Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Menunggu Pasar Keputran dimanusiakan

Situasi Pasar Keputran sehari-hari Situasi Pasar Keputran sehari-hari
Surabaya - KoPi | Kemacetan dan keruwetan adalah pemandangan sehari-hari yang bisa ditemui Pasar Keputran Surabaya. Sebagai salah satu pasar induk di Surabaya, pasar Keputran merupakan tempat berbagai komoditas diturunkan dan diangkut.
 

Mulai pagi hingga malam hari berbagai truk dan kendaraan angkut mendatangi pasar ini untuk menurunkan komoditas seperti sayuran, daging, dan telur. Selain itu, ada pula truk serta sepeda motor milik pedagang lokal yang menaikkan berbagai komoditas untuk diangkut ke tempat mereka berdagang. Akibatnya, setiap saat kawasan tersebut rawan macet. 

Belum lagi masalah kebersihan. Jika melewati pasar ini, bau sayuran dan sampah menjadi satu. Kadang ada sayuran yang jatuh dan terinjak kaki-kaki pedagang dan pengunjung, dan dibiarkan membusuk begitu saja di jalan. Akibatnya bau busuk tercium hingga ke jalan raya.

Pasar ini sebenarnya sudah pernah ditertibkan pada tahun 2010 lalu. Waktu itu pedagang membuka lapak hingga ke jalan-jalan di sekitar kawasan Keputran. Akibatnya jalan tersebut tidak dapat dilewati oleh kendaraan. Mereka juga berjualan hingga di tepi sungai, menambah permasalahan sampah di sungai Surabaya.

Setelah ditertibkan pada tahun 2010, tidak ada lagi pedagang yang berjualan hingga ke jalan-jalan di sekitar pasar. Namun hal itu tak berlangsung lama. Para pedagang kini kembali menggelar lapak mereka di pinggir jalan, meski hanya di depan pasar. Meski demikian, lapak pedagang dan arus penurunan barang di pasar menjadi sumber kemacetan di kawasan ini.

Hingga saat ini, PD Pasar Surya mengaku masih kesulitan menertibkan pedagang yang membuka lapak di luar pasar. Pengurus PD Pasar Surya mengatakan pedagang yang membuka lapak di luar pasar merupakan PKL dan tidak termasuk pedagang pasar Keputran. Mereka inilah yang setiap malam hingga dini hari selalu memenuhi ruas jalan Keputran.

Di satu sisi, aktivitas pedagang di malam hari hingga dini hari merupakan salah satu daya tarik pasar Keputran. Namun di sisi lain mereka menjadi sumber kemacetan dan menambah masalah kebersihan kota.

Suharti, salah seorang pedagang di Pasar Keputran mengaku dirinya termasuk yang ditertibkan Satpol PP pada 2010 lalu. Namun himpitan ekonomi memaksanya kembali menggelar lapak di pinggir jalan Keputran. 

"Kalau siang memang tidak boleh jualan di luar pasar, Mas. Tapi kalau sudah pukul 9.00 malam sampai pukul 5.00 pagi baru tidak apa-apa," ujarnya. Selama siang hari, ia biasa berjualan sayur di tangga menuju lantai 2. Suharti mengaku hanya bisa pasrah kalau nanti ditertibkan oleh Satpol PP. Namun ia yakin hal itu masih lama terjadi.

Wacana mengenai revitalisasi Pasar Keputran sudah mulai muncul di kalangan dewan. Sebagai pasar induk dan ikon kota Surabaya, revitalisasi tersebut perlu dilakukan untuk meningkatkan pendapatan masyarakat. Apalagi saat ini kondisi Pasar Keputran masih sangat lekat dengan stereotip pasar tradisional: kotor, berlumpur, dan bau. Sungguh kasihan pengunjung dan pedagang yang setiap hari menghadapi kondisi tersebut. Sudah waktunya mereka berbelanja selayaknya manusia.

back to top