Menu
Pakde Karwo: Antara Operator dan Regulator Transportasi Tidak Bisa Dipisahkan

Pakde Karwo: Antara Operator dan Re…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres dan Cawapres

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres …

Lembah Tidar-KoPi| Senin ...

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu melaksanakan Out Bound

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu mela…

Lembah Tidar-KoPi| Minggu...

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program Kampus Sehat dan Bebas Asap Rokok

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program …

Jogja-KoPi| Departemen Te...

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalitas Kayu

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalita…

Bantul-KoPi| Tim Pengabdi...

Pakar UGM Ajak Masyarakat Memanen Air Hujan

Pakar UGM Ajak Masyarakat Memanen A…

Jogja-KoPi| Pakar Hidrolo...

BKP: Indonesia Fokus Pada Peningkatan Kompetitifitas Produk Agrikultur

BKP: Indonesia Fokus Pada Peningkat…

Bantul-KoPI|Pada tahun 20...

UNIVERSITAS MENYAMBUT R.I KEEMPAT

UNIVERSITAS MENYAMBUT R.I KEEMPAT

Oleh Moh. Mudzakkir(Dosen...

Pakde Karwo : 2/3 Perguruan Tinggi Swasta Sumbangkan Kaum Intelektual di Jatim

Pakde Karwo : 2/3 Perguruan Tinggi …

Surabaya-KoPi| Sebanyak 2...

Pengungsi Korban Gempa di Gumantar Banyak Terserang Ispa

Pengungsi Korban Gempa di Gumantar …

Lombok-KoPi| Sebanyak 30 ...

Prev Next

Merapi Naik ke Status Waspada, Gempa Tremor dan Vulkanik Sempat Muncul Saat Letusan Freaktif.

Jogja-KoPi|Setelah Gunung Merapi mengalami letusan freaktif berjumlah 4 kali dalam dua hari berturut, Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) menaikkan status gunung merapi menjadi waspada.
Keputusan inipun diambil setelah BPPTKG melihat diantara letusan, muncul gempa tremor dan gempa Vulkanik yang menjadi penanda munculnya aktifitas magma. Kepala BPPTKG, Hanik Humaida menjelaskan munculnya Gempa Tremor dan Gempa Vulkanik ini berada pada waktu letusan Senin (21/5) pukul 17.50 dengan durasi hembusan 3 menit. 
 
Namun demikian, setelah erupsi kemarin sore hingga selasa hari ini (22/5), pihaknya masih belum melihat adanya pergerakkan magma.
 
"Kemarin saat erupsi pukul 17.50 itu diikuti gempa tremor dan vulkanik, itulah yang jadi patokan kami menaikkan status. Saat ini belum ada pergerakan magma. Perkembangannya akan kita terus pantau," ujarnya saat ditemui di kantor Pusat pengendalian operasi penanggulangan bencana (Pusdalops PB) DIY.
 
Sebelumnya, pos-pos pemantauan BPPTKG melaporkan terjadi suara gemuruh bersamaan dengan erupsi freatik sebanyak tiga kali pada tanggal 21 Mei 2018 dan letusan freaktif kembali terjadi satu kali pada dinihari tanggal 22 Mei 2018. 
 
Waktu letusan masing-masing terjadi pada pukul 01.25 WIB durasi 19 menit dengan ketinggian kolom erupsi 700 m, pukul 09.38 WIB durasi 6 menit ketinggian kolom erupsi 1200 m, pukul 17.50 durasi 3 menit ketinggian kolom erupsi tidak teramati dan terakhir pada Selasa pukul 01.47 WIB dengan kolom 3500 m dan durasi 3 menit. 
 
Erupsi freatik yang terjadi pada tanggal 21 Mei 2018 terhitung intensif. Erupsi freatik sebelumnya terjadi pada tanggal 11 Mei 2018 setelah sekitar 4 tahun tidak terjadi letusan freatik.
 
Hanik pun menjelaskan Gempa Tremor ini menandai adanya fluida didalam gunung yang berusaha keluar ke permukaan. Biasanya, Fluida atau cairan ini keluar melalui pipa lava yang ada di Gunung berapi, dalam kasus Gunung Merapi, cairan keluar melalui pipa kepundan. 
 
Munculnya Gempa Tremor dan Gempa Vulkanik bisa menjadi pertanda akan adanya letusan besar. Meski demikian, peluang letusan besar baru bisa dilihat setelah terjadi deformasi di Gunung Merapi. Hanik pun belum melihat adanya deformasi di Gunung Merapi pasca erupsi kemarin. 
 
"Belum ada tanda-tanda munculnya material baru yang dikeluarkan Gunung dan tidak ada pula deformasi di Gunung Merapi seusai erupsi,"jelasnya
 
Staff ahli Geologi, BPPTKG Dewi Sri pun memaparkan erupsi freaktif terkadang terjadi secara berkelanjutan. Pada erupsi kemarin, pola letusan terjadi setiap 8 jam sekali. Namun pola ini belum menjadi kepastian waktu letusan freaktif Gunung Merapi.
 
"Ini hanya terjadi kemarin, saat ini Merapi tidak menunjukkan aktifitas se intensif seperti kemarin," tutur Dewi.
 
Berkaitan tentang peningkatan status ke waspada, Hanik pun mengimbuhkan bahwa warga yang berada di kawasan rawan bencana (KRB) III tidak perlu sampai mengungsi. Warga perlu mewaspadai kondisi Gunung Merapi jika meningkat sewaktu-waktu. 
 
"Warga baru mulai mengungsi jika status sudah naik ke siaga dan awas. Pengungsian total saat  jika merapi sudah naik ke status awas," imbuh Hanik.
 
Melihat peningkatan status Gunung Merapi/G.Merapi BPPTKG pun mengeluarkan rekomendasi sebagai berikut :
 
1.    Kegiatan pendakian G. Merapi untuk sementara tidak direkomendasikan kecuali untuk kepentingan penyelidikan dan penelitian berkaitan dengan
upaya mitigasi bencana
 
2.    Radius 3 km dari puncak agar dikosongkan dari aktivitas penduduk.
 
3.    Masyarakat yang tinggal di KRB III dimohon meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas G. Merapi. 
 
4.    Jika terjadi perubahan aktivitas G. Merapi yang signifikan maka status aktivitas G. Merapi akan segara ditinjau kembali.
 
5.    Masyarakat agar tidak terpancing isu-isu mengenai erupsi G. Merapi yang tidak jelas sumbernya dan tetap mengikuti arahan aparat pemerintah daerah.
back to top