Menu
UGM Kembangkan Aplikasi Informasi Pengungsi Korban Bencana

UGM Kembangkan Aplikasi Informasi P…

Sleman-KoPi | Pusat Studi...

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pendeteksi dini bencana longsor bernama SIPENDIL.

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pend…

Sleman-KoPi | Tim penelit...

Bagaimana menjaga pola makan yang baik dan benar selama bulan Puasa.

Bagaimana menjaga pola makan yang b…

Inggris-KoPi| Inilah saat...

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap gunakan Narkoba.

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap…

Sleman-KoPi| Direktorat R...

Korut tunda pertemuan KTT bersama Korea Selatan.

Korut tunda pertemuan KTT bersama K…

Pyongyang-KoPi | Korea ut...

Protes Keras Tanoni :Australia Bebaskan Nelayan Yang Ditangkap.

Protes Keras Tanoni :Australia Beba…

Kupang-KoPi | Pemerintah ...

Jelang Puasa, Stok Barang Kebutuhan Pokok di Jatim Dipastikan Aman

Jelang Puasa, Stok Barang Kebutuhan…

Surabaya-KoPi|Menjelang b...

Pemerintah Bantul Siap Dukung Kontes Robot Indonesia di UMY

Pemerintah Bantul Siap Dukung Konte…

Sleman-KoPi| Menjelang pe...

Tahun Politik, Akun Buzzer di Media Sosial Bermunculan

Tahun Politik, Akun Buzzer di Media…

Sleman-KoPi| Menjelang pi...

Prev Next

Menteri Kesehatan RI menekan biaya kesehatan dengan pelayan primer

Menteri Kesehatan RI menekan biaya kesehatan dengan pelayan primer

Jogja-KoPi│Pelayanan Kesehatan Primer (Primary Health Care) jadi salah satu solusi untuk mengurangi tingginya angka rujukan ke layanan sekunder (rumah sakit) Indonesia.

Menteri Kesehatan, Prof. Dr. dr. Nila Djuwita F. Moelok SpM (K), dalam International Seminar On Primary Care Medicine Indonesia to Strengthen The Universal Coverage (Jaminan Kesehatan Nasional-JKN-Indonesia) yang bertempat di Hotel Tentrem Yogyakarta (3/4), mengatakan bahwa perlu dilakukan penguatan pada pelayanan kesehatan primer untuk menekan biaya kesehatan serta untuk meningkatkan kesehatan masyarakat.

“Kita perlu perkuat pelayanan kesehatan primer, ini merupakan hal utama yang perlu kita kuatkan. Ketika jumlah masyarakat yang sakit berkurang maka biaya kesehatan akan menurun”, ujarnya.

Sementara itu, Indonesia sendiri masih fokus dalam meningkatkan layanan kesehatan sekunder (rumah sakit) yang banyak menghabiskan anggaran kesehatan negara dan berimbas pada banyaknya masyarakat yang berobat ke rumah sakit.

“Angka rujukan ke layanan sekunder di Indonesia sebesar 80%, padahal di dunia Internasional rata-rata angka rujukan ke layanan sekunder hanya 5%.”, jelas Prof. Dr. dr. Nila Djuwita F. Moelok SpM (K).

Untuk itu akan dilakukan penguatan pada 124 puskesmas yang ada di wilayah perbatasan dari 9754 puskesmas, gerakan masyarakat sehat, dan berbagai kegiatan lainnya sebagai langkah penguatan pelayanan kesehatan primer.

Pelayanan kesehatan primer (Primary Health Care) sendiri adalah pelayanan kesehatan esensial yang diselenggarakan berdasarkan tata cara dan teknologi praktis sesuai dengan kaedah ilmu pengetahuan serta diterima oleh masyarakat.
Dapat dicapai oleh perorangan dan keluarga dalam masyarakat melalui peran aktif secara penuh dengan biaya yang dipikul oleh masyarakat dan negara, untuk memelihara setiap tahap perkembangan serta didukung oleh semangat kemandirian dan menentukan diri sendiri.

Dokter tidak hanya mengobati tetapi bertugas sebagai advokad di bidang kesehatan bagi pasien.

“Dokter tidak hanya memberikan resep dan memberi obat, tetapi juga berinteraksi dengan pasien mengenai berbagai faktor munculnya penyakit, dampak penyakit bagi pasien dan keluarga. Dokter mampu menangani pasien secara komprehensif dengan cara promotive, preventive, curative, rehabilitative, dan palliative care”, jelas Prof. Dr. dr. Nila Djuwita F. Moelok SpM (K).

“Upaya promotive dan preventive yang dilakukan dalam pelayanan kesehatan primer dapat mencegah timbulnya penyakit, dan ketika pasien sakit dapat dirujuk dengan tepat sehingga akan mengurangi biaya kesehatan”, tambahnya.

 

back to top