Menu
Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Doa bersama Memperingati Hari Kesaktian Pancasila di Masjid Al-Jihad Akmil Magelang

Doa bersama Memperingati Hari Kesak…

KoPi-Lembah Tidar. Minggu...

Prev Next

Merintis negara dari kamar kos – Heroes’ Trail (1): Rumah HOS Tjokroaminoto

Merintis negara dari kamar kos – Heroes’ Trail (1): Rumah HOS Tjokroaminoto
Pengantar: November selalu diasosiaikan dengan bulan pahlawan dan perjuangan, karena Hari Pahlawan yang selalu diperingati pada 10 November. Di bulan pahlawan ini, melalui wisata sejarah dan heritage, Koran Opini akan menusuri jejak pahlawan – Heroes’ Trail – di Kota Pahlawan, Surabaya.
Surabaya – KoPi. Rumah kecil di Peneleh Gang VII itu kecil saja, tidak ada bedanya dengan rumah-rumah lain di sekitarnya. Hanya ada penanda yang membedakan rumah bercat hijau dan putih itu dengan rumah yang lain, penanda bahwa bangunan tersebut termasuk cagar budaya yang dilindungi pemerintah. 

Itulah rumah Hadji Oemar Said Tjokroaminoto. Pahlawan nasional, saudagar, bangsawan Jawa, nasionalis, sosialis, pemimpin Sarekat Islam, guru bangsa. Pemerintah kolonial Belanda menjulukinya Raja Tanpa Mahkota. Meski pemegang teguh nasionalisme sejati, ia juga seorang sosialis sekaligus menjunjung tinggi nilai-nilai Islam.

Di rumah inilah cikal bakal berdirinya Republik Indonesia. Betapa tidak, tokoh-tokoh bangsa memulai pemikiran tentang Indonesia di rumah ini. Ketika bersekolah di Surabaya, Soekarno, Muso, dan Kartosoewirjo indekos di rumah HOS Tjokroaminoto. Di situ pulalah mereka mendapat gemblengan mengenai kebangsaan dan pemikiran tentang kemerdekaan Indonesia.

Mereka bertiga mewarnai sejarah Indonesia. Meski memiliki guru yang sama, ketiganya menganut pandangan yang sama sekali berbeda. Soekarno memegang teguh nasionalisme, Muso setia dengan sosialisme, dan Kartosoewirjo yakin pada ajaran Islam. Dan seperti apa kata sejarah, ketiganya akhirnya memilih jalan berbeda, dan dengan caranya masing-masing mereka menorehkan catatan pada perjalanan sejarah Republik ini.

Di rumah ini pula, segala pemikiran progresif pada masa itu ditumbuhkan. Tidak memandang suku, siapa pun akan terkesima pada pemikiran Tjokroaminoto. “Kalau diskusi sudah dimulai, semua orang Indonesia, entah itu Jawa, Cina, Sumatera, Ambon, Maluku, Bugis, semua keluar berkumpul jadi satu di rumah ini,” tutur Eko Hadiratno, ketua RT yang menjadi pengurus rumah tersebut.

Rumah ini terletak di gang sempit yang tidak cukup dilewati oleh mobil. Saat menjadi tempat kos bagi Soekarno, ada 10 kamar yang diisi oleh 20 orang. Mereka menempati loteng rumah yang dijadikan kamar kos. Soekarno menuliskan keadaan rumah kos tersebut, “Kamarku tidak pakai jendela sama sekali... Di dalam sangat gelap, sehingga aku terpaksa menghidupkan lampu terus-menerus sekalipun di siang hari. Tidak ada kasur, juga tidak ada bantal.”

Rumah ini sempat hilang jejaknya pada masa pemerintahan Orde Baru. Rumah ini sempat dijadikan kos-kosan untuk mahasiswa, dan kemudian kosong tidak terurus. Baru pada tahun 1996 Sukmawati, salah seorang putri Soekarno menemukan rumah tersebut dan mengungkapkan bahwa rumah tersebut milik HOS Tjokroaminoto. Sebelumnya, warga sekitar selalu mengira rumah tersebut milik Soekarno.

“Dulu warga sini tahunya Bung Karno titip agar rumah itu dijaga. Pada masa Orde Baru, jangankan rumah Bung Karno, punya fotonya saja mungkin sudah ditangkap, dianggap PKI. Makanya orang tidak berani koar-koar kalau ini rumah Bung Karno. Setelah Bu Sukma membuka fakta sejarah, ternyata baru jelas kalau ini rumah milik HOS Tjokroaminoto, bukan rumah Bung Karno,” cerita Eko.

Sejak saat itu, pemerintah Surabaya mulai menaruh perhatian terhadap rumah tersebut dan mulai merenovasinya. Namun sayang, renovasi tersebut justru membuat perabot asli dalam rumah itu hilang. Padahal, barang-barang tersebut sudah ada sejak HOS Tjokroaminoto masih hidup.

“Waktu direnovasi, ada orang-orang pakai seragam dan bawa mobil plat merah mengangkut barang-barang itu. Katanya untuk disimpan di gudang. Kami pikir betul dari Pemkot. Tapi setelah kami dan ahli waris cek, tidak ada tanda terimanya, barang-barang itu tidak pernah masuk gudang Pemkot,” ujar Eko.

Eko juga mengatakan, rumah ini kemungkinan jauh lebih luas. Pada waktu renovasi oleh pemerintah, tim ahli menemukan bahwa ada sambungan jendela di tembok belakang. Selain itu, ada sebuah foto lama yang menunjukkan Soekarno bersantai di bawah pohon belimbing di dekat kamar mandi belakang. Namun saat ini halaman belakang itu telah lenyap, berganti menjadi bangunan sekolah dasar. 

Di tempat ini pula saat ini lahir kembali gagasan tentang kuliah kebangsaan di masa modern. Sama seperti pada masa Tjokroaminoto, generasi muda Surabaya merenung dan mendapat pencerahan di rumah ini. Mereka mulai membangkitkan kembali semangat tentang kebangsaan dan membuat forum atau kuliah kebangsaan. 

Basis Susilo, Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga, misalnya sempat termenung lama di rumah ini. Dia berkata selama ini di FISIP Unair ada kuliah kebangsaan, namun belum pernah sekalipun ia mengunjungi rumah ini. Akhirnya pada tahun 2012, Basis menggelar kuliah kebangsaan untuk rakyat dan mahasiswa di depan rumah tersebut, dengan dipandu stasiun TV lokal. Adrian Perkasa, salah seorang dosen FISIP Unair, juga sempat beberapa kali menggelar diskusi kebangsaan di rumah tersebut. 

Selain itu, di rumah ini rutin digelar penguatan kebangsaan untuk siswa SD, dengan pembicara Walikota Surabaya Tri Rismaharini. Eko berharap, acara kebangsaan rutin tersebut lebih dinaikkan skalanya, bukan untuk siswa SD, tetapi untuk mahasiswa dan masyarakat umum secara luas. “Agar masyarakat kecil itu lebih dekat dan lebih paham kepada pemikiran kebangsaan. Biar tidak terjadi lagi konflik-konflik,” tuturnya.

Tidak hanya akademisi, Tjorkroaminoto juga memberi pengaruhnya pada seni. Sutradara Garin Nugroho mengangkat film berdasar pada kehidupan HOS Tjokroaminoto. Meski tidak melakukan syuting langsung di rumah tersebut, Garin membuat set yang sama persis dengan rumah HOS Tjokroaminoto di studionya di Yogyakarta.

Itulah Tjokroaminoto, guru yang ajarannya tetap "menyirep" anak bangsa hingga melintas dimensi waktu dan ruang.

Reporter: Amanullah Ginanjar Wicaksono

 

back to top