Menu
Pakde Karwo: Antara Operator dan Regulator Transportasi Tidak Bisa Dipisahkan

Pakde Karwo: Antara Operator dan Re…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres dan Cawapres

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres …

Lembah Tidar-KoPi| Senin ...

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu melaksanakan Out Bound

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu mela…

Lembah Tidar-KoPi| Minggu...

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program Kampus Sehat dan Bebas Asap Rokok

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program …

Jogja-KoPi| Departemen Te...

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalitas Kayu

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalita…

Bantul-KoPi| Tim Pengabdi...

Pakar UGM Ajak Masyarakat Memanen Air Hujan

Pakar UGM Ajak Masyarakat Memanen A…

Jogja-KoPi| Pakar Hidrolo...

BKP: Indonesia Fokus Pada Peningkatan Kompetitifitas Produk Agrikultur

BKP: Indonesia Fokus Pada Peningkat…

Bantul-KoPI|Pada tahun 20...

UNIVERSITAS MENYAMBUT R.I KEEMPAT

UNIVERSITAS MENYAMBUT R.I KEEMPAT

Oleh Moh. Mudzakkir(Dosen...

Pakde Karwo : 2/3 Perguruan Tinggi Swasta Sumbangkan Kaum Intelektual di Jatim

Pakde Karwo : 2/3 Perguruan Tinggi …

Surabaya-KoPi| Sebanyak 2...

Pengungsi Korban Gempa di Gumantar Banyak Terserang Ispa

Pengungsi Korban Gempa di Gumantar …

Lombok-KoPi| Sebanyak 30 ...

Prev Next

Misteri bayi-bayi di pondok pesantren

Beginilah salah satu cara memandikan bayi asuhan di ponpes tertentu di Sidoarjo Beginilah salah satu cara memandikan bayi asuhan di ponpes tertentu di Sidoarjo

Sidoarjo-KoPi | Pada tahun 2013 dari data Yayasan Yatim Mandiri jumlah anak yatim mencapai sekitar 3.176.642 anak. Yayasan-yayasan sosial termasuk pesantren sering berperan serta dalam menampung dan merawat mereka. Akan tetapi, benarkah semua yayasan tersebut benar-benar merawat dan melindung anak-anak yatim?

Anak-anak merupakan subyek yang mendapatkan perlindungan hukum dan negara. Selain itu tata nilai masyarakat Indonesia secara umum menempatkan kategori usia ini sebagai mahkluk lemah perlu perlindungan. Kabar kurang sedap muncul di media sosial dan media massa terkait tentang dugaan praktik penggunaan anak-anak balita yatim piatu sebagai pencari dana. Saat ini yang sedang menjadi perbincangan adalah Pesantren Millinium di Sidoarjo.

KoPi menemukan beberapa dokumen foto para balita yatim piatu di Pesantren Millinium yang menyedihkan. Warga sekitar yang memberi kesaksian menyebutkan bahwa pemilik pesantren cukup kaya dan mobil mewah. Apakah benar dana-dana donasi tersebut sungguh-sungguh digunakan untuk merawat para balita yatim? Pertanyaan tersebut muncul baik di sekitar lingkungan pesantren dan media sosial.

Salah seorang pengunjung yang memberi informasi kepada KoPi menggambarkan kondisi tempat tinggal untuk para balita yatim piatu tersebut terlihat tidak bersih. Satu orang harus mengasuh 10 balita di pesantren tersebut. Anehnya, pemilik pesantren bernama Gus Mad atau lengkapnya Muhammad Khoirul Sholeh Efendi melarang bayi-bayi diadopsi. KoPi belum berhasil melakukan wawancara dengan Gus Mad karena tidak ada di pesantren saat itu.

Anehnya, para balita tidak boleh diadopsi. Alasannya takut yang diadopsi hanya balita yang terlihat cantik atau tampan. 

"Ya gitu Mas, balita-balita tidak boleh diadopsi biar aman katanya."

Terkait dengan isu ini, Ketua Umum Badan Kerjasama Organisasi Wanita Jawa Timur (BKOW Jatim), Fatma Saifullah Yusuf, merasa prihatin. Jika isu penggunaan para balita yatim itu hanya untuk mencari donasi dan keuntungan pribadi maka hal tersebut melanggar hukum perlindungan anak dan nilai-nilai keislaman.

"Saya masih mendengar kabar itu dari perbincangan di media sosial dan koran. Mudah-mudahan tidak benar ya. Tapi jika memang benar dugaannya seperti itu (penggunaan balita untuk mencari donasi, red.) maka itu pelanggaran terhadap hukum legal dan nilai keislaman."

Fatma Saifullah Yusuf selama ini sering melakukan kegiatan kemanusiaan termasuk membangun jejaring donasi untuk pemberdayaan masyarakat dan para anak-anak yatim piatu. Dia merasa sangat sedih jika praktek eksploitasi anak atas nama apapun terjadi.

Sosiolog Universitas Airlangga, Novri Susan, menyarankan agar organisasi sipil pelindung hak wanita dan anak perlu melakukan investigasi pada kasus di pesantren Millinium. 

"Eksploitasi terhadap anak-anak itu merupakan kejahatan. Pemerintah dan organisasi-organisasi sipil harus melakukan investigasi. Jika benar terjadi maka perlu pemberian sanksi."

Novri juga melihat kontrol terhadap lembaga-lembaga sosial, termasuk penampungan anak-anak yatim piatu, perlu makin ditingkatkan. Tidak saja pengawasan dari pemerintah, namun juga dari masyarakat sendiri. | YP

 

back to top