir miskin, Mbak. Bagi yang benar-benar membutuhkan. Jadi setiap dua bulan sekali ganti. Untuk yang bulan ini membagikan sembako bagi fakir miskin di desa” ujarnya.

Pada Februari lalu, PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (SAT) menyatakan bahwa perusahannya memang sedang menjalankan kegiatan sosial pada berbagai bidang. Pihaknya menerapkan konsep Corporate Social Responsibility dan Corporate Caused Promotion (CCP) yang melibatkan partisipasi pelanggan dalam kegiatan sosial yang dijalankan perusahaan.

“Visi kami menjadikan keberadaan Alfamart dan Alfamidi memiliki manfaat yang besar bagi masyarakat sekitar dan juga mendorong kualitas hidup manusia, terutama bagi keluarga pra-sejahtera baik dari sisi pemberdayaan, infrastruktur maupun kesehatan” ujar Corpporate Affair Director SAT, Solihin. Program-program yang didirikan seperti Pengembangan Usaha Kecil dan Menengah, Pendidikan Sosial, Olahraga, Lingkungan hidup dan Seni Budaya.

Saat ini pihak Alfamart telah mendapat surat izin dari Kementrian Sosial RI mengenai tata cara pengumpulan donasi, periode program, wilayah pengumpulan donasi, yayasan penerimaan bantuan dan kewajiban untuk menyebarluaskan informasi kepada masyarakat.

Meskipun begitu, keraguan masyarakat akan penyaluran donasi masih dirasakan. Fitriyah, selaku pelanggan Alfamart Bekasi mengatakan “Saya suka bingung kalau sudah ditawarkan untuk donasi. Kalau tidak saya berikan, ya itu uang receh, kalau saya berikan, saya masih belum tahu alur donasi itu ke mana. Jadi sangat dilema” ujarnya.

Menurut Asti sendiri, tidak sedikit pelanggan yang menolak untuk mendonasikan. Atau dengan cara lain seperti mengambil barang lain untuk menjadikan uang kembaliannya tidak receh dan tidak jadi disumbangkan.

Fitri menyarankan pihak Alfamart untuk bekerjasama dengan lembaga sosial tertentu yang memang sudah dikenal oleh masyarakat. “Meskipun pihak mereka menerapkan CSR, dan mendapatkan surat izin dari Kementrian Sosial, tetap kan lembaga sosial ini baru, belum jelas bagaiamana kontribusi dan kinerjanya. Lebih baik ya kerjasama dengan lembaga sosial yang punya nama, supaya lebih terjamin alur distribusinya. Kalau begini saya jadi tarik ulur, donasi kok ragu, gak donasi kok merasa keterlaluan” lanjutnya.

Hilmi selaku pelanggan lain yang ditawari hanya menanggapi sedikit “Toh ya 300 itu uang yang kecil. Ya sumbangkan sajalah daripada pusing” ujarnya. |Labibah

back to top