Menu
Mendesa RI bersama Rektor UGM melepas 5.992 Peserta KKN PPM 2018 ke 34 Provinsi.

Mendesa RI bersama Rektor UGM melep…

 Sleman-KoPi| Rektor UG...

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata Pantai Selatan

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata…

Jogja-KoPi| Tim Search An...

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yaman berdampak ke Bencana Kemanusiaan yang Lebih Besar

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yama…

Yaman-KoPi| Persatuan Ban...

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cenderung Turun.

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cen…

Sleman-KoPi| Memasuki per...

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Cangkang Udang Menjadi Closet Sanitizer Berbahan 100% non Alkohol.

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Can…

Sleman-KoPi| Lima Mahasis...

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunung Merapi tidak di tutup Tapi kalau naik Gunung harap Waspada

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunu…

Sleman-KoPi| Gubernur Dae...

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Berfokus Pada 4 Potensi Kerawanan saat Lebaran.

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Ber…

Sleman-KoPi| Kepolisian D...

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Menghabiskan Malam di  Hotel Berbintang Ketimbang di Hotel Melati.

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Meng…

Bantul-KoPi| Badan Pusat ...

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelaran Pertemuan Dengan Kim Jong.

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelar…

Washington-KoPi| Presid...

Prev Next

Menteri Kesehatan RI menekan biaya kesehatan dengan pelayan primer

Menteri Kesehatan RI menekan biaya kesehatan dengan pelayan primer

Jogja-KoPi│Pelayanan Kesehatan Primer (Primary Health Care) jadi salah satu solusi untuk mengurangi tingginya angka rujukan ke layanan sekunder (rumah sakit) Indonesia.

Menteri Kesehatan, Prof. Dr. dr. Nila Djuwita F. Moelok SpM (K), dalam International Seminar On Primary Care Medicine Indonesia to Strengthen The Universal Coverage (Jaminan Kesehatan Nasional-JKN-Indonesia) yang bertempat di Hotel Tentrem Yogyakarta (3/4), mengatakan bahwa perlu dilakukan penguatan pada pelayanan kesehatan primer untuk menekan biaya kesehatan serta untuk meningkatkan kesehatan masyarakat.

“Kita perlu perkuat pelayanan kesehatan primer, ini merupakan hal utama yang perlu kita kuatkan. Ketika jumlah masyarakat yang sakit berkurang maka biaya kesehatan akan menurun”, ujarnya.

Sementara itu, Indonesia sendiri masih fokus dalam meningkatkan layanan kesehatan sekunder (rumah sakit) yang banyak menghabiskan anggaran kesehatan negara dan berimbas pada banyaknya masyarakat yang berobat ke rumah sakit.

“Angka rujukan ke layanan sekunder di Indonesia sebesar 80%, padahal di dunia Internasional rata-rata angka rujukan ke layanan sekunder hanya 5%.”, jelas Prof. Dr. dr. Nila Djuwita F. Moelok SpM (K).

Untuk itu akan dilakukan penguatan pada 124 puskesmas yang ada di wilayah perbatasan dari 9754 puskesmas, gerakan masyarakat sehat, dan berbagai kegiatan lainnya sebagai langkah penguatan pelayanan kesehatan primer.

Pelayanan kesehatan primer (Primary Health Care) sendiri adalah pelayanan kesehatan esensial yang diselenggarakan berdasarkan tata cara dan teknologi praktis sesuai dengan kaedah ilmu pengetahuan serta diterima oleh masyarakat.
Dapat dicapai oleh perorangan dan keluarga dalam masyarakat melalui peran aktif secara penuh dengan biaya yang dipikul oleh masyarakat dan negara, untuk memelihara setiap tahap perkembangan serta didukung oleh semangat kemandirian dan menentukan diri sendiri.

Dokter tidak hanya mengobati tetapi bertugas sebagai advokad di bidang kesehatan bagi pasien.

“Dokter tidak hanya memberikan resep dan memberi obat, tetapi juga berinteraksi dengan pasien mengenai berbagai faktor munculnya penyakit, dampak penyakit bagi pasien dan keluarga. Dokter mampu menangani pasien secara komprehensif dengan cara promotive, preventive, curative, rehabilitative, dan palliative care”, jelas Prof. Dr. dr. Nila Djuwita F. Moelok SpM (K).

“Upaya promotive dan preventive yang dilakukan dalam pelayanan kesehatan primer dapat mencegah timbulnya penyakit, dan ketika pasien sakit dapat dirujuk dengan tepat sehingga akan mengurangi biaya kesehatan”, tambahnya.

 

back to top