Menu
Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Empati dan Duka Cita AS kepada Korban dan Dampak Terorisme di Jatim

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Emp…

Jatim-KoPi| Gubernur Jati...

Pemerintah Bangun Industri Digital untuk Kurangi Kesenjangan Ekonomi

Pemerintah Bangun Industri Digital …

Sleman-KoPi| Pemerintah s...

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan Strategi Jatim Songsong Bonus Demografi  2019

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan …

Jatim-KoPi| Berbagai lang...

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Adanya Gejala Erupsi Seperti di Tahun 2010 dan 2006.

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Ad…

Jogja-KoPi| Balai Pen...

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana dan Diploma

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana d…

Sleman-KoPi| Universitas ...

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpangan Distribusi Gula Rafinasi

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpang…

Sleman-KoPi| Pasar gula d...

Gerakan Filantropi Islam Sebagai Deradikalisasi

Gerakan Filantropi Islam Sebagai De…

Sleman-KoPi| Dewasa ini, ...

Pakde Karwo: Kunci Perjuangan adalah Persatuan dan Kesatuan

Pakde Karwo: Kunci Perjuangan adala…

Jatim-KoPi| Salah satu ku...

Jaminan Kemerdekaan Kekuasaan Kehakiman Masih Berpusat Pada Institusi Bukan Hakim Secara Personal

Jaminan Kemerdekaan Kekuasaan Kehak…

Sleman-KoPi|Kemerdekaan k...

Prev Next

Menilai kualitas Jokowi sebagai capres RI 2014 (1)

Menilai kualitas Jokowi sebagai capres RI 2014 (1)

Praktik politik semasa menjabat sebagai Walikota Solo, Joko Widodo (Jokowi), mendapat perhatian publik nasional. Sebab sukses menciptakan pemerintahan kota yang demokratis dalam mengatasi konflik kebijakan perkotaan. Pada awal pemerintahannya periode 2005-2010, Joko Widodo berhasil melakukan relokasi PKL (pedagang kaki lima) setelah tiga pemerintahan sebelumnya gagal.

Proses pertemuan Joko Widodo dengan para PKL belangsung selama 54 kali pertemuan. Praktik politik Joko Widodo membuahkan hasil, kebijakan relokasi PKL berhasil dengan partisipasi aktif dari masyarakat PKL. Akibatnya Jokowi sukses memboyong ratusan PKL dari Banjarsari ke Pasar Klithikan di Semanggi.

Sejak keberhasilan relokasi PKL secara damai tersebut, Kota Solo dianggap sebagai kota yang paling sukses dalam pembangunan dan tata kotanya di Indonesia. Walikota yang telah terpilih dua kali masa jabatan walikota dari periode 2005-2010 dan periode 2010-2015 tersebut dikenal sangat aktif melakukan komunikasi politik langsung dengan masyarakat akar rumput dalam diskusi tatap muka untuk mencari jalan keluar atas konflik kebijakan-kebijakan yang dirumuskan oleh pemerintah kota.

Istilah populer praktik tersebut adalah blusukan. Pemerintahan Joko Widodo mempraktikkan proses komunikasi politik yang diskursif dengan masyarakat, relasi yang setara antara walikota dan masyarakat dan memberi unsur keberpihakan atas posisi lemah masyarakat.

Joko Widodo pun dipandang berani dalam menyarakan aspirasi masyarakat dalam kasus pembangunan kota yang diusulkan oleh struktur kekuasaan di atasnya, yaitu gubernur Jawa Tengah. Seperti pada kasus penolakan rencana pembangunan mall di lokasi bekas pabrik es Saripetojo oleh kelompok swasta yang didukung gubernur Jawa Tengah, Bibit Waluyo. Joko Widodo menggunakan dua alasan politik mendasar, pertama tentang perda tentang perlindungan pasar tradisional dan perlunya mendengar aspirasi masyarakat di sekitar lokasi pembangunan mall.

Pandangan Jokowi tersebut bersesuaian dengan beberapa demonstrasi kelompok-kelompok masyarakat yang menolak rencana pembangunan mall oleh gubernur Jateng karena akan mengganggu pasar tradisional. Praktik politik Jokowi tersebut cukup jarang ditemukan dalam pengalaman demokrasi lokal selama ini.

Pada September 2012, Jokowi memenangkan pertarungan dalam pilkada gubernur DKI Jakarta. Jokowi masih mempraktikkan blusukan. Selain itu, dia berupaya memperbaiki birokrasi dengan pengontrolan langsung terhadap perilaku pejabat-pejabat birokrasi pemerintahan. Praktik yang belum pernah dilakukan gubernur-gubernur sebelumnya. Jokowi berupaya menyelesaikan masalah kemacetan pada simpul-simpul lalu lintas di Jakarta. Wilayah Tanah Abang merupakan salah satu yang secara cepat ditangani dari masalah kemacetan, kesemrawutan, dan ketidakrapian para pedagang maupun pengguna lalu lintas.

Belum lima tahun pemerintahannya di DKI Jakarta, Jokowi maju sebagai salah satu capres RI dari PDI-Perjuangan. Pernyataan resmi dari Megawati melalui pesan tertulisnya menyebutkan bahwa Jokowi akan maju sebagai capres RI dari partai berlambang banteng moncong putih tersebut. Pertanyaannya, apakah pantas Jokowi meninggalkan Jakarta untuk maju sebagai capres RI 2014?***

 

*Litbang KoPi

back to top