Menu
Gunung Merapi Berpeluang Alami Letusan Efusif Yang Aman.

Gunung Merapi Berpeluang Alami Letu…

Jogja-KoPi| Kepala Balai ...

BPPTKG: Merapi Masih Sangat Awal di Proses Magmatisnya.

BPPTKG: Merapi Masih Sangat Awal di…

Jogja-KoPi| Balai Penyeli...

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Empati dan Duka Cita AS kepada Korban dan Dampak Terorisme di Jatim

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Emp…

Jatim-KoPi| Gubernur Jati...

Pemerintah Bangun Industri Digital untuk Kurangi Kesenjangan Ekonomi

Pemerintah Bangun Industri Digital …

Sleman-KoPi| Pemerintah s...

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan Strategi Jatim Songsong Bonus Demografi  2019

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan …

Jatim-KoPi| Berbagai lang...

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Adanya Gejala Erupsi Seperti di Tahun 2010 dan 2006.

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Ad…

Jogja-KoPi| Balai Pen...

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana dan Diploma

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana d…

Sleman-KoPi| Universitas ...

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpangan Distribusi Gula Rafinasi

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpang…

Sleman-KoPi| Pasar gula d...

Gerakan Filantropi Islam Sebagai Deradikalisasi

Gerakan Filantropi Islam Sebagai De…

Sleman-KoPi| Dewasa ini, ...

Prev Next

MENGUNYAH KUE KEBANGKITAN

MENGUNYAH KUE KEBANGKITAN

Mendengar kata bangkit, saya teringat dua hal. Pertama, bagi masyarakat Madura, ‘bangkit’ merupakan sejenis kue yang disajikan pada saat lebaran tiba. Bahan baku utamanya adalah tepung dan mentega. Beragam rupa bentuknya. Ada yang berbentuk cinta, kotak-kotak, bulatan hingga segi tiga.

Menurut penuturan beberapa orang tua di sana, kue ‘bangkit’ bukanlah sekedar rasa. Tetapi, juga menyimpan sejuta makna. Sederhananya, ‘bangkit’ adalah memberi tanpa meminta. Sekalipun mereka diberi, tidak serta merta menolaknya. Tentu saja, selama kue ‘bangkit’ ini tidak mengandung racun mematikan seperti kopi sianida Jessica.

Kedua, saya teringat kata-kata dari WS Rendra. Katanya “kita ini dididik untuk memihak yang mana. Ilmu-ilmu yang diajarkan di sini akan menjadi alat pembebasan, ataukah alat penindasan ?”. Sayang, seorang presiden di negeri kita justru menyatakan bela sungkawanya secara terbuka kepada mbah Surip yang terkenal dengan syair lagunya “bangun lagi, tidur lagi. Bangun ... tidur lagi”. Tetapi, tidak dilakukannya kepada WS Rendra yang bait-bait puisinya dikenal ‘pedas’ terhadap rezim politik yang kebanyakan tidur mata hatinya.

Padahal, bangkit itu sederhana. Ketika hidup rakyatnya aman, tentram, dan sejahtera, maka makna bangkit telah tertera di sana. Sehingga, tanpa ada peringatan hari kebangkitan nasional pun, setiap hari kita telah menjalani kebangkitan. Memang, peringatan hari kebangkitan penting sebagai monumen sejarah. Sebagai pengingat bahwa bangsa ini berdiri tegak karena upaya kemerdekaan dari tangan rezim kolonial yang menindas itu direbut dengan susah payah. Disertai cucuran keringat, perasaan, dan air mata.

Tetapi, sudah berapa banyak air mata yang tercucur dari rezim penguasa kita ketika mereka melihat keadaan bangsanya hari ini ? Mungkin saja, tak terkira jumlahnya. Namun, sebagian besar rakyat akan menganggapnya sebagai air mata buaya. Benar tidaknya, hanyalah rakyat tertindas saja yang tahu. Dan, tentu saja tuhan yang maha tahu segalanya.

Rumah Hantu Kemanusiaan

Data menunjukkan bahwa jumlah penduduk yang beresiko terkena tindak kejahatan pada tahun 2014 sekitar 131 orang dari setiap 100 ribu penduduk. Angka ini bertambah menjadi 10 orang (total 140 orang) pada tahun berikutnya. Apabila diterjemahkan ke dalam satuan waktu, maka setiap 1 menit 29 detik terjadi satu praktik kejahatan yang menimpa penduduk Indonesia.

Mungkin saja satu jenis kejahatan itu tidak berarti apa-apa dibandingkan kasus korupsi atau kecurangan dalam ajang pilkada. Tetapi, satu kasus korupsi yang telah menyeret nama-nama besar dalam E-KTP lebih berbahaya daripada kasus pencurian ayam tetangga. Kecurangan pilkada melalui tipu muslihat para pemamah kuasa akan membuat banyak rakyat sengsara lima tahun lamanya.

Kejahatan, apapun bentuknya, menghancurkan kondisi kemanusiaan. Hannah Arendt dalam The human condition (1958) menyatakan bahwa kejahatan yang hadir ke dalam keseharian kita, baik nyata maupun melalui cerita, menjadikan kejahatan tampil sempurna. Sehingga, ia menjadi hantu-hantu bergentayangan di sekitar hidup kita. Kejahatan ini menggerogoti tidak hanya kemanusiaan melainkan juga kedamaian hidup berbangsa (humanness).

Tapi, kejahatan sekarang bisa dilacak akar politiknya. Di dalam The Origins of Totaliterianism (1951) Arendt mengatakan bahwa regim totaliterian ibarat rumah hantu. Sebagaimana rumah hantu bahwa di sana banyak tinggal kelompok setan yang menyeramkan. Berbagai peristiwa horor terus menjelma ke dalam imajinasi ketakutan dan kengerian (fearful imagination) yang terus-menerus disosialisasikan antar orang-orang sekitar.

Imajinasi ketakutan tersebut lantas memicu terjadinya ikatan politik yang mempertemukan tiga kekuatan besar: kelompok sosial keagamaan, dominasi partai politik, dan aparatus keamanan. Di negeri kita fenomena itu tampil dalam rezim orde baru. Lantas, mengapa belakangan banyak orang menginginkan kembali rezim totaliterian sambil menyitir kalimat dagelan: “Masih penak zaman toh”.

Tentu saja, keinginan mereka kembali pada masa lalu tak bisa dituduh sesat. Tetapi, sangat menyesatkan jika regim totaliterian yang menjadi akar kejahatan sosial politik di negeri kita dijadikan tolak ukur keberhasilan hidup berbangsa.

Hanya saja, sejak lama Arendt (1951) mengingatkan kita semua bahwa selama sistem politik mengabaikan kualitas keberadaan manusia sangat dimungkinkan regim totaliterian tampil ke dalam kemasan berdimensi ganda. Artinya, ia memiliki kemampuan menular dan menyelinap dalam waktu-waktu tertentu lalu hilang untuk mengelabui mangsanya. Mengapa demikian ? Matt Kaplan (2012), dalam Medusa’s Gaze and Vampire’s Bite mengatakan bahwa ancaman akan rasa aman, ketakutan kehilangan kabahagiaan, dan terampasnya kebebasan disebabkan tatapan medusa yang terstruktur.

Medusa merupakan salah satu tokoh mistis masyarakat Yunani. Perempuan cantik ini suka membaca buku. Karenanya, dia mengetahui banyak hal, bahkan, memiliki kemampuan meramalkan masa depan kehidupan manusia. Tetapi, dia dikutuk menjadi hantu menyeramkan. Rambutnya yang berkilauan berubah menjadi tumpukan ular berbisa. Matanya yang syahdu berubah menjadi tajam, memancarkan api kemarahan, dan mengandung sihir mematikan bagi siapa saja yang menatapnya.

Oleh karena itu, siapapun yang merasakan nikmatnya rezim totaliterian, maka mereka akan tergoda menggunakannya kembali. Dengan begitu, hukum bisa dimanipulasi, suara kritik dibungkam, penggusuran dianggap kebijakan, dan pemodal serakah dibiarkan menjarah kemanusiaan. Maka, tak ada jalan apapun selain bergerak bersama sembari memekikkan kata: bangkit!. Tentu, bukan bangkit sejenak, lalu tidur lagi. Daripada demikian, lebih baik mengunyah kue ‘bangkit’ saja kawan. Mau ?

 

 

back to top