Menu
Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata Pantai Selatan

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata…

Jogja-KoPi| Tim Search An...

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yaman berdampak ke Bencana Kemanusiaan yang Lebih Besar

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yama…

Yaman-KoPi| Persatuan Ban...

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cenderung Turun.

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cen…

Sleman-KoPi| Memasuki per...

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Cangkang Udang Menjadi Closet Sanitizer Berbahan 100% non Alkohol.

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Can…

Sleman-KoPi| Lima Mahasis...

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunung Merapi tidak di tutup Tapi kalau naik Gunung harap Waspada

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunu…

Sleman-KoPi| Gubernur Dae...

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Berfokus Pada 4 Potensi Kerawanan saat Lebaran.

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Ber…

Sleman-KoPi| Kepolisian D...

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Menghabiskan Malam di  Hotel Berbintang Ketimbang di Hotel Melati.

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Meng…

Bantul-KoPi| Badan Pusat ...

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelaran Pertemuan Dengan Kim Jong.

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelar…

Washington-KoPi| Presid...

Polda DIY Gagalkan Operasi Peredaran Tembakau Gorila di Yogyakarta.

Polda DIY Gagalkan Operasi Peredara…

Sleman-kopi| Direktorat R...

Keamanan di Bandara Adi Sutjipto Ketat Dengan Terjunnya 29 Ekor Anjing Pelacak dan Body Scanner.

Keamanan di Bandara Adi Sutjipto Ke…

Sleman-KoPi| Komandan sat...

Prev Next

Menikmati musim semi di Beijing

 temporarilylost.com temporarilylost.com

Mentari Meida


Mengunjungi Beijing, salah satu kota terpadat penduduknya di dunia, di musim semi, memiliki daya tarik tersendiri. Udara yang masih cukup dingin kala itu, tidak terlalu menjadi hambatan bagi saya. Di pagi hari dan menjelang petang suhu udara berkis arantara 7-9 derajat celcius, namun di siang hari bias mencapai 26 derajat celcius. Pada bulan April, Beijing sudah memasuki musim semi, namun local guide saya mengatakan, tiga hari sebelum tanggal kedatangan saya, salju masih sempat turun.

Perjalanan saya selama enam hari di kota Beijing di mulai dengan mengunjungi Hutong, salah satu kawasan kota tua di Beijing. Di antara lorong-lorong jalanan yang sempit, kita masih bias menyaksikan dari dekat kehidupan masyarakat di sana. Keberadaan Hutong sendiri diatur oleh pemerintah untuk mendukung pariwisata kota Beijing. Dengan melihat kawasan Hutong ini, kita bias melihat bahwa ilmu tata kota rakyat China sudah berkembang bagus sejak jaman dulu. Kita bias menggunakan Rickshaw, becak khas China, untuk berkeliling Hutong. Namun tarif yang dikenakan memang cukup mahal, sekitar 200 RMB atau setara Rp 300.000.

Hari berikutnya di Beijing saya mengunjungi Tiananmen Square, Forbidden City dan Summer Palace. Tiananmen Square adalah alun-alun yang terletak di tengah kota Beijing, persis berhadapan dengan Forbidden City. Nama Tiananmen sendiri diambil dari nama gerbang masuk yang ada di Forbidden City yang memiliki arti The Gate of Heavenly Peace. Luas Tiananmen Square yang mencapai  440.000 meter persegi menjadikannya sebagai alun-alun terbesar di dunia. Di tengahTiananmen Square dapat kita temui bangunan yang merupakan makam pemimpin besar komunis China, Mao Zedong.Sayangnya, sejak beberapa tahun lalu makam ini tertutup bagi turis asing.

Perjalanan dari Tiananmen Square dilanjutkan ke Forbidden City. Forbidden City atau yang dikenal sebagai “Kota Terlarang” ialah bekas istana kekaisaran China dan dijadikan tempat tinggal keluarga kaisar selama 500 tahun, dari jaman Dinasti Ming hingga dinasti Qing. Di jaman dahulu tidak ada orang yang bolehkeluar masuk komplek istana kecuali atas izin kaisar, sebab itulah disebutsebagai “Kota Terlarang”. Tahun 1987, Forbidden City terdaftar sebagai salah satu situs warisan dunia UNESCO, yang merupakan koleksi terbesar struktur kayu kuno di dunia.
Tempat berikut yang saya singgahi adalah Summer Palace.Tempat yang dibangun khusus bagi Kaisar untuk menikmati masa musim panas. Seperti ga dari luas tempat ini adalah danau. Meski katanya waktu yang paling bagus mengunjungi tempat ini adalah di musim panas, namun pada musim semi kita bias menyaksikan pohon-pohon dan bunga-bunga di sana bermekaran. Sangat beruntung sekali ketika saya mengunjungi Summer Palace, ada sebuah pohon Sakura yang sedang mekar dengan sempurna. Seluruh pohon berwarna pink. Ini merupakan pemandangan yang  langka, karena bunga ini tidak tumbuh di Indonesia.

Berkunjung ke Beijing tidak lengkap rasanya tanpa singgah di The Great Wall of China.  Bangunan yang dibangun selama tiga dinasti ini merupakan tembok raksasa buatan manusia yang terpanjang di dunia, dan termasuk salah satu dari tujuh keajaiban dunia. Panjang keseluruhanThe Great Wall of China adalah 8.851 km.  Namun dari tahun ke tahun,  tembok ini mengalami kerusakan, sebagian besar diakibatkan oleh pembangunan infrastruktur yang serampangan, pencurian artefak dan renovasi bagian-bagian tembok yang dilakukan sembarangan.

The Great Wall of China terbagi kedalam empat sector yaitu, Simatai, Bataling, Juyongguan, dan Mutianyu. Kali  ini saya berkesempatan untuk singgah di sector Juyongguan. Local Guide di sana mengatakan bahwa Juyongguan dan Bataling memang adalah sektor yang paling ramai dikunjungi wisatawan, karena di sector ini kita bias mendapatkan pemandangan yang paling bagus. Sementara di Simatai meski kita bisa mengunjungi titik tertinggi dari bagian tembok China yaitu pos jaga Wangjinglou dengan ketinggian 986 meter di atas permukaan laut, tapi jalanan menuju ke sana sangat curam dan menantang, memakan waktu sampai 2,5 jam dari kota Beijing.

Berlibur di Beijing ketika musim semi adalah waktu yang sangat tepat untuk mengunjungi Yuyuantan Plum Blossom Park .Bunga pohon ini dikenal sebagai Mei Hua (Plum Blossom) yang merupakan bunga nasional negara China. Dalam perayaan Imlek sering kali kita lihat replica bunga plastikMei Hua dijadikan sebagai hiasan. Mei Hua sering disebut sebagai bunga keberuntungan dan dianggap bias mendatangkan rejeki. Warna bunga ini juga merah jambu, namun bentuknya lebih kecil dan tidak bergerombol seperti Sakura yang saya lihat di Summer Palace.

Selama di Beijing saya berkesempatan mencoba kuliner khas di sana. Hidangan Bebek Peking yang terkenal itu sudah tentu menjadi target utama. Dan beruntung pula pada malam terakhir saya di sana, saya berkesempatan untuk menikmati hidangan khas Kaisar China masa lalu di Fang Shan Fan Zhuang Restaurant.  Restaurant yang terletak dalam komplek Bei Hai Park, merupakan taman yang sangat luas milik Kaisar China.

Mencoba jajanan khas di pinggir jalanjuga tidak ada salahnya, di Beijing ada banyak sekali penjual makanan ringan, mulai dari manisan hingga berbagai macam sate. Satu yang paling menarik perhatian saya adalah Bing Tang Hulu .Manisan ini sangat popular sekali, bahkan sering muncul di film-film China, terbuat dari sejenis buah Berry Merah (Shan Zha) yang ditusuk kebatang bamboo dan dilumuri karamel.
Secara keseluruhan Beijing sebagai ibukota, saya kira cukup pintar menata kotanya bagi pariwisata. Local Guide saya di sana mengatakan bahwa pemerintah melarang adanya pabrik di dalam kota Beijing. Begitu juga halnya dengan sepeda motor. Hal ini tentu saja menjadikan udara di sana terasa begitu bersih. Saya bahkan tidak pernah melihat adanya sampah di trotoar jalanan sedikit pun selama di sana. Ini seharusnya patut dicontoh oleh Jakarta. Satu-satunya masalah di Beijing, dan mungkin hampir di seluruh wilayah China saya kira adalah toilet umum. Parahnya minta ampun!

back to top