Menu
Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata Pantai Selatan

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata…

Jogja-KoPi| Tim Search An...

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yaman berdampak ke Bencana Kemanusiaan yang Lebih Besar

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yama…

Yaman-KoPi| Persatuan Ban...

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cenderung Turun.

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cen…

Sleman-KoPi| Memasuki per...

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Cangkang Udang Menjadi Closet Sanitizer Berbahan 100% non Alkohol.

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Can…

Sleman-KoPi| Lima Mahasis...

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunung Merapi tidak di tutup Tapi kalau naik Gunung harap Waspada

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunu…

Sleman-KoPi| Gubernur Dae...

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Berfokus Pada 4 Potensi Kerawanan saat Lebaran.

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Ber…

Sleman-KoPi| Kepolisian D...

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Menghabiskan Malam di  Hotel Berbintang Ketimbang di Hotel Melati.

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Meng…

Bantul-KoPi| Badan Pusat ...

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelaran Pertemuan Dengan Kim Jong.

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelar…

Washington-KoPi| Presid...

Polda DIY Gagalkan Operasi Peredaran Tembakau Gorila di Yogyakarta.

Polda DIY Gagalkan Operasi Peredara…

Sleman-kopi| Direktorat R...

Keamanan di Bandara Adi Sutjipto Ketat Dengan Terjunnya 29 Ekor Anjing Pelacak dan Body Scanner.

Keamanan di Bandara Adi Sutjipto Ke…

Sleman-KoPi| Komandan sat...

Prev Next

Mila Rosinta dalam tafsir "Kaca Rasa"

Mila Rosinta dalam tafsir "Kaca Rasa"

Mila Rosinta. Meliuk dalam siluet yang sama-samar, pada irama cahaya yang pendar. Ia,  dilahirkan dalam takdir yang menari-nari. Tubuhnya bergerak seperti gelombang, daun-daun yang bergoyang,  cantiknya bunga-bunga dan keresahan angin malam. Panggung bergetar dan berkilat oleh peluh yang berjatuhan. Api menyala dan padam, tapi setiap hati terbakar oleh pesona, tafsir yang terbuka dari liuk dan kaca-kaca yang tiba-tiba memantulkan setiap diri.

Di sudut kamar, suatu ketika – di masa kecil. Mila Rosinta anak dari garis Totoadmojo, menatap cermin. Ia melihat dirinya yang cantik. Dan seperti Narsisus, ia terpesona pada dirinya yang sempurna. Setiap garis di wajahnya adalah pahatan yang menawan. Terpesona dan mencandunya, maka,  setiap pagi atau malam, ia berkaca. Berdiri melihat diri sebagai fisik. Tak rela dan tak boleh apapun mengambilnya. Pada waktu itu ia seorang Narsisus yang terkurung pada jiwanya sendiri. Ia menari dalam irama sepi, langkah-langkah kecilnya menggema dalam pantulan sepi.

Bertahun-tahun kemudian, dalam penjara Narsisus yang mulai terbuka – ia melihat cahaya yang berbeda memancar dari retaknya kaca-kaca. Semula ia melihat dirinya telanjang dan berangsur-angsur berkemben –dan sesaat kemudian menjadi binatang yang liar. Ia pun melihat pelbagai pantulan cermin yang berbeda. Setiap langkahnya yang disetir hati, digagas nalar memberinya gambar berbeda. Ada kemunafikan, ada keliaran, ada ketulusan, kadang kemurkaan atau kerakusan juga kedermawanan. Ia melihat pula orang-orang sebagai dirinya. Dirinya menjadi siapa saja. Ia menjadi pusat segala yang melihat alam semesta. Sebuah dunia makro kosmos dalam ruang jiwanya yang sembunyi.

Kaca-kaca adalah rasa. Rasa setiap manusia yang menjadi akar sebab-akibat. Memantulkan setiap tindakan hati. Setiap tindakan yang berakibat pada nilai-nilai diri dan orang lain. Dari tindakan menjadi nilai dan peradaban. Setiap rasa yang baik membentuk tatanan kebudayaan, kesadaran lingkungan, keadilan sosial. Namun setiap rasa yang negatif memantulkan kerusakan tatanan semesta. Konflik, penjajahan, peperangan, korupsi dan kriminalitas. Setiap orang membawa kaca yang memantulkan akibat-akibatnya. Itulah ‘ Berkaca Pada Rasa’. Ia melihat dalam kaca-kaca, merumuskannya dalam bahasa gerak. Memukau selera estestis dan sekaligus etika penikmatnya.

Biografi kecil

Mila Rosinta. Lahir di Jakarta 15 Mei 1989 dari rahim Endang Sukeksi. Ayahnya, Sudarwoto dari garis Totoadmojo. Dilahirkan dalam takdir yang sempurna, ia menari sejak usia tujuh tahun. Di usia-usia yang muda dan polos, ia pun menciptakan pelbagai gerak tari yang memukau guru-gurunya dan penonton dalam sebuah acara ketika ia sekolah menengah pertama.

Ketika melanjutkan sekolah menengah atas di SMU Negeri 9 Yogyakarta,ia berangkat ke Jepang dalam sebuah pertukaran pelajar. Di Negeri Sakura, ia melihat dunia yang terbuka dan semakin yakin dengan takdirnya. Meskipun begitu, jalan simpang yang dilematis pernah ia rasakan. Seperti seharusnya ia berada di sekolah mana untuk mengantarnya pada masa depan yang misteri. Institut Seni Indonesia Yogyakarta, lantas menjadi pilihannya hingga pasca sarjana. Di sekolah seni ini, ia menempa dirinya dalam disiplin penciptaan seni tari. Selain itu, ia pun menerima beasiswa untuk belajar di Tembi Dance Company.

Mila Rosinta. Dengan menari ia berkeliling dunia. Menyebarkan dan mengabarkan kebudayaan Indonesia pada masyarakat internasional. Karya-karya diantaranya Srimpi Kawung (2009), The Chair (2010), Kawung Kontemporer (2011), Dream (2011), The Entrapment dan The Beginning, Lingga Yoni (2011). “Berkaca Pada Rasa” telah membawanya ke banyak peristiwa budaya dunia. Mila Rosinta, tubuhnya,adalah pesona Indonesia. Dan, ia, layak untuk itu.

back to top