Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

Merekomendasikan susu formula, komitmen dokter anak di Surabaya lemah

Merekomendasikan susu formula, komitmen dokter anak di Surabaya lemah

KoPi| ASI adalah asupan nutrisi penting dalam masa pertumbuhan bayi. Bagi ibu, memberi ASI akan mempererat ikatan batin dengan sang buah hati. Sosialisasi tentang pentingnya pemberian ASI kepada bayi memang sudah dilakukan. Berbagai macam program untuk mendorong angka pemberian ASI eksklusif pada bayi pun telah dilakukan agar tercipta generasi emas. Namun sayang, impian mulia tersebut ternoda oleh perilaku segelintir dokter yang tidak peduli dengan masa depan generasi penerus bangsa ini.

 

Dalam melindungi generasi penerusnya dari gempuran susu formula, Indonesia justru menjadi negara yang menjadi pasar yang "nikmat" bagi pemasaran susu formula. Di Kota Surabaya sendiri, susu formula dapat dengan mudah dijumpai di tiap sudut toko swalayan bahkan apotek. Celakanya, tidak jarang pula di temui adanya produk susu formula di rumah sakit tempat para ibu bersalin. Para Dokter anak yang mengetahui hadirnya susu formula di rumah sakit tempat mereka bekerja seakan menutup mata dengan kondisi tersebut. Bahkan beberapa di antara mereka justru turut mempromosikan susu formula dengan merk tertentu kepada ibu setelah melahirkan.

Berdasarkan Survey yang dilakukan oleh Proyeksi Indonesia (PI) terhadap 200 ibu di Kota Surabaya, diketahui sebesar 40% ibu menjawab bahwa dokter anak pernah merekomendasikan menggunakan susu formula meskipun tidak menyebutkan produk dengan merk tertentu. Kondisi tersebut sangat memprihatinkan, Dokter yang seharusnya paham tentang dampak buruk pemberian susu formula pada bayi, justru menjadi pendorong agar ibu memberi susu formula kepada bayinya.

Selain itu, berdasarkan hasil Survey tersebut diketahui pula sebesar 31.5% ibu menjawab bahwa Dokter anak yang ada di Kota Surabaya mempromosikan susu formula merk tertentu. Menyebutkan merk tertentu ataupun tidak, para Dokter anak tersebut telah menodai harapan dari para ibu untuk melihat buah hatinya tumbuh optimal, sehat, dan cerdas. 

Banyaknya Dokter yang mempromosikan susu formula kepada para ibu merupakan cermin lemahnya komitmen para Dokter anak tersebut untuk menciptakan generasi emas. Di sisi lain, ibu juga tidak boleh mudah percaya terhadap anjuran dokter untuk menggunakan susu formula bagi bayi. Selalu bertanya dan mencari informasi merupakan kunci penting dalam masa pertumbuhan sang buah hati.

Dokter Dini Adityarini, dokter spesialis anak yang aktif mengkampanyekan ASI, menyatakan bahwa merekomendasi susu formula telah melanggar etika dan peraturan bagi dokter.

"Selama ini rekomendasi penggunaan susu formula dilakukan tanpa suara gaduh, namun sesungguhnya terlihat jelas. Sayang sekali pemerintah tidak peduli hal ini melalui penegakan regulasi." Jelas dokter Dini. ***

Reporter : Aditya Lesmana

back to top