Menu
Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Doa bersama Memperingati Hari Kesaktian Pancasila di Masjid Al-Jihad Akmil Magelang

Doa bersama Memperingati Hari Kesak…

KoPi-Lembah Tidar. Minggu...

Prev Next

Meredam Raksasa Pembunuh Manusia

Meredam Raksasa Pembunuh Manusia

India-KoPi|Dataran tinggi Valparai adalah wilayah dalam India Selatan yang penduduknya hidup dalam ketakukan karena sering bertemu dengan raksasa dalam gelap. Setiap senja, para pemetik teh dan kopi berlari untuk pulang ke rumah masing- masing setelah menuntaskan tugas mereka.         

“Mereka takut, jika saya hidup disana juga mungkin saya akan ketakutan.” Kata penggiat konservasi Dr. Ananda Kumar yang menciptakan system peingatan SMS untuk membantu pekerja tetap hidup dengan aman diantara gajah-gajah.

Pada hari Rabu lalu, karyanya memenangkan $35.000 whitley Award yang dijuluki sebagai “Green Oscar”.

Dataran tinggi Valparai, India adalah dataran tinggi yang banyak ditanami kopi dan teh oleh perusahaan-perusahaan besar, terdapat kurang lebih 70.000 pekerja yang hidup dikelilingi oleh bukit hutan Anamalai.

Namun, sekitar 2.000 gajah yang menghuni bukit tidaklah mengakui klaim dari perusahaan, setiap tahun sekitar 100 gajah menggunakan perkebunan sebagai jalur melintas menuju bagian lain dari hutan hujan disana.

“Ini alamiah terjadi, perkebunan ini bagian dari rumah mereka, mereka adalah penduduk asli yang kalah karena eksploitasi perusahaan.”Kata Kumar, yang menghabiskan satu dekade ini untuk membuat sistem pesan teks dan sensor peringatan yang bisa melacak gajah jika mereka melalui kebun teh.

“Gajah bisa sangat berbahaya, jika mereka terkejut atau terancam. Masalahnya terkadang orang tidak menyadari ada gajah diam disekitarnya.” Lanjutnya.
"Dari 41 kematian, 36 orang tidak tahu ada gajah. Jika orang-orang ini sudah tahu tentang lokasi gajah ', semua orang akan hidup, "kata Kumar.

"Bahkan tempat tinggal manusia juga diamuk oleh gajah. Terkadang tiba-tiba mereka berlari menuju dapur. Jelas mereka mencari [makanan]. Tentu saja orang yang sedang berada di rumah sangat ketakutan, dan ini menjadi sebuah pengalaman yang traumatis.”

Dalam satu dekade, sistem peringatan Kumar telah memotong tingkat kematian per tahun menjadi dari 3 hanya menjadi satu. Hal ini dilihat sebagai contoh dalam upaya mengatasi konflik antara gajah dan manusia.

Sebuah tim pelacak, yang disebut tim respon konflik, mengawasi gajah ketika mereka melalui dataran tinggi, mereka dibantu oleh Tamil Nadu pekerja departemen kehutanan dan informan lokal, yang bertindak sebagai pengintai tambahan untuk program. Informasi disampaikan melalui hotline, diawaki oleh Kumar serta rekan Ganesh. Hotline menerima lebih dari 1.000 panggilan setiap tahun, mereka memberikan alarm ketika gajah muncul di kawasan penduduk.

Ketika terlihat serombongan gajah, alert dikirim melalui pesan teks ke semua orang yang berada dalam beberapa kilometer dari lokasi gajah. Setiap malam, stasiun TV lokal menyiarkan lokasi semua gajah di dataran tinggi. Hal ini memungkinkan orang untuk lebih berhati-hati dalam merencanakan perjalanan mereka.

"Masyarakat setempat telah mengadopsi program ini. Pemerintah juga merespon positif. Ini adalah upaya kolektif yang benar-benar membuat situasi ‘win to win’ baik untuk gajah dan untuk orang-orang."kata Kumar. Bahkan insiden gajah yang merusak properti telah berkurang setengahnya

Kumar mengatakan program ini tidak berniat menghapus keberadaan gajah yang berbahaya tetapi membuat habitat yang aman bagi gajah dan manusia. Ia percaya persepsi gajah gila yang menjadi banyak perdebatan konflik gajah di India telah sepenuhnya ditolak oleh ilmu pengetahuan

"Tidak ada gajah yang bermasalah, yang ada hanya masalah lokasi," katanya.

Kumar dan tujuh konservasi akar rumput lainnya dari Afrika, Asia dan Amerika Selatan akan menerima penghargaan mereka dari Putri Anne dalam satu upacara di London yang diselenggarakan oleh naturalis televisi Kate Humble dan dihadiri oleh David Attenborough dalam perannya sebagai wali Whitley. Kumar mengatakan uang itu akan digunakan untuk mengeksplorasi bagaimana program yang telah bekerja sangat baik di Valparai dapat diperluas ke daerah lain.| Luthfia |



back to top