Menu
Mendesa RI bersama Rektor UGM melepas 5.992 Peserta KKN PPM 2018 ke 34 Provinsi.

Mendesa RI bersama Rektor UGM melep…

 Sleman-KoPi| Rektor UG...

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata Pantai Selatan

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata…

Jogja-KoPi| Tim Search An...

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yaman berdampak ke Bencana Kemanusiaan yang Lebih Besar

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yama…

Yaman-KoPi| Persatuan Ban...

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cenderung Turun.

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cen…

Sleman-KoPi| Memasuki per...

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Cangkang Udang Menjadi Closet Sanitizer Berbahan 100% non Alkohol.

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Can…

Sleman-KoPi| Lima Mahasis...

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunung Merapi tidak di tutup Tapi kalau naik Gunung harap Waspada

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunu…

Sleman-KoPi| Gubernur Dae...

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Berfokus Pada 4 Potensi Kerawanan saat Lebaran.

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Ber…

Sleman-KoPi| Kepolisian D...

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Menghabiskan Malam di  Hotel Berbintang Ketimbang di Hotel Melati.

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Meng…

Bantul-KoPi| Badan Pusat ...

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelaran Pertemuan Dengan Kim Jong.

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelar…

Washington-KoPi| Presid...

Prev Next

Misteri bayi-bayi di pondok pesantren

Beginilah salah satu cara memandikan bayi asuhan di ponpes tertentu di Sidoarjo Beginilah salah satu cara memandikan bayi asuhan di ponpes tertentu di Sidoarjo

Sidoarjo-KoPi | Pada tahun 2013 dari data Yayasan Yatim Mandiri jumlah anak yatim mencapai sekitar 3.176.642 anak. Yayasan-yayasan sosial termasuk pesantren sering berperan serta dalam menampung dan merawat mereka. Akan tetapi, benarkah semua yayasan tersebut benar-benar merawat dan melindung anak-anak yatim?

Anak-anak merupakan subyek yang mendapatkan perlindungan hukum dan negara. Selain itu tata nilai masyarakat Indonesia secara umum menempatkan kategori usia ini sebagai mahkluk lemah perlu perlindungan. Kabar kurang sedap muncul di media sosial dan media massa terkait tentang dugaan praktik penggunaan anak-anak balita yatim piatu sebagai pencari dana. Saat ini yang sedang menjadi perbincangan adalah Pesantren Millinium di Sidoarjo.

KoPi menemukan beberapa dokumen foto para balita yatim piatu di Pesantren Millinium yang menyedihkan. Warga sekitar yang memberi kesaksian menyebutkan bahwa pemilik pesantren cukup kaya dan mobil mewah. Apakah benar dana-dana donasi tersebut sungguh-sungguh digunakan untuk merawat para balita yatim? Pertanyaan tersebut muncul baik di sekitar lingkungan pesantren dan media sosial.

Salah seorang pengunjung yang memberi informasi kepada KoPi menggambarkan kondisi tempat tinggal untuk para balita yatim piatu tersebut terlihat tidak bersih. Satu orang harus mengasuh 10 balita di pesantren tersebut. Anehnya, pemilik pesantren bernama Gus Mad atau lengkapnya Muhammad Khoirul Sholeh Efendi melarang bayi-bayi diadopsi. KoPi belum berhasil melakukan wawancara dengan Gus Mad karena tidak ada di pesantren saat itu.

Anehnya, para balita tidak boleh diadopsi. Alasannya takut yang diadopsi hanya balita yang terlihat cantik atau tampan. 

"Ya gitu Mas, balita-balita tidak boleh diadopsi biar aman katanya."

Terkait dengan isu ini, Ketua Umum Badan Kerjasama Organisasi Wanita Jawa Timur (BKOW Jatim), Fatma Saifullah Yusuf, merasa prihatin. Jika isu penggunaan para balita yatim itu hanya untuk mencari donasi dan keuntungan pribadi maka hal tersebut melanggar hukum perlindungan anak dan nilai-nilai keislaman.

"Saya masih mendengar kabar itu dari perbincangan di media sosial dan koran. Mudah-mudahan tidak benar ya. Tapi jika memang benar dugaannya seperti itu (penggunaan balita untuk mencari donasi, red.) maka itu pelanggaran terhadap hukum legal dan nilai keislaman."

Fatma Saifullah Yusuf selama ini sering melakukan kegiatan kemanusiaan termasuk membangun jejaring donasi untuk pemberdayaan masyarakat dan para anak-anak yatim piatu. Dia merasa sangat sedih jika praktek eksploitasi anak atas nama apapun terjadi.

Sosiolog Universitas Airlangga, Novri Susan, menyarankan agar organisasi sipil pelindung hak wanita dan anak perlu melakukan investigasi pada kasus di pesantren Millinium. 

"Eksploitasi terhadap anak-anak itu merupakan kejahatan. Pemerintah dan organisasi-organisasi sipil harus melakukan investigasi. Jika benar terjadi maka perlu pemberian sanksi."

Novri juga melihat kontrol terhadap lembaga-lembaga sosial, termasuk penampungan anak-anak yatim piatu, perlu makin ditingkatkan. Tidak saja pengawasan dari pemerintah, namun juga dari masyarakat sendiri. | YP

 

back to top